Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, merespons soal ibu di Desa Lewibalang, Kecamatan Cikeusik, yang harus ditandu usai melahirkan. Pemkab mengaku bahwa infrastruktur jalan di wilayah tersebut masih rusak.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pandeglang, Roni ruas jalan Lewibalang-Cikeusik memiliki panjang sekitar 6 kilometer dan hanya baru dibangun sekitar 1 kilometer. Ia mengatakan untuk sisanya Pemkab, bakal mengajukan perbaikan jalan ke pemerintah pusat melalui inpres jalan daerah (IJD).
"Kami berharap dibangun melalui inpres jalan daerah, biar tuntas," kata Roni, Rabu (13/5/2026).
Roni menyatakan kondisi keuangan daerah saat ini terbatas, sehingga berdampak pada capaian pembangunan jalan. Atas hal itu, Pemkab Pandeglang terus meminta bantuan pemerintah pusat dan Pemrov Banten melalui Program Bang Andra.
"Untuk APBD murni sekarang sangat terbatas untuk anggaran jalan," ucapnya.
Roni menyebut jalan rusak di wilayah Pandeglang masih sekitar 32 persen. Agar jalan tersebut ada penanganan, ia kembali menyatakan Pemkab berharap ada bantuan dari Pemerintah pusat dan Pemrov Banten.
"Kita berharap ada bantuan dari pemerintah provinsi, ataupun pemerintah pusat, lewat balai jalan nasional untuk segera ditangani, karena untuk APBD sangat terbatas," ucapnya.
Diketahui sebelumnya, nasib pilu dialami seorang perempuan bernama Umayah, Warga Desa Lewibalang, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Dia harus ditandu setelah melahirkan karena kondisi jalan rusak.
Berdasarkan video viral yang dilihat detikcom, Selasa (12/5/2026), tampak sejumlah warga menandu Umayah menggunakan bambu dan kain sarung. Mereka menandu Umayah dari Poskesdes Lewibalang ke rumahnya dengan menempuh jarak sekitar 300 meteran, pada Minggu (10/5) kemarin.
Menurut warga fenomena ini terus berulang-ulang. Hal itu terjadi karena kondisi jalan sangat rusak parah sehingga sulit untuk dilalui kendaraan.
"Sering banget yang ditandu. Kondisi jalan rusak menjadi penyebabnya," kata warga setempat bernama Angga saat dimintai konfirmasi.
Angga mengatakan ketika warga menderita sakit, bambu dan sarung harus menjadi peralatan yang harus ada agar bisa mendapatkan pelayanan medis. Ia mengungkap ada kejadian lebih pilu ketika ada warga yang meninggal dunia saat ditandu.
"Yang meninggal pas digotong ada, pas mau berobat," ungkap Angga yang juga sebagai tenaga medis di desa.
(jbr/jbr)





