Jakarta (ANTARA) - Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman menepis isu yang menyebut adanya intimidasi dan tekanan yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun aparat penegak hukum terhadap masyarakat ataupun organisasi masyarakat sipil yang kritis terhadap pemerintah.
Dudung, saat menjawab pertanyaan wartawan terkait hasil survei salah satu lembaga survei di pelataran Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu, menegaskan pemerintah terbuka terhadap kritik dan masukan-masukan kritis yang diberikan oleh masyarakat.
"Bapak Presiden (Prabowo Subianto, red.) mau setiap saat minta masukan. Beliau menyampaikan: Kita harus berani bicara, kita harus berani berpendapat, tetapi kita harus berani mendengarkan pendapat orang lain," kata Dudung menyampaikan sikap Presiden Prabowo terhadap kritik kepada wartawan di Jakarta, Rabu.
Dudung mengajak masyarakat untuk tidak menciptakan kesan adanya intimidasi yang datang dari pemerintah karena perlakuan semacam itu tidak ada.
"Jangan kemudian seakan-akan ada intimidasi. Kalau ada intimidasi berarti juga mengklaim bahwa pemerintah ini tidak mau dikoreksi. Janganlah dibuat-buat seperti itu," ujarnya.
"Jangan kemudian dipelintir seakan-akan (Presiden, red.) tidak mau menerima masukan," sambung Dudung.
Ia juga mengajak seluruh kelompok masyarakat untuk mengedepankan hati nurani dan bersama-sama membangun bangsa, serta menjaga diri masing-masing agar tidak mudah dipecah-belah dengan isu-isu yang tidak benar.
Baca juga: KSP minta masyarakat selalu waspada terhadap informasi menyesatkan
Pada kesempatan sama, Dudung juga mengingatkan kembali pesan dari mendiang Presiden Ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
"Gus Dur pernah menyampaikan bahwa sebenar apa pun yang kamu lakukan, sebaik apa pun yang kamu kerjakan, pasti ada kebencian orang lain," ujar Dudung.
Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo sering kali mengungkap dirinya tidak antikritik dan tidak ragu untuk mengoreksi diri manakala menerima masukan dari berbagai pihak.
Presiden Prabowo, saat berpidato dalam acara Puncak Perayaan Natal pada awal tahun 2026, menyatakan kritik dan koreksi merupakan wujud dirinya telah dibantu oleh pihak-pihak yang memberikan kritik dan koreksi tersebut.
"Kalau kritik, malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, tidak suka dikoreksi, tetapi sesungguhnya itu mengamankan," kata Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo kemudian memberi contoh sederhana ketika koreksi itu datang dari anak buahnya.
"Contoh paling sederhana, kadang-kadang kita lupa ada kancing yang tidak terpasang. Kemudian, anak buah kita lari: Pak, seragam Bapak, Pak. Bapak kancingnya.... Lho, ini anak buah kok berani koreksi. Tetapi, dia koreksi untuk mengamankan saya. Bayangkan Presiden muncul kancingnya tidak (lengkap, red.). Jadi, kadang-kadang saya dongkol juga sama ajudan saya, cerewet banget nih. Tetapi dia menjaga saya. Dia menjaga saya. Berapa kali saya diselamatkan," ujar Presiden.
Baca juga: Dudung Abdurachman siap jadi penghubung masyarakat dan pemerintah
Baca juga: Yusril sebut pemerintah senang jika kritik akademisi makin tajam
Dudung, saat menjawab pertanyaan wartawan terkait hasil survei salah satu lembaga survei di pelataran Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu, menegaskan pemerintah terbuka terhadap kritik dan masukan-masukan kritis yang diberikan oleh masyarakat.
"Bapak Presiden (Prabowo Subianto, red.) mau setiap saat minta masukan. Beliau menyampaikan: Kita harus berani bicara, kita harus berani berpendapat, tetapi kita harus berani mendengarkan pendapat orang lain," kata Dudung menyampaikan sikap Presiden Prabowo terhadap kritik kepada wartawan di Jakarta, Rabu.
Dudung mengajak masyarakat untuk tidak menciptakan kesan adanya intimidasi yang datang dari pemerintah karena perlakuan semacam itu tidak ada.
"Jangan kemudian seakan-akan ada intimidasi. Kalau ada intimidasi berarti juga mengklaim bahwa pemerintah ini tidak mau dikoreksi. Janganlah dibuat-buat seperti itu," ujarnya.
"Jangan kemudian dipelintir seakan-akan (Presiden, red.) tidak mau menerima masukan," sambung Dudung.
Ia juga mengajak seluruh kelompok masyarakat untuk mengedepankan hati nurani dan bersama-sama membangun bangsa, serta menjaga diri masing-masing agar tidak mudah dipecah-belah dengan isu-isu yang tidak benar.
Baca juga: KSP minta masyarakat selalu waspada terhadap informasi menyesatkan
Pada kesempatan sama, Dudung juga mengingatkan kembali pesan dari mendiang Presiden Ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
"Gus Dur pernah menyampaikan bahwa sebenar apa pun yang kamu lakukan, sebaik apa pun yang kamu kerjakan, pasti ada kebencian orang lain," ujar Dudung.
Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo sering kali mengungkap dirinya tidak antikritik dan tidak ragu untuk mengoreksi diri manakala menerima masukan dari berbagai pihak.
Presiden Prabowo, saat berpidato dalam acara Puncak Perayaan Natal pada awal tahun 2026, menyatakan kritik dan koreksi merupakan wujud dirinya telah dibantu oleh pihak-pihak yang memberikan kritik dan koreksi tersebut.
"Kalau kritik, malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, tidak suka dikoreksi, tetapi sesungguhnya itu mengamankan," kata Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo kemudian memberi contoh sederhana ketika koreksi itu datang dari anak buahnya.
"Contoh paling sederhana, kadang-kadang kita lupa ada kancing yang tidak terpasang. Kemudian, anak buah kita lari: Pak, seragam Bapak, Pak. Bapak kancingnya.... Lho, ini anak buah kok berani koreksi. Tetapi, dia koreksi untuk mengamankan saya. Bayangkan Presiden muncul kancingnya tidak (lengkap, red.). Jadi, kadang-kadang saya dongkol juga sama ajudan saya, cerewet banget nih. Tetapi dia menjaga saya. Dia menjaga saya. Berapa kali saya diselamatkan," ujar Presiden.
Baca juga: Dudung Abdurachman siap jadi penghubung masyarakat dan pemerintah
Baca juga: Yusril sebut pemerintah senang jika kritik akademisi makin tajam





