Hubungan Ultras Lazio dan Inter Milan Disebut Terjalin karena Kedekatan Ideologi Fasisme

pantau.com
11 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Pertandingan Lazio melawan Inter Milan di final Coppa Italia 2025/2026 kembali menyoroti hubungan erat kelompok ultras kedua klub yang disebut memiliki kedekatan karena ideologi neo-fasisme di Italia.

Kelompok ultras Inter Milan, Boys San, dan ultras Lazio, Irriducibili, diketahui sama-sama menghuni tribun utara atau curva nord di stadion markas masing-masing.

Hubungan kedua kelompok suporter garis keras tersebut disebut tidak dibangun karena sepak bola semata, melainkan dipersatukan oleh ideologi sayap kanan yang berkembang di Italia sejak era Benito Mussolini.

Mussolini merupakan perdana menteri Italia pada 1922 hingga 1945 yang dikenal sebagai tokoh utama penyebaran fasisme di negara tersebut.

Boys San dan Kedekatan dengan Neo-fasisme

Dalam tesis berjudul Ultras Groups as a Breeding Ground for Fascism: Reflections of an Unresolved Past, Gil Meiler menyebut kelompok Boys San memiliki kaitan erat dengan partai sayap kanan Movimento Sociale Italiano (MSI).

Kelompok ultras Inter Milan itu awalnya berdiri pada 1969 dengan nama “Boys-Furie Nerazzurre”.

Anggotanya sebagian besar berasal dari Fronte della Gioventu yang merupakan sayap pemuda MSI.

Sepuluh tahun kemudian, nama kelompok itu berubah menjadi Boys San.

Istilah “San” disebut sebagai akronim dari Squadre d'azionne Nerazzure atau “Pasukan Aksi Hitam-Biru”.

Meiler menyebut istilah tersebut meniru “SAM” atau Squadre d'azione Mussolini yang merupakan pasukan paramiliter pendukung Mussolini pada masa lalu.

Irriducibili Lazio Terang-terangan Puja Mussolini

Di Roma, kelompok ultras Lazio bernama Irriducibili juga dikenal memiliki kedekatan dengan ideologi neo-fasisme.

Kelompok yang mulai aktif pada 1987 itu disebut secara terbuka menunjukkan dukungan terhadap Mussolini.

Dalam tulisan Football, Fascism and Fandom in Modern Italy, Simon Martin menyebut MSI memiliki pengaruh besar dalam pembentukan Irriducibili.

Menurut Martin, meningkatnya popularitas Lazio setelah meraih gelar Liga Italia 1973/1974 membuat tribun utara Stadion Olimpico dipenuhi pemuda pendukung ideologi sayap kanan.

Alberto Testa dan Gary Armstrong dalam jurnal Italian Ultras and Neo-Fascism juga menyebut Irriducibili Lazio kerap dikaitkan dengan tindakan rasialisme di sepak bola Italia.

“Motif ideologis mereka lebih kental daripada loyalitas terhadap sepak bola,” tulis Testa dan Armstrong.

Pertandingan Lazio kontra Inter Milan pun tidak hanya menghadirkan rivalitas di lapangan, tetapi juga kembali membuka pembahasan soal hubungan ultras dan sejarah panjang neo-fasisme di Italia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Usai Kontroversi Cerdas Cermat MPR, SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Tanding Ulang | KOMPAS PETANG
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Bertemu Trump di China, Xi Jinping Singgung soal Thucydides Trap
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Bentuk Mitigasi Risiko, Dana Perlindungan Pengguna Aset Kripto Dinilai Penting
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Nadiem Berterima Kasih ke Pendukungnya di Sidang: Saya Tak Merasa Sendiri
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Pemeriksaan Faizal Rahman, KPK Dalami Dugaan Korupsi Proyek Pemkot Madiun
• 3 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.