KRI Canopus-936, Bintang yang Menerangi Lautan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Setelah menempuh perjalanan panjang, KRI Canopus-936 akhirnya buang sauh di Markas Komando Lintas Laut Militer atau Mako Kolinlamil Jakarta, pada Senin (11/5/2026). Mengambil nama bintang, kehadiran kapal bantu hidro-oseanografi modern tersebut diharapkan memberikan arah yang benar dalam pertahanan maritim.

KRI Canopus-936 merupakan kolaborasi industri dalam negeri dan industri kapal di Jerman. Lambung kapal dibangun oleh galangan kapal PT Palindo Marine di Batam. Kemudian, pada 2024, lambung kapal diangkut ke fasilitas Abeking & Rasmussen di Lemwerder, Jerman, untuk instalasi akhir dan integrasi sistem serta uji coba laut.

Pada 12 Februari 2026, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) meresmikan KRI Canopus-936 dalam sebuah upacara yang diadakan di Jerman. Sejak saat itu, KRI Canopus-936 memasuki dinas aktif.

Sama seperti kapal hidro-oseanografi modern lain dalam inventaris TNI AL, KRI Canopus-936 dinamakan berdasarkan nama bintang. Canopus merupakan bintang paling terang kedua setelah Sirius. Dalam legenda Yunani, Canopus adalah sosok pelaut ulung, navigator kapal, dan ahli membaca bintang serta laut.

Bangsa Yunani mengabadikan nama Canopus ke sebuah bintang terang di langit selatan sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Dengan menyandang nama Canopus, bintang itu menjadi penuntun bagi para pelaut yang mengarungi samudera.

Dikutip dari laman Kementerian Pertahanan (Kemhan), Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali menyampaikan bahwa KRI Canopus-936 menempuh pelayaran selama 57 hari dari Jerman menuju Indonesia. Kapal melintasi Samudra Atlantik dan sejumlah negara sebelum akhirnya tiba di Jakarta.

Dari Jerman, kapal yang dikomandani oleh Kolonel Laut (P) Indragiri Yani Wardhono memulai pelayaran perdana pada tanggal 14 Maret 2026 dari galangan Abeking & Rasmussen, Lemwerder, Jerman, menuju Indonesia. Jarak yang ditempuh kurang lebih 12.798,5 Nautical mile (Nm) dengan nama sandi “Operasi Dhruva Samudra-26”. 

Perjalanan ke Tanah Air tersebut menempuh beberapa etape. Untuk keperluan isi ulang logistik, koordinasi teknis, dan kesiapan operasional, KRI Canopus-936 singgah di Las Palmas, Spanyol; di Lagos, Nigeria; di Cape Town, Afrika Selatan; di Port Louis, Mauritius; hingga akhirnya tiba di Jakarta.

Baca JugaPembelian Fregat Kelas Istif dari Turki, Ada Harga Ada Senjata?

Spesifikasi

KRI Canopus-936 memiliki panjang 105 meter, bobot 3.400 ton, dan dapat mencapai kecepatan maksimum 16 knot. Kapal ini dapat beroperasi di laut hingga 60 hari dan dapat menampung 90 personel beserta 200 ton muatan tambahan. Muatan tambahan biasanya untuk modul misi dan peralatan tambahan.

KRI Canopus-936 dirancang sebagai kapal survei hidro-oseanografi yang mampu melaksanakan pemetaan laut, survei ilmiah, dukungan operasi militer, hingga fungsi pencarian dan penyelamatan. Kapal dirancang untuk beroperasi dari perairan dangkal hingga laut dalam mencapai kedalaman 11.000 meter. Untuk melaksanakan tugas itu, KRI Canopus-936 dilengkapi dengan berbagai sensor bawah air canggih dan sistem modern.

"Kapal ini adalah kapal bantu hidrografi, oseanografi. Intinya, untuk melaksanakan survei. Namun, ke depan akan bisa digunakan untuk melaksanakan SAR kapal selam, atau submarine resque vessel. Jadi ini nanti merupakan kapal submarine resque pertama yang kita miliki," kata Ali saat menyambut kedatangan KRI Canopus-936 di Jakarta.

Baca JugaTak Cukup Alutsista Canggih, Integrasi Sensor Juga Penting di Era Perang Modern

Di TNI AL, KRI Canopus-936 berada di bawah komando Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal), yang bermarkas di Jakarta. Sebagai kapal riset kelautan, KRI Canopus-936 dilengkapi teknologi mutakhir, seperti Hydrographic Survey Launcher (HSL), Autonomous Underwater Vehicle (AUV), Remotely Operated Vehicle (ROV), Autonomous Surface Vehicle (AUV) serta Unmanned Aerial Vehicle (UAV). 

