Senin (11/5/2026) petang, Kapal Motor Umakalada lepas tali dari Pelabuhan Bolok, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tampak gelombang berarak dari depan menghadangnya. Punggung gelombang semakin tinggi seiring laju kecepatan angin. Haluan kapal itu mengarah ke barat daya, menuju Pulau Sabu yang berada di tepian Samudra Hindia.
Di antara puluhan truk dan mobil yang berjejer di dek kendaraan, ada satu truk pengangkut beras milik Perum Bulog. Total ada 2 ton beras yang dikemas dalam 400 karung. Beras diperuntukkan bagi masyarakat Sabu, pulau dengan predikat terpencil, terluar, terdepan, dan perbatasan. Sabu masuk wilayah Kabupaten Sabu Raijua, NTT.
KM Umakalada jadi kapal pertama yang beroperasi setelah otoritas pelabuhan mencabut larangan berlayar selama satu minggu terakhir. Bagi penumpang, ada rasa waswas mengingat cuaca buruk belum sepenuhnya pulih. ”Ini tugas negara dan selalu ada risiko,” kata Nurmawan Djonu, petugas yang menangani distribusi beras Bulog.
Setelah kapal keluar dari Teluk Kupang, pukulan gelombang mulai terasa. Percikan air sampai masuk ke dalam kapal. Kapal oleng ke kiri dan ke kanan. Sepanjang 120 mil laut atau 223 kilometer jarak tempuh pelayaran, nyaris tak ada teduhnya. Kapal terus dihajar gelombang selama lebih dari 14 jam sampai akhirnya tiba di Pelabuhan Seba, Pulau Sabu.
Kondisi pelabuhan yang buruk membuat nakhoda kesulitan mengambil posisi tambat labuh. Terlebih ketika kondisi cuaca buruk seperti sekarang. Setelah kapal sandar dengan sempurna, penumpang dan kendaraan turun, termasuk truk pengangkut beras yang langsung bergerak menuju gudang Bulog di Desa Ledeana.
Menurut Nurmawan, pelayaran dengan cuaca buruk sudah hal biasa bagi petugas pengantar beras bantuan pangan ke Sabu. Pulau yang diapit Samudra Hindia dan Laut Sawu itu menghadapi dua musim ekstrem. Angin barat mulai Desember hingga Maret dan angin timur mulai Mei sampai Oktober.
”Laut tenang itu sekitar dua sampai tiga bulan saja,” ujarnya. Untuk jalur udara, Pulau Sabu hanya bisa didarati pesawat perintis berukuran kecil dengan kapasitas penumpang maksimal 12 orang. Panjang landasan bandara di Sabu hanya 800 meter.
Kehadiran beras Bulog untuk program gerakan pangan murah sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Pulau Sabu. Harga per kilogram (kg) Rp 13.000, sedangkan beras di pasaran dengan kualitas sama paling murah Rp 14.500 per kg. Bahkan, pada saat cuaca buruk bisa tembus Rp 17.000 per kg.
Beras di pasaran kebanyakan dipasok dari Pulau Jawa dan Sulawesi. ”Kami masyarakat miskin sangat terbantu dengan beras pemerintah. Murah tetapi kualitas sama dengan beras lain,” kata Eno, buruh di Pelabuhan Seba.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kantor Wilayah NTT, Arrahim K Kanam, menuturkan, tantangan untuk pendistribusian beras Bulog di NTT cukup tinggi ketika cuaca buruk. Seperti di Pulau Sabu, kapasitas gudang yang menampung hingga 1.000 ton beras harus terus terjaga untuk tiga bulan ke depan. Artinya, kebutuhan per bulan sekitar 300 ton.
Di NTT terdapat 22 gudang logistik. Gudang terbesar berdiri di Kota Kupang. Gudang yang lain dengan kapasitas 1.000-2.000 ton. Total kebutuhan beras di NTT yang disalurkan melalui Bulog mencapai 4.500-5.000 ton per bulan. Peruntukannya bagi gerakan pangan murah, para penerima jatah beras pemerintah, dan cadangan bencana.
