Pantau - Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon meresmikan Paviliun Indonesia bertema “Printing the Unprinted” pada ajang Venice Biennale di Scuola Internazionale di Grafica Venezia yang telah dibuka untuk publik sejak 7 Mei 2026.
Paviliun Indonesia menampilkan hasil residensi tujuh seniman Indonesia yakni Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agusyina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.
Fadli Zon mengatakan partisipasi Indonesia di Venice Biennale menjadi bentuk komitmen negara dalam menempatkan budaya sebagai bagian penting pembangunan, diplomasi, ekonomi, dan kontribusi bagi peradaban dunia.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menyinggung identitas Indonesia sebagai negara maritim dengan lebih dari 17 ribu pulau, 1.340 kelompok etnis, dan 718 bahasa daerah.
"Kedalaman sejarah ini memberi kami keharusan untuk bertanggung jawab dan inspirasi untuk melanjutkan narasi peradaban kami bagi dunia," kata Fadli Zon.
Kolaborasi Seniman Senior dan Talenta MudaSelain pameran utama, Paviliun Indonesia turut menampilkan hasil kolaborasi tujuh seniman senior dengan tujuh talenta muda Indonesia yang mengikuti program residensi seni untuk penyembuhan atau art healing di Florence.
Kolaborasi tersebut difasilitasi oleh Komunitas Kreatif Negeri Elok melalui program pendampingan dan penciptaan karya bersama.
Hasil kolaborasi dipamerkan di salah satu ruang Scuola Internazionale di Grafica Venezia.
Pameran “Printing the Unprinted” dijadwalkan berlangsung hingga 22 November 2026.
Kurator pameran Aminudin TH Siregar mengatakan tema “Printing the Unprinted” menawarkan perspektif berbeda dalam memahami dunia dan percakapan global.
"Bukan melalui pencarian tunggal, melainkan melalui perjalanan yang saling terkait, pertukaran yang bertimbal balik, juga irisan-irisan narasi yang senantiasa hadir melampaui berbagai batasan pencatatan resmi yang diakui," ujar Aminudin TH Siregar.
Narasi Fiktif dan Proses Residensi di VenesiaPameran ini berangkat dari manuskrip rekaan berjudul “Mentjap jang Tiada Bertjap: Plajeran Agoeng” yang menjadi titik awal narasi karya para seniman.
Narasi fiktif tersebut digunakan untuk mempertanyakan bagaimana sejarah dibentuk dan siapa yang memiliki kuasa mencatat pengetahuan.
Narasi itu juga menyoroti pengalaman-pengalaman yang selama ini tidak terdokumentasikan.
Berbeda dari proses pameran pada umumnya, para seniman menyiapkan karya secara langsung di Venesia setelah menjalani residensi selama empat pekan di Scuola Internazionale di Grafica Venezia.
Para seniman mengikuti lokakarya seni cetak bersama pengajar Scuola Grafica dengan medium utama berupa pelat tembaga dan cat berbasis air ramah lingkungan.
R.E. Hartanto mengaku melakukan beberapa kali percobaan untuk menemukan bentuk dan komposisi warna yang sesuai bagi karya potretnya.
Theresia Agusyina Sitompul membantu seniman lain yang belum terbiasa menggunakan teknik seni cetak selama proses residensi berlangsung.
Syahrizal Pahlevi memanfaatkan masa residensi dengan membuat karya cukil kayu di berbagai sudut kota Venice.
Syahrizal Pahlevi juga mengajak pejalan kaki menjadi model untuk dicetak pada kain menggunakan tinta biru.
Sebelum pembukaan paviliun, Syahrizal Pahlevi menggelar demonstrasi cukil kayu dengan model khusus Menteri Kebudayaan Fadli Zon.




