Washington (ANTARA) - Interaksi antara para kepala negara memberikan panduan strategis yang tak tergantikan bagi hubungan China-AS, kata Duta Besar China untuk Amerika Serikat, Xie Feng.
Xie menyampaikan pernyataan itu dalam wawancara terbaru dengan Newsweek mengenai kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China dan hubungan China-AS.
Dia menekankan pula bahwa di tengah dunia yang semakin bergejolak, nilai strategis hubungan China-AS semakin menonjol.
Dalam wawancara itu, Xie mengatakan bahwa Presiden Xi Jinping dan Presiden Trump saling menghormati dan terus menjaga komunikasi yang erat.
Sejak tahun lalu, kedua pemimpin itu telah berbicara melalui telepon sebanyak lima kali dan saling bertukar sejumlah surat, serta mengadakan pertemuan yang sukses di Busan, Korea Selatan.
Pertemuan ini membantu menyesuaikan ulang arah hubungan China-AS dan mengarahkannya menuju stabilitas secara keseluruhan.
Xie menyatakan harapannya bahwa pertemuan antara kedua kepala negara akan menentukan arah yang tepat bagi perkembangan hubungan China-AS di masa depan, membuka jalan untuk memperpanjang daftar dialog dan kerja sama serta memajukan agenda positif, sekaligus memperpendek daftar masalah dan mengelola perbedaan dengan tepat.
Hal itu tidak hanya akan mendorong perkembangan hubungan bilateral yang stabil, sehat, dan berkelanjutan tahun ini, tetapi juga membuka jalan yang tepat bagi China dan AS untuk hidup berdampingan di era baru berdasarkan saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, serta kerja sama yang saling menguntungkan, tutur Xie.
Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa perang tarif dagang merugikan kepentingan kedua pihak, dan berdampak buruk bagi seluruh dunia, ujar Xie.
Dia menambahkan bahwa di bawah arahan kedua pemimpin, China dan AS mencapai serangkaian kesepahaman bersama melalui konsultasi ekonomi dan perdagangan, serta berhasil menstabilkan hubungan dalam bidang perekonomian dan perdagangan bilateral.
Hal ini tidak diraih dengan mudah dan harus dijaga dengan baik, tetapi masih jauh dari cukup, kata Xie, seraya menyatakan harapan bahwa pihak AS akan melangkah lebih jauh dan sepenuhnya menghapus tarif sepihak serta langkah-langkah pembatasan lainnya.
Mengenai persoalan Taiwan, Xie mengatakan bahwa dia percaya rakyat AS, yang pernah menghadapi ancaman perpecahan dan mengalami Perang Saudara dalam sejarahnya, dapat memahami tekad dan kemauan China untuk menjaga persatuan nasional.
Pihak China mendesak AS agar berkomitmen pada prinsip Satu China dan tiga komunike bersama China-AS melalui tindakan nyata, membuat pilihan yang tepat sesegera mungkin, serta secara mendasar menghilangkan hambatan terbesar dalam hubungan China-AS, yakni persoalan Taiwan, yang berisiko menyeret kedua negara ke dalam konfrontasi dan konflik, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan hubungan bilateral, kata Xie.
Ketika ditanya mengenai isu fentanil, Xie mengatakan bahwa krisis fentanil di AS tidak disebabkan oleh China. Namun demikian, China berupaya semaksimal mungkin memberikan bantuan dengan itikad terbaik berdasarkan semangat kemanusiaan dan demi persahabatan China-AS.
Dia mendesak pihak AS untuk menghargai dan menjunjung tinggi niat baik China, memandang hasil kerja sama bilