Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur mengidentifikasi temuan satu pasien yang menjalani perawatan di RSUD dr Soetomo Surabaya, Jawa Timur, positif terinfeksi Hantavirus.
Dokter Erwin Astha Triyono Kepala Dinkes Jatim mengatakan, temuan tersebut berdasarkan analisa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dari bulan Januari 2026.
Awalnya, satu pasien tersebut didiagnosa terkena penyakit Zoonosis Leptospira dan mengalami gejala demam sampai kekuningan.
Menurut acuan Kemenkes, pasien dengan gejala tersebut wajib dilakukan pemeriksaan Hantavirus.
Sesudah dilakukan pemeriksaan di Laboratorium Kemenkes, pasien tersebut ternyata positif Hantavirus.
“Sebetulnya pasien itu terdiagnosis Leptospira. Kemudian, karena demam dan kuning, sama Menteri Kesehatan didorong untuk pemeriksaan Hantavirus dan ternyata positif,” ujarnya ditemui di RSIA IBI Surabaya, Rabu (13/5/2026).
Erwin belum bisa membeberkan detail pasien tersebut karena berkaitan dengan identitas dan data internal RSUD dr. Soetomo Surabaya. Namun, dia menyebut penyakit itu cenderung menular kepada orang dewasa.
“Cenderung dewasa kalau Leptospira,” jelasnya.
Setelah dilakukan berbagai penanganan dan menjalani perawatan, kondisi pasien tersebut sudah dinyatakan sembuh. Erwin menyatakan belum ada lagi laporan terbaru terkait temuan Hantavirus.
“Sudah bagus. Sehingga, sekarang sudah enggak ada kasus lagi laporan dari pusat, dan itu kasusnya Januari 2026,” ucap Erwin.
Untuk diketahui, Hantavirus merupakan kelompok virus serius yang ditularkan ke manusia melalui kontak urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat seperti tikus yang terinfeksi.
Infeksi tersebut dapat memicu penyakit pernapasan berat (HPS) atau demam berdarah dengan gagal ginjal (HFRS) yang berpotensi fatal.
Di sisi lain, Kadinkes Jatim belum bisa menyimpulkan apakah tingkat penularan Hantavirus termasuk kategori tinggi, sebab berkaitan dengan strategi epidemiologi.
“Saya belum menyimpulkan ya, karena ini nanti menyangkut strategi epidemiologi ya. Tapi yang jelas kewaspadaan penting,” tuturnya.
Lebih lanjut, Erwin mengimbau supaya masyarakat disiplin menjaga kebersihan dan meminimalisir terjadi kontak dengan objek yang terkontaminasi oleh hewan tikus.
“Ya, artinya kalau penularan lewat tikus ya kebersihan menjadi isu penting. Pokoknya jangan sampai kontak dengan produk-produk yang terkontaminasi oleh tikus,” jelasnya.(wld/rid)




