BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Sempat Terpuruk ke Level Rp17.500

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sudah mencapai level di atas Rp17.500 sebagian besar dipengaruhi oleh faktor global.

Untuk diketahui, nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini sempat dibuka mencapai Rp17.541 per dolar AS, Rabu (13/5/2026) pagi. Kemudian, nilainya kini menguat di level Rp17.474 per dolar AS pada sesi penutupan perdagangan. 

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan bahwa pergerakan nilai tukar di sejumlah negara emerging markets, termasuk Indonesia, terdampak dinamika global yakni perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

Tidak hanya harga minyak yang naik sampai lebih 40%, tensi perang turut mendorong imbal hasil surat utang pemerintah AS (US Treasury) 10 tahun mendekati 4,5% atau naik sekitar 0,5 persentase poin dari 4% akhir Februari lalu.

"Nah, faktor global, dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia itu juga melemah, tidak hanya rupiah. Ada Filipina Peso, ada Thailand Baht, ada India Rupee, ada mata uang Amerika Selatan, Chile, Korea Won," jelasnya saat ditemui wartawan di kompleks perkantoran BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Kompleksitas kondisi global ini kemudian menjadi semakin rumit akibat faktor musiman. Ramdan menjelaskan bahwa saat ini permintaan terhadap dolar oleh WNI meningkat karena musim haji, repatriasi dividen korporasi, serta pembayaran utang luar negeri.

Baca Juga

  • Rupiah Melemah, Purbaya Mau Bantu Jaga Stabilitas Pasar SBN Beberapa Bulan ke Depan
  • Purbaya Sebut Warga RI Tak Perlu Panik, Depresiasi Rupiah Tak Akan Seperti Krisis 1998
  • Rupiah Melemah, Harga Hewan Kurban Minim Terdampak Kurs

Oleh sebab itu, lanjut Ramdan, BI telah memperkenalkan tujuh langkah penting dalam stabilisasi rupiah. Dia menyebut bank sentral tetap meyakini langkah-langkah tersebut akan membbuat rupiah stabil dan cenderung menguat. 

"Karena kami meyakini fundamental ekonomi Indonesia itu sangat baik dibandingkan dengan negara-negara yang lain," tuturnya.

Ke depan, BI menyatakan bakal terus berada di pasar baik dalam maupun luar negeri. 

"Jadi, begitu pasar Jakarta tutup, kami standby di pasar Eropa. Kami kemudian standby di pasar Amerika untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah yang kalau di luar negeri dipengaruhi oleh transaksi NDF itu tetap stabil," terang Ramdan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Meta AI di WhatsApp Mulai Bisa Incognito
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Gibran Puas! Proyek MRT Hampir 60%, Siap Ngebut ke Harmoni 2027
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sosialisasi Wajib Halal, Kepala BPJPH Ajak APSKI Kebut Sertifikasi Halal
• 23 jam laludetik.com
thumb
Operasional Kebun Cot Girek Lumpuh, Kerugian Capai Rp44 Miliar
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Trump Siapkan Serangan Baru? Ledakan Misterius Guncang Iran, Operation Freedom Akan Dimulai Lagi!
• 3 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.