Kanam juga sepakat dengan penguatan produksi padi tingkat lokal, khususnya daerah terluar yang sering terisolasi akibat gelombang tinggi. Pangan masyarakat untuk menjaga ketahanan lokal. Untuk konsumsi sendiri dan selebihnya bisa dijual ke Bulog. Untuk gabah Rp 6.500 per kg, sedangkan beras Rp 12.000 per kg.
Sabu pada akhir April 2026 dipanggang matahari. Sebagian besar tanaman yang tumbuh di daratan seluas lebih kurang 421 kilometer persegi itu menguning terbakar suhu yang menembus 35 derajat celsius. Namun, di beberapa sudut tampak sawah menghijau, sebagian menanti dipanen.
Langkah Daud Behi (56) di atas pematang membelah lautan padi yang umurnya sudah menembus 100 hari. Tiba di tengah lahan seluas 1 hektar itu ia berdiri sembari menyapu pandangan sekeliling. Inspeksi akhir sebelum padi dipanen.
Inilah lahan kedua setelah ia dan keluarga selesai memanen lahan seluas 1.800 meter persegi pada awal April 2026. Dua lahan itu berdekatan di Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini keluarga Daud bakal kelimpahan beras. Stok beras sekitar 4 ton, aman sepanjang tahun. ”Kami tidak pernah beli beras,” kata Daud yang mulai mengolah lahan pertanian sejak usia belasan tahun.
Menurut Daud, dalam setahun, ia bisa menanam sampai dua kali. Ketika musim tanam pertama mulai, yakni pada bulan Desember, ia menggunakan air hujan untuk mengolah lahan. Musim tanaman berikutnya, ia memanfaatkan sisa air hujan dari bendungan atau embung tak jauh dari kebun.
Air disedot menuju lahan yang berada lebih tinggi menggunakan mesin pompa. Penggunaan air diatur agar terus tersedia sampai padi siap panen. ”Yang sering jadi kendala itu mesin pompa. Mesin kecil dipaksa bekerja mengalirkan air ke lahan luas,” katanya.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengaku kagum dengan ketelatenan petani di Pulau Sabu yang mengolah lahan tandus menjadi produktif. Hampir semua lahan pertanian tumbuh di atas hamparan tanah kapur dan batu karang. Minim air dan panas berkepanjangan.
Ia berterima kasih kepada petani yang menjadi pejuang pangan di daerah itu. Hasil kebun mereka ikut menjaga pasokan pangan di pulau terpencil dan terluar. "Sabu merupakan daerah paling sulit di NTT. Yang tinggal dan kerja di sana orang-orang tangguh," kata Melkiades.
Sebagai bentuk dukungan terhadap petani di Sabu Raijua, Dinas Pertanian Provinsi NTT telah memberi bantuan berupa mesin pompa air, benih, hingga pupuk subsidi. Ke depan akan ada pembangunan embung di beberapa titik untuk mendukung pengairan.
Malkiades juga mengapresiasi upaya berbagai pihak, termasuk Bulog, yang terus menjaga ketersediaan pangan di daerah terluar. Ia yakin, masyarakat NTT tidak akan kekurangan pangan.
Di sisi lain, tokoh muda Sabu Raijua, Jefrison Hariyanto Fernando, berharap, penguatan sektor pangan tidak hanya pada padi dan jagung, tetapi juga pangan khas, seperti umbi-umbian dan pisang, yang banyak tumbuh di Sabu. Kondisi tanah Sabu yang minim air lebih cocok dengan tanaman tersebut.
”Ketika terjadi kelangkaan beras akibat distribusi yang terkendala cuaca ekstrem, masyarakat tidak perlu panik. Pangan yang ada di kebun dapat mereka nikmati,” katanya. Sabu yang kini dihuni sekitar 96.000 jiwa itu mayoritas sebagai petani.
Tak mudah menjaga ketersediaan pangan di pulau kecil, terpencil, terluar, dan perbatasan seperti Sabu. Ada petani yang berjuang dengan kerasnya alam. Juga petugas Bulog yang berjibaku mengantar beras melewati hadangan gelombang laut yang mencemaskan.
Serial Artikel
Kabupaten Sabu Raijua Sering Terisolasi, Butuh Bandara yang Lebih Memadai
Di tengah kepungan laut luas, Sabu Raijua sering terisolasi berminggu-minggu. Banyak pasien rujukan yang tidak tertolong dan akhirnya meninggal





