Menteri Kebudayaan RI (Menbud) Fadli Zon menghadiri rangkaian kegiatan Festival Film Cannes di Prancis, termasuk melakukan pertemuan dengan Film Commission dan Red Sea Program Director dari Arab Saudi Abdullah Alayaf.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama kebudayaan dan perfilman antara Indonesia dan Arab Saudi di tengah berkembangnya hubungan bilateral kedua negara di sektor budaya.
Dalam pertemuan tersebut, Fadli menyampaikan apresiasi atas semakin eratnya hubungan budaya kedua negara, termasuk menindaklanjuti pertemuan sebelumnya di Jakarta dengan His Highness Badr bin Abdullah Al Saud.
Pertemuan tersebut merupakan momentum positif dalam penguatan diplomasi budaya antara Indonesia dan Arab Saudi.
"Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memandang bahwa kita memiliki aspirasi bersama dengan Arab Saudi dalam mentransformasikan potensi budaya, demografi, dan kreativitas dunia Muslim menjadi kekuatan penting dalam industri perfilman dan audiovisual global. Film dan storytelling dapat menjadi jembatan untuk menghadirkan narasi yang lebih beragam dan humanis kepada dunia," ujar Fadli, dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5/2026).
"Banyak tokoh-tokoh pejuang Indonesia yang melakukan ibadah haji dan kembali ke Indonesia menjadi pahlawan bangsa dan saya rasa hal ini menunjukkan ikatan sejarah yang kuat antara kedua negara," sambungnya.
Fadli juga menegaskan Indonesia memandang perfilman sebagai instrumen strategis dalam diplomasi budaya dan penguatan hubungan antarbangsa.
Indonesia membuka ruang kerja sama yang lebih luas di bidang pertukaran talenta, kolaborasi festival, co-production, pendanaan film, capacity building, hingga penguatan jejaring sineas, produser, seniman, dan pelaku budaya kedua negara.
Film Commission dan Red Sea Program Director dari Arab Saudi Abdullah Alayaf menyambut baik berbagai inisiatif ini. Alayaf juga menyatakan minatnya untuk memperkuat kolaborasi kedua negara di bidang perfilman.
Alayaf berharap semakin banyak film Indonesia yang masuk di bioskop Arab Saudi.
Selain memperkuat kerja sama internasional, Kemenbud berupaya memperkuat ekosistem perfilman nasional melalui berbagai program penguatan industri film Indonesia.
Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan manajemen talenta nasional di bidang film, peningkatan kapasitas sineas di berbagai daerah, fasilitasi partisipasi insan perfilman Indonesia di festival internasional, serta penguatan jejaring dan kolaborasi antara pemerintah, komunitas film, lembaga pendidikan, dan pelaku industri kreatif.
Kemenbud juga terus mendorong tumbuhnya pusat-pusat kreativitas perfilman di daerah agar ekosistem film nasional berkembang lebih merata.
Penguatan perfilman dipandang sebagai bagian penting dari strategi pemajuan kebudayaan sekaligus pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya yang mampu memperluas ruang ekspresi generasi muda dan memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.
"Indonesia mendorong penguatan hubungan antara Red Sea International Film Festival dengan berbagai platform perfilman di Indonesia seperti melalui Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan Jakarta Film Week. Kolaborasi antarplatform mampu membuka peluang yang lebih besar bagi sineas dari Asia, Timur Tengah, termasuk dalam pengembangan film pendek maupun film panjang", ujar Fadli.
Fadli juga menambahkan dua film Indonesia dalam satu tahun, yaitu Jumbo dan Agak Laen 2, masing-masing berhasil melampaui 10 juta penonton domestik.
Berbagai sineas Indonesia juga terus memperoleh pengakuan di berbagai festival internasional, menunjukkan tumbuhnya ekosistem perfilman Indonesia.
"Kami ingin membangun kemitraan jangka panjang yang memperkuat diplomasi budaya, mendukung talenta kreatif, dan memperluas kolaborasi perfilman Indonesia dengan komunitas film global, termasuk bersama Arab Saudi sebagai sesama negara dengan populasi Muslim besar dunia yang memiliki banyak kesamaan dalam hal nilai-nilai kemanusiaan," kata Fadli.
Melalui berbagai program dan kolaborasi, partisipasi Indonesia di Festival Film Cannes 2026 diharapkan dapat memperluas akses sineas Indonesia ke jaringan industri film global, memperkuat ekosistem perfilman nasional, serta meningkatkan visibilitas karya dan talenta Indonesia di tingkat internasional.
Sebagai informasi, dalam kegiatan tersebut Fadli didampingi oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra; Staf Ahli Menteri bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri; serta Direktur Film, Musik, dan Seni Irini Dewi Wanti.
(akd/ega)