Kapal tersebut juga dapat mendukung operasi militer dan keamanan laut, termasuk pemetaan jalur kapal selam, deteksi ranjau laut, patroli keamanan, serta dukungan intelijen maritim. Untuk memastikan kesiapan kapal, KRI Canopus-936 telah diuji dan melalui tahapan Sea Acceptance Test (SAT). 

Kapal Survei TNI AL

Sebelumnya, TNI AL melalui Pushidrosal telah mengoperasikan beberapa kapal survei. Satu di antaranya adalah KRI Rigel-933, sebuah kapal berjenis multipurpose research vessel (MPRV) buatan Perancis. Kapal dengan panjang 60,10 meter dan lebar 11,5 meter ini digunakan untuk memetakan area dasar laut. 

KRI Rigel-933 dilengkapi dengan multibeam echosounder yang berfungsi untuk merekam dasar laut hingga kedalaman 7.000 meter atau 7 kilometer. Selain itu, kapal tersebut memiliki kemampuan bottom profiling, yakni dapat mendeteksi bendayang terhunjam hingga 6 meter di bawah dasar laut. 

Oleh karena kemampuannya itu, KRI Rigel-933 dilibatkan dalam berbagai misi pencarian, seperti misi pencarian pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610 yang jatuh di lepas pantai Karawang, Jawa Barat, pada 2018. Misi lainnya adalah pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu.

Kapal survei canggih lainnya adalah KRI Spica-934. Sama seperti saudaranya, KRI Spica-934 juga dilengkapi dengan berbagai sensor, seperti multibeam echosounder (MBES), subbottom profiling (SBP), magnetometer, dan side scan sonar. Dalam peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air di lepas pantai Karawang, Jawa Barat, penemuan CVR pesawat itu didukung oleh KRI Spica-934.

Baca JugaKonsekuensi Kepemilikan Kapal Induk Garibaldi Setelah Kepastian Hibah dari Italia
Peran Strategis

Pengamat militer dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia Beni Sukadis ketika dihubungi di Jakarta, pada Kamis (14/5/2026), mengatakan, kedatangan kapal hidro-oseanografi KRI Canopus-936 dapat meningkatkan kapasitas pertahanan maritim karena kapal tersebut dapat melakukan pemetaan dan pemahaman medan bawah laut secara akurat. 

Data batimetri berupa informasi mengenai kedalaman laut, arus, dan kontur dasar laut sangat penting untuk operasi kapal perang. Selain itu, data tersebut diperlukan untuk keamanan navigasi, penentuan jalur patroli, hingga dukungan operasi amfibi.

"Dengan informasi hidro-oseanografi yang lebih mutakhir, TNI AL dapat mengenali area rawan, mendeteksi perubahan lingkungan laut, dan merencanakan pengerahan kekuatan secara lebih presisi," terang Beni.

Data-data tersebut, menurut Beni, diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman maritim seperti penyelundupan, infiltrasi bawah laut, sabotase, dan ancaman ranjau. Dengan demikian, secara strategis, kapal ini bukan sekadar alat survei, tetapi penguat kesadaran situasional maritim.

"Semakin baik data laut yang dimiliki, semakin kuat kemampuan deteksi dini, respons cepat, dan penguasaan wilayah laut secara efektif," ujarnya.

Baca JugaHUT TNI, Modernisasi Alutsista dan Mimpi Kemandirian Industri Pertahanan

Mengemban nama navigator legendaris yang diabadikan menjadi sebuah bintang, KRI Canopus-936 diharapkan menjadi “bintang penuntun” bagi TNI AL dalam membaca dan memahami lautan Nusantara. KRI Canopus-936 bukan sekadar kapal survei, melainkan simbol kesiapan Indonesia menjaga kedaulatan dan keamanan lautnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bakal Ada Jalan Tol Baru di Sumsel 80 Km Nilainya Rp 26 T, Ini Rutenya
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Misa Kenaikan Yesus Kristus, Gereja Katedral Jakarta Tampung Lebih 2 Ribu Jemaat
• 8 jam laluokezone.com
thumb
Seratus Bintara Remaja Polda Kaltara resmi jadi Bhayangkara sejati
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
KRI Canopus-936, Bintang yang Menerangi Lautan
• 3 jam lalukompas.id
thumb
Pelantikan FPPI Makassar, Bakal Dorong Kolaborasi Lindungi Perempuan dan Anak
• 9 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.