Trump dan Xi Jinping Siap Berdialog di Beijing

idxchannel.com
8 jam lalu
Cover Berita

Presiden AS Donald Trump akan mengadakan serangkaian pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada hari Kamis (14/5/2026).

Trump dan Xi Jinping Siap Berdialog di Beijing (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Presiden AS Donald Trump akan mengadakan serangkaian pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada hari Kamis (14/5/2026).

Dilansir dari laman Reuters Kamis (14/5/2026), pertemuan itu bertujuan untuk mengamankan kondisi ekonomi, mempertahankan gencatan senjata perdagangan, dan mengatasi isu-isu pelik seperti perang Iran dan penjualan senjata ke Taiwan.

Baca Juga:
Kunjungan Trump ke China Berisiko Tinggi, Bagaimana Nasib Harga Minyak?

Perjalanan Trump ke China sangat dinantikan, sebab ini kunjungan pertama presiden AS ke saingan strategis utama Amerika sejak kunjungan terakhirnya ke sana pada tahun 2017.

Dalam perjalanan tersebut, ia akan ditemani oleh sekelompok CEO termasuk Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang, yang akan bergabung belakangan dan naik Air Force One.

Baca Juga:
Muamalat Targetkan Pertumbuhan Pembiayaan di Sektor SME 30 Persen

Banyak dari para eksekutif tersebut, termasuk Huang dan Musk juga berupaya menyelesaikan masalah dengan China. Trump mengatakan ia akan mendesak Xi untuk "membuka" China bagi bisnis AS.

"Namun, dinamika kekuasaan telah bergeser sejak kunjungan terakhir Trump pada tahun 2017 ketika China berupaya keras untuk memanjakan Trump dan membeli barang-barang AS senilai miliaran dolar," kata Ali Wyne Penasihat Senior untuk hubungan AS-China di International Crisis Group.

Baca Juga:
Kemenperin Dukung Pertumbuhan Sektor Manufaktur Indonesia Berdaya Saing Global

"Saat itu, China berusaha membujuk Amerika Serikat tentang statusnya yang semakin meningkat. Kali ini, Amerika Serikat, tanpa diminta, atas kemauannya sendiri, mengakui status tersebut," kata Wyne sambil menunjukkan bahwa Trump menghidupkan kembali istilah 'G2', yang merujuk pada duo negara adidaya, ketika terakhir kali bertemu Xi di sela-sela pertemuan APEC di Korea Selatan pada bulan Oktober.

Pertemuan pada pekan ini akan memberikan banyak waktu tatap muka antara para pemimpin. Nantinya, mereka dijadwalkan untuk mengadakan pembicaraan di Balai Agung Rakyat, mengunjungi situs warisan UNESCO Kuil Surga, dan menghadiri jamuan makan kenegaraan, sebelum minum teh dan makan siang bersama pada hari Jumat, menurut Gedung Putih.

Baca Juga:
Indonesia Pastikan Komunikasi dengan Investor China Berlanjut, usai Terima Surat Keluhan dari Kamar

Namun Trump memasuki perundingan dengan posisi yang melemah, sebab pengadilan AS telah membatasi kemampuannya untuk mengenakan tarif sesuka hati pada ekspor dari China dan negara lain. 

Perang Iran juga telah meningkatkan inflasi di dalam negeri dan meningkatkan risiko bahwa Partai Republik Trump akan kehilangan kendali atas satu atau kedua cabang legislatif dalam pemilihan paruh waktu November mendatang.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Beragam, Nasdaq Naik 1,2 Persen dan Dow Jones Turun

Meskipun ekonomi China telah goyah, Xi tidak menghadapi tekanan ekonomi atau politik yang sebanding.

Namun demikian, kedua belah pihak sangat ingin mempertahankan gencatan senjata perdagangan yang disepakati Oktober lalu, di mana Trump menangguhkan tarif tiga digit pada barang-barang China dan Xi mundur dari upaya untuk membatasi pasokan global logam tanah jarang.

Mereka juga diharapkan membahas perdagangan dan investasi bersama serta dialog tentang isu-isu AI. Sebelumnya, Washington berupaya menjual pesawat terbang Boeing (BA.N), barang-barang pertanian, dan energi ke China untuk mengurangi defisit perdagangan yang telah membuat Trump kesal.

Sedangkan Beijing menginginkan AS untuk melonggarkan pembatasan ekspor peralatan pembuatan chip dan semikonduktor canggih.

Selain masalah perdagangan, Trump diperkirakan mendorong China untuk meyakinkan Teheran agar membuat kesepakatan dengan Washington untuk mengakhiri konflik. Tetapi para analis meragukan bahwa Xi akan bersedia menekan Teheran dengan keras atau mengakhiri dukungan untuk militernya, mengingat nilai Iran bagi Beijing sebagai penyeimbang strategis terhadap AS.

(kunthi fahmar sandy)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Misteri Hilangnya Sang Perdana Menteri
• 1 jam laludetik.com
thumb
Perlintasan Kereta Sebabkan Mobil Tiba-tiba Mogok? Simak Penjelasan BRIN
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Paradoks Cuaca: Rahasia di Balik Kulit yang Terbakar dan Langit yang Tumpah
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Alasan Jaksa Tuntut Uang Pengganti Rp 5,6 T Nadiem Makarim
• 21 jam laludetik.com
thumb
Menkomdigi Meutya Hafid Minta Orangtua Tidak Kasih Pinjam Akun Sosmed ke Anak, Bahaya Judi Online Mengintai
• 11 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.