EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump berangkat menuju Beijing pada 12 Mei untuk mengadakan pertemuan dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping. Menjelang kunjungannya, Trump dengan tegas menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan Xi dalam menangani masalah Iran.
Sebelum berangkat dari Gedung Putih hari itu, Trump mengatakan kepada media bahwa ia akan melakukan pembicaraan panjang dengan Xi Jinping. Menurutnya, ada banyak isu yang akan dibahas kedua pihak, namun yang paling penting tetap kerja sama ekonomi dan perdagangan serta hubungan bilateral.
Ketika ditanya apakah ia merasa perlu keterlibatan Xi Jinping dalam masalah Iran, Trump menjawab:
“Saya tidak berpikir dia perlu ‘terlibat’. Tidak, saya tidak berpikir kami membutuhkan bantuan apa pun untuk menyelesaikan masalah Iran.”
Trump juga mengatakan: “Baik melalui cara damai maupun cara lainnya, kita akan memenangkan perang ini. Angkatan laut mereka sudah hancur, angkatan udara mereka juga hancur. Setiap bagian dari mesin perang mereka sudah lenyap. Mereka telah membunuh banyak orang, setidaknya 42 ribu orang dalam satu setengah bulan terakhir.”
Trump kembali menegaskan: “Sejujurnya, saya tidak berpikir kita membutuhkan bantuan apa pun dalam masalah Iran.”
Ia menambahkan bahwa Iran “sudah dikalahkan secara militer”, dan mengatakan: “Mereka harus melakukan hal yang benar, atau kami akan menyelesaikan masalah ini sepenuhnya.”
Trump berulang kali menekankan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
“Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Mereka tidak akan memilikinya. Mereka tahu itu,” kata Trump. “Kami tidak sedang bercanda. Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir.”
Sebelum kunjungan Trump ke Tiongkok, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, lebih dulu mengunjungi Beijing.
Duta Besar Iran untuk Tiongkok, Abdulreza Rahmani Fazli, pada 12 Mei mengatakan bahwa hubungan Iran dengan PKT memberi Iran “kedalaman diplomatik strategis”. Ia mengatakan bahwa dalam pertemuan “Trump-Xi” yang akan digelar di Beijing, pihak Beijing dapat membantu “menyuarakan” posisi Iran terkait perang.
Iran selama ini dikenal sebagai sekutu dekat PKT. Sejak Amerika Serikat melancarkan serangan militer “Epic Pury” terhadap Iran, beredar kabar bahwa PKT diam-diam terus membantu Iran, dan minyak Iran juga tetap dikirim ke Tiongkok.





