Hilirisasi Nikel dan EV Bisa Jadi Game Changer Ekonomi RI

medcom.id
9 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, DBS Research menilai sektor berbasis nilai tambah tetap menjadi andalan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
 
Beberapa sektor yang dinilai paling menjanjikan antara lain pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV), hilirisasi nikel, energi terbarukan, hingga proyek pembangunan infrastruktur.
  Baca juga: Siap-Siap, Rumus Baru Harga Nikel Cs Berlaku Hari Ini  
Head of Research Indonesia DBS Group Research, William Simadiputra, mengatakan konsistensi arah kebijakan pemerintah akan menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan investor asing terhadap Indonesia.
 
Menurut William, sektor kendaraan listrik, industri pengolahan nikel, energi hijau, dan pembangunan infrastruktur masih menjadi fondasi penting pertumbuhan ekonomi nasional di tengah situasi global yang penuh tantangan. Ia juga menilai keberlanjutan kebijakan hilirisasi akan tetap menjadi daya tarik utama bagi investor internasional.

Selain itu, DBS Research mencatat pertumbuhan kredit investasi di Indonesia masih bergerak positif, khususnya pada sektor konstruksi, pertambangan, dan agrikultur. Kondisi tersebut menunjukkan minat investasi domestik masih cukup terjaga meskipun pasar keuangan global mengalami tekanan dan volatilitas. Harga Energi dan Geopolitik Jadi Ancaman Utama DBS Research juga menyoroti meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah sebagai salah satu risiko terbesar bagi prospek ekonomi global maupun Indonesia. Ketegangan tersebut dinilai berpotensi mengganggu distribusi energi dunia, yang pada akhirnya dapat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi di dalam negeri.
 
Dalam proyeksi dasarnya, DBS memperkirakan harga minyak global berada di kisaran USD80 hingga USD85 per barel. Namun, dalam skenario yang lebih ekstrem, gangguan distribusi energi global dapat mendorong harga minyak melonjak hingga menyentuh level USD100 sampai USD150 per barel.
 
Tidak hanya harga energi, sejumlah faktor lain juga dinilai berpotensi menekan stabilitas ekonomi nasional, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga produsen (PPI), hingga risiko cuaca akibat fenomena El Nino yang dapat memengaruhi harga pangan dan inflasi.
 
DBS Research juga memperkirakan Bank Indonesia akan semakin fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan likuiditas pasar di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Meski suku bunga acuan masih dipertahankan, arah kebijakan moneter dinilai cenderung lebih ketat atau hawkish guna menjaga stabilitas ekonomi domestik.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hampir Rampung, Stadion Teladan Medan Siap Sambut Piala AFF U-19 2026
• 31 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Cek Harga Emas Antam Terbaru Hari Ini, Pecahan 1 Gram Masih Rp2,839 Juta
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
Kemenag Bekukan Penerimaan Santri Baru di Ponpes Jepara Buntut Kasus Kekerasan Seksual
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Trump Puja-puji Xi Jinping Saat Bertemu di Beijing: Anda Pemimpin Hebat!
• 9 jam laludetik.com
thumb
Gubernur Sumbar: Ekonomi Tumbuh Positif tapi Angka Pengangguran Tinggi
• 13 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.