Indonesia dan Rusia membahas peluang kerja sama di sektor energi mulai dari minyak dan gas bumi (migas), LNG dan LPG, pengembangan energi baru terbarukan, hingga pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 Indonesia–Rusia.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Kazan, Rusia, Selasa (12/5/2026) lalu itu, fokus utama pembahasan yakni sektor energi serta sumber daya mineral.
Yuliot Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI mengatakan, kerja sama energi antara Indonesia dan Rusia sejauh ini telah menghasilkan sejumlah komitmen investasi, baik di sektor hulu migas, kilang minyak, maupun ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan.
“Kerja sama di sektor energi (dengan Rusia) telah menghasilkan berbagai komitmen investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi dan kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, termasuk rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil,” ujar Yuliot dalam keterangan resminya, Kamis (14/5/2026) yang dikutip Antara.
Dalam pembahasan tersebut, kedua negara juga menindaklanjuti sejumlah rencana kerja sama strategis, seperti pembelian minyak, pengembangan ladang migas, perkembangan proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban, hingga kerja sama energi nuklir untuk tujuan damai.
Pada sesi pleno SKB ke-14 RI–Rusia, Yuliot menegaskan pentingnya penguatan investasi dan transfer teknologi energi guna mendukung ketahanan energi nasional sekaligus percepatan transisi menuju energi bersih.
“Hal ini sejalan dengan prioritas nasional dalam memperkuat ketahanan energi, baik untuk bahan bakar minyak maupun listrik,” katanya.
Ia juga menyoroti komitmen pemerintah dalam pengembangan energi bersih sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Menurutnya, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 70 gigawatt (GW) dalam periode tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 40 GW atau 62 persen ditargetkan berasal dari energi baru terbarukan.
“Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, ditetapkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 70 GW, dengan target 40 GW berasal dari energi baru terbarukan atau sebesar 62 persen dari total tambahan kapasitas. Untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, ditargetkan pembangunan dua unit dengan total kapasitas 500 MW,” jelas Yuliot.
Rangkaian pertemuan SKB ke-14 RI–Rusia itu menghasilkan Agreed Minutes yang memuat sejumlah tindak lanjut kerja sama sektor energi dan sumber daya mineral antara kedua negara. Selain migas dan energi nuklir, pembahasan juga mencakup hilirisasi mineral, metalurgi, hingga standardisasi industri migas dan energi.
Forum SKB RI–Rusia sendiri merupakan mekanisme kerja sama bilateral resmi antara Pemerintah Indonesia dan Federasi Rusia untuk membahas serta mengevaluasi perkembangan kerja sama di berbagai sektor strategis.
Kementerian ESDM menilai keterlibatan Indonesia dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi energi nasional, termasuk untuk mendukung ketahanan energi, pengembangan hilirisasi industri, serta memperluas kerja sama teknologi dan investasi di sektor energi dan sumber daya mineral. (ant/bil/ham)




