Bisnis.com, MAKKAH — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan kesiapan tenda jemaah haji Indonesia di Arafah telah mencapai lebih dari 90% menjelang puncak ibadah haji 2026. Pemerintah juga mulai memfokuskan perhatian pada mitigasi kemacetan transportasi selama pergerakan jemaah saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Direktur Jenderal Pelayanan Haji Kemenhaj yang juga Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Ian Heryawan, mengatakan bahwa persiapan puncak haji menjadi salah satu momen paling krusial dalam operasional haji tahun ini, karena melibatkan mobilitas ratusan ribu jemaah dalam waktu bersamaan.
"Kita harus memastikan bahwa setiap kapasitas tenda itu cukup untuk seluruh jemaah," ujar Ian saat meninjau kesiapan puncak haji di Arafah, Rabu (13/5/2026).
Peninjauan dilakukan di markaz yang dikelola syarikah Rakeen Mashariq. Selain mengecek kesiapan tenda wukuf, rombongan juga melakukan simulasi dan pemeriksaan armada bus taraduddi yang akan melayani pergerakan jemaah dari Makkah menuju Arafah, Muzdalifah, hingga Mina.
Ian mengatakan persoalan transportasi menjadi perhatian serius karena keterlambatan bus kerap terjadi saat fase perpindahan jemaah, terutama dari Muzdalifah menuju Mina. Oleh karena itu, pemerintah mulai menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk mengantisipasi hambatan pergerakan selama puncak haji berlangsung.
“Ini untuk memitigasi apabila terjadi kemacetan, kita akan ambil langkah-langkah terutama nanti pergeseran pada saat dari Muzdalifah ke Mina ini,” katanya.
Baca Juga
- 19 WNI Ditangkap di Arab Saudi, Kasus Haji Ilegal hingga Rekam Perempuan Tanpa Izin
- Kementan: Pemotongan Dam Haji di RI Gerakkan Ekonomi Rp30 Miliar
Dalam pengecekan tersebut, sekitar 25% armada bus yang disiapkan telah diperiksa langsung oleh tim PPIH Arab Saudi.
Hasil simulasi perjalanan menunjukkan waktu tempuh transportasi di Armuzna berkisar 25 hingga 30 menit. Namun, pemerintah menilai kondisi tersebut belum menggambarkan situasi sebenarnya saat jutaan jemaah mulai bergerak secara bersamaan.
Inspektur Jenderal Kemenhaj Dendi Suryadi mengatakan Satops Armuzna telah menyiapkan sejumlah skenario apabila terjadi kepadatan lalu lintas ekstrem selama fase puncak haji.
“Karena seringkali keterlambatan bus, jadi bisa kita antisipasi,” ujarnya.
Selain kesiapan fasilitas dan transportasi, Kemenhaj juga memperkuat sistem pengawasan jemaah di kawasan Arafah. Tahun ini, pemerintah menerapkan mekanisme baru dengan menempatkan petugas khusus di sejumlah titik strategis sekitar tenda jemaah.
Petugas tersebut bertugas memantau mobilitas jemaah agar tidak keluar dari area yang telah ditentukan, termasuk mengawasi jemaah yang ingin menuju Jabal Rahmah.
“Jadi tercatat semua dan sudah kita siapkan form-nya, list-nya dan disiapkan petugas-petugasnya dari sejak Tanah Air,” kata Dendi.
Menurutnya, petugas pengawasan tersebut sudah mendapatkan pelatihan sejak masih berada di Indonesia. Kemenhaj menilai pengaturan pergerakan jemaah menjadi penting untuk menghindari penumpukan massa dan memudahkan proses evakuasi apabila terjadi kondisi darurat selama wukuf di Arafah.
PPIH Arab Saudi tercatat sudah tiga kali melakukan pengecekan fasilitas Armuzna dalam sepekan terakhir. Pemerintah memastikan proses verifikasi akan terus dilakukan hingga seluruh fasilitas benar-benar siap digunakan menjelang puncak ibadah haji pada 9 Zulhijah atau 26 Mei 2026.
Ian menegaskan seluruh langkah tersebut dilakukan untuk memastikan hak pelayanan jemaah haji Indonesia tetap terpenuhi selama menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci.
“Kita harus memastikan semuanya siap,” katanya.





