Investor bersiap menghadapi imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang diprediksi tetap tinggi dalam waktu lama.
IDXChannel - Investor bersiap menghadapi imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang diprediksi tetap tinggi dalam waktu lama. Para pelaku pasar meragukan kemampuan Ketua baru Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh, dalam mengendalikan inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Imbal hasil jangka panjang, termasuk obligasi acuan tenor 10 tahun melonjak. Kenaikan imbal hasil ini langsung berdampak pada biaya pinjaman, mulai dari kredit perumahan, obligasi korporasi, hingga pinjaman leveraged menjadi lebih mahal.
“Tidak berlebihan jika dikatakan inflasi sudah tidak nyaman dan berada di atas target. Hampir lima tahun, dan belum ada arah yang jelas untuk meyakinkan investor,” ujar analis Thornburg Investment Managemen, Christian Hoffman, dilansir Reuters, Kamis (14/5/2026).
Imbal hasil acuan yang lebih tinggi juga berpotensi menekan pasar saham AS.
Lonjakan imbal hasil ini sangat terkait dengan pasar energi, yang dianggap investor sebagai pendorong utama tekanan harga.
“Apa pun yang terjadi pada minyak, ke sanalah arah imbal hasil,” kata analis Laffer Tengler Investments, Byron Anderson.
Situasi ini membuat sebagian investor mengurangi eksposur ke obligasi jangka panjang. Anderson bahkan menyebut perusahaannya hampir sepenuhnya menghindari obligasi tenor panjang.
Dia menilai inflasi yang persisten akan terus mendorong imbal hasil jangka panjang naik, bahkan berpotensi membawa obligasi 10 tahun ke level 5 persen, angka yang terakhir tercatat pada Oktober 2023.
Sejak awal Maret, imbal hasil 10 tahun telah naik sekitar 45 basis poin dan sempat mencapai level tertinggi dalam 11 bulan di 4,484 persen.
Investor menilai inflasi yang sulit turun akan menjadi tantangan besar bagi Warsh, yang kemungkinan menghadapi perbedaan pandangan di antara pembuat kebijakan.
“Jika pernyataan awal Warsh cenderung dovish, misalnya mendukung pemangkasan suku bunga, itu bisa menjadi masalah besar bagi pasar obligasi,” kata analis BCA Research, Ryan Swift.
Pasar keuangan saat ini memperkirakan tidak ada perubahan pada suku bunga acuan The Fed di kisaran 3,5–3,75 persen sepanjang tahun ini.
Analis Plante Moran Financial Advisors, Jim Baird menilai Warsh menghadapi tantangan besar, terutama karena inflasi dipengaruhi banyak faktor yang tidak bisa diatasi hanya dengan menaikkan suku bunga.
“Kenaikan suku bunga tidak akan menurunkan harga minyak global,” ujarnya.
Selain itu, preferensi kebijakan Warsh, terutama rencana mengecilkan neraca The Fed dan mengurangi durasi portofolio obligasi, juga dapat memengaruhi kurva imbal hasil. Neraca yang lebih kecil mengusyaratkan berkurangnya permintaan besar dari pemerintah terhadap obligasi.
Tanpa dukungan likuiditas dari bank sentral, kondisi keuangan akan semakin ketat. Selain itu, berkurangnya pembelian obligasi oleh The Fed akan meningkatkan pasokan Treasury di pasar, yang cenderung menekan harga obligasi dan mendorong imbal hasil jangka panjang naik.
Analis Morgan Stanley Martin Tobias mengatakan pasar masih mencoba memahami bagaimana pendekatan Warsh terhadap kebijakan neraca, yang pada akhirnya dapat memengaruhi premi jangka panjang dan dinamika pasokan obligasi.
Meski demikian, setiap perubahan kemungkinan akan terjadi secara bertahap.
“Dibutuhkan waktu bagi Kevin Warsh untuk membangun konsensus,” ujarnya.
(NIA DEVIYANA)





