Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan analis membuat prediksi arah pergerakan investor asing di pasar saham Indonesia pasca pengumuman hasil tinjauan indeks MSCI Mei 2026. Dalam revisi kali ini, saham AMRT masuk ke dalam MSCI Small Cap Index, sementara saham ANTM, SIDO dan sejumlah emiten lainnnya dikeluarkan dari indeks tersebut.
Tim Riset Samuel Sekuritas Indonesia menghitung tinjauan indeks MSCI tersebut akan mengakibatkan pengurangan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Market Asia sebesar 10 basis poin (bps) dari 0,9% menjadi 0,8%.
"Ini juga mengakibatkan arus keluar dana asing sebesar US$1 sampai US$1,7 miliar [Rp17,50 triliun-Rp29,75 triliun. Kurs Rp17.505 per dolar AS]," tulis riset Samuel Sekuritas Indonesia, dikutip Kamis (14/5/2026).
Analis menjabarkan bahwa meskipun tinjauan MSCI ini utamanya berdampak pada saham sektor energi dan material seperti AMMN, BREN, dan TPIA, pengurangan agregat bobot Indonesia turut memaksa dana global pasif untuk secara seragam mengurangi posisi mereka saham big banks berkapitalisasi pasar jumbo.
Samuel Sekuritas mencontohkan terjadi tekanan jual di saham BBCA, di mana asing mulai berhati-hati terhadap kualitas aset emiten yang menunjukkan tekanan. Dalam kuartal I/2026, provisi atau cadangan kerugian BBCA naik hampir 20% year on year (YoY), ditambah peningkatan kredit bermasalah (NPL) di segmen otomotif mereka.
Bagai jatuh tertimpa tangga, volatilitas pasar yang disebabkan kebijakan MSCI diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp17.500 per dolar AS. "Ini akan terus memperkuat urgensi keluarnya dana asing," tulis sekuritas.
Baca Juga
- IHSG Sudah Jatuh Tertimpa MSCI, Uji Taji Optimisme Reformasi Pasar Modal
- Daftar Saham Penopang IHSG di Tengah Tekanan MSCI, Ada SMMA, BRMS & INCO
- Daftar Saham Pemberat IHSG usai Rebalancing MSCI, Ada BMRI, BREN hingga TPIA
Sementara itu, dalam riset Kiwoom Sekuritas Indonesia tim analis menjelaskan bahwa penghapusan sejumlah saham Indonesia dari indeks MSCI Mei 2026 diperkirakan akan mempertebal bobot relatif saham perbankan jumbo dan emiten blue chip lainnya. Analis menjelaskan bahwa keluarnya sejumlah emiten justru menjadi katalis bagi investor global untuk mereposisi portofolio mereka ke saham-saham berfundamental kuat.
"Fenomena ini berpotensi mengarahkan rotasi likuiditas asing ke saham dengan free float dan governance lebih sehat seperti BBCA, BMRI, BBNI dan TLKM," tulis riset Kiwoom Sekuritas.
Kiwoom menilai tekanan jual tidak tersebar merata dan hanya terkonsentrasi pada beberapa nama tertentu. Misalnya, DSSA dan BREN menjadi pusat tekanan terbesar dengan estimasi passive outflow masing-masing Rp9 triliun dan Rp6 triliun. Di sisi lain, estimasi total outflow asing kini mulai terlihat lebih realistis di kisaran Rp27,8 triliun sampai Rp34,7 triliun.
Sebagaimana diketahui, MSCI Inc. resmi mengumumkan hasil tinjauan indeks Mei 2026. Dalam pengumuman terbarunya, enam saham emiten Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index. Berdasarkan pengumuman MSCI, seluruh perubahan indeks akan berlaku efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dan mulai diterapkan 1 Juni 2026.
Dalam MSCI Global Standard Indexes Review kali ini, tidak ada saham Indonesia yang masuk sebagai konstituen baru. Sebaliknya, MSCI menghapus enam saham RI dari indeks ini. Mereka adalah AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





