Ponorogo (beritajatim.com) — Menjelang hari raya Idul Adha, persaingan penjualan hewan kurban di Ponorogo tidak hanya soal bobot dan harga. Sejumlah peternak kini mengedepankan satu nilai tambah yang menjadi daya tarik utama. Yakni layanan perawatan premium, seakan sapi dimanjakan karena dipelihara dengan standar khusus, sebelum sampai ke tangan pembeli.
“Perawatan premium kepada sapi-sapi untuk kurban, menjadi nilai lebih peternakan di sini,” kata Danang Saputro, peternak sapi asal Desa Wagir Kidul Kecamatan Pulung, Kamis (14/5/2026).
Sudah sejak lama Danang memilih pendekatan berbeda dalam mengelola sapi kurban. Bagi dia, kualitas ternak bukan hanya ditentukan oleh ukuran tubuh, tetapi juga oleh pola perawatan sejak awal. Karena itu, setiap sapi diperlakukan dengan sistem pemeliharaan terukur, mulai dari pemilihan bibit hingga jelang hari penyembelihan. Tak heran, jika peternakannya ini, selalu ramai oleh calon pembeli jelang hari raya kurban.
Jenis sapi yang disiapkan beragam, termasuk sapi lokal, sapi Bali, simental, limosin hingga belgian blue. Sebagian di antaranya memiliki bobot mendekati satu ton. Namun yang menjadi pembeda bukan hanya ukuran, melainkan perhatian detail pada kesehatan dan kenyamanan hewan.
Danang menjelaskan, pakan diberikan secara seimbang menggunakan konsentrat dan hijauan seperti rumput gajah serta silase jagung. Pola ini dirancang agar pertumbuhan sapi optimal dan kondisi tubuh tetap stabil.
“Pakan menggunakan konsentrat dan hijauan seperti rumput gajah serta silase jagung,” katanya.
Selain itu, nilai lebih yang tak kalah penting ialah perawatan kesehatan dilakukan secara rutin. Yakni melalui pemberian vitamin, vaksinasi, dan obat cacing. Kebersihan kandang pun dijaga agar lingkungan ternak tetap higienis.
“Sapi-sapi di sini rutin diberi vitamin, vaksinasi dan obat cacing,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai dokter hewan itu.
Tidak berhenti di situ, layanan tambahan menjadi bagian dari strategi usaha. Setiap pembelian sapi kurban disertai perawatan gratis hingga mendekati waktu penyembelihan. Bahkan, tersedia fasilitas pengiriman langsung ke lokasi pembeli. Sistem ini memberi kenyamanan bagi konsumen yang ingin memastikan hewan tetap dalam kondisi terbaik tanpa harus mengurus perawatan tambahan.
Menurut Danang, pendekatan tersebut bukan hanya meningkatkan nilai jual, tetapi juga membangun kepercayaan pelanggan. Dia menyebut, layanan komprehensif semacam ini dapat meningkatkan harga sapi sekitar 10–20 persen setiap tahun, terutama saat permintaan meningkat menjelang Idul Adha.
“Kalau menjelang Idul Adha ini harus ekstra, karena persaingannya juga ketat,” ungkapnya.
Salah satu calon pembeli, Sujarno, mengaku tertarik karena melihat langsung kualitas dan kondisi sapi yang terawat baik. Dia menilai perawatan yang diberikan membuat hewan tampak sehat dan siap dijadikan kurban.
“Sapinya sehat dan yang merawat orang yang memang paham soal kesehatan hewan,” pungkas Sujarno.[end/aje]




