PGEO Perkuat Inisiatif Efisiensi Energi dan Pengurangan Emisi

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) sebagai perusahaan renewable energy berbasis panas bumi terus memperkuat perannya dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia serta kontribusi terhadap Nationally Determined Contribution (NDC) melalui penyediaan energi rendah karbon.

Kendati bisnis yang dijalankan telah menjadi bagian dari energi hijau rendah emisi, emiten berkode saham PGEO tersebut tetap secara konsisten menjalankan berbagai inisiatif efisiensi energi dan pengurangan emisi di seluruh lini bisnis dan operasional. Upaya tersebut merupakan bagian dari implementasi operasi berkelanjutan.

Direktur Operasi PGEO Andi Joko Nugroho mengatakan bahwa penerapan praktik keberlanjutan secara konsisten menjadi bagian penting dalam memastikan pengembangan panas bumi yang andal, efisien, dan berdaya saing.

"Seluruh implementasi keberlanjutan PGEO dijalankan secara transparan dengan mengacu pada standar pelaporan global," kata Andi, dikutip Kamis (14/5/2026).

Pelaporan keberlanjutan perseroan juga telah melalui proses verifikasi oleh lembaga independen berlisensi AA1000 dengan kualifikasi assurance tipe 1 dan tipe 2 level moderate.

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, PGEO mencatat penghematan energi sebesar 90.502,28 MWh sepanjang tahun lalu, meningkat signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 40.058,77 MWh.

Baca Juga : Prospek dan Rekomendasi Saham PGAS, PGEO, ELSA, dan TUGU, Emiten Pertamina Group

Peningkatan efisiensi tersebut didorong oleh berbagai optimalisasi operasional di sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP), antara lain debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu yang memungkinkan sumur bertekanan rendah masuk ke sistem produksi, optimalisasi operasional vacuum pump pada Gas Extraction System di seluruh PLTP PGE untuk menekan own use, serta modifikasi hand control valve di Lumut Balai guna meminimalkan uap yang terbuang ke rock muffler.

Selain itu, perseroan juga terus mendorong berbagai inovasi efisiensi energi dan pengurangan emisi, termasuk pemanfaatan energi terbarukan untuk kebutuhan internal operasional seperti penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di fasilitas operasional dan perkantoran. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan listrik dan uap panas bumi agar dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap sistem ketenagalistrikan nasional.

Di sisi lain, PGEO mencatat rasio intensitas energi sebesar 0,037 MWh/MWh pada 2025 atau turun 10,10% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Rasio tersebut merupakan perbandingan antara total energi yang dikonsumsi perseroan dengan total listrik panas bumi yang diproduksi.

Capaian ini mencerminkan makin efisiennya penggunaan energi dalam mendukung operasional perusahaan. Sementara itu, penggunaan energi terbarukan dalam operasional tetap terjaga tinggi mencapai 94,36%.

Dari sisi pengelolaan emisi, intensitas emisi PGEO tercatat sebesar 41,12 g CO2e/kWh atau masih berada jauh di bawah ambang batas EU Taxonomy dan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia sebesar 100 g CO2e/kWh.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa operasional panas bumi PGEO tetap berada dalam kategori energi rendah karbon. Pada saat yang sama, kapasitas operasi panas bumi PGE turut berkontribusi terhadap penghindaran emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e pada 2025.

PENGELOLAAN LIMBAH PGEO
Selain mendorong efisiensi energi dan pengurangan emisi, PGE juga terus memperkuat pengelolaan limbah non-B3 secara berkelanjutan melalui pendekatan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery).

Pada 2025, volume limbah non-B3 yang berhasil dikelola melalui pendekatan tersebut mencapai 17 ton, meningkat 24,5% dibandingkan dengan 2024 sebesar 13,66 ton.

Di sisi lain, PGEO juga terus memperkuat pengelolaan sumber daya air secara bertanggung jawab sebagai bagian dari implementasi operasi berkelanjutan. Pada 2025, konsumsi air perseroan tercatat turun 33,31% menjadi 262,24 megaliter dibandingkan dengan konsumsi 2024 sebanyak 393,23 megaliter.

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pengembangan beyond electricity, termasuk ekosistem green hydrogen berbasis panas bumi.
Salah satunya melalui proyek Tanjung Sekong Green Terminal yang memanfaatkan green hydrogen berbasis panas bumi untuk mendukung kebutuhan energi di terminal LPG Cilegon. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi dekarbonisasi lintas sektor.

PGEO juga terus membuka peluang pengembangan pemanfaatan energi panas bumi untuk kebutuhan industri hijau lainnya, termasuk pengembangan green data center berbasis energi bersih rendah emisi.

Sejalan dengan penguatan implementasi keberlanjutan tersebut, pengelolaan LST perseroan terus menunjukkan kinerja positif. Hal ini tecermin dari skor Sustainalytics ESG Risk Rating sebesar 7,1 atau kategori risiko dapat diabaikan yang diperoleh pada 2025. Skor ini menempatkan PGE sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia dalam jajaran Top 50 ESG Global dari 42 negara.

Capaian tersebut mencerminkan kuatnya implementasi ESG perseroan di tingkat global, khususnya dalam pengelolaan risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan.

Baca Juga : Manuver Ekspansif PGEO, dari Panas Bumi Hingga Pusat Data

Selain itu, perseroan turut meraih berbagai penghargaan dan pengakuan, termasuk 20 penghargaan PROPER Emas hingga 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

Andi menjelaskan bahwa pengembangan panas bumi tidak hanya berfokus pada penyediaan energi bersih. PGEO juga memastikan seluruh operasional dijalankan secara bertanggung jawab, efisien, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar. "Karena itu, penguatan praktik ESG dan implementasi operasi berkelanjutan akan terus menjadi prioritas perseroan ke depan,” kata Andi.

Sebagai energi baru terbarukan, panas bumi merupakan energi baseload andal yang mampu menghasilkan listrik stabil selama 24 jam tanpa bergantung pada cuaca maupun impor bahan bakar.

Karakteristik ini menjadikan panas bumi berperan penting dalam mendukung transisi energi rendah emisi sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Adapun, saat ini PGEO mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW, terbagi atas 727 MW yang dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE dan 1.205 MW dikelola dengan skema Kontrak Operasi Bersama.

Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE berkontribusi sekitar 70% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 10 juta ton CO2 per tahun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pesan KH Machrus Lirboyo ke Jemaah: Jaga Adab dan Perilaku, Siapkan Stamina untuk Puncak Haji
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Foto: Hampir 1 Dekade, Trump-Xi Jinping Kembali Bertemu di Beijing
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Marc Klok Beberkan Alasan Beri Bonus untuk Adam Alis: Ucapan Terima Kasih Raih 3 Poin Lawan Persija
• 2 jam lalubola.com
thumb
Menkomdigi: 200 Ribu Anak Terpapar Judol, 10 Ribu di Bawah 10 Tahun
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Semangat Berkarya Siswa Tunarungu Hadir dalam Pameran Vokasi di Malang
• 23 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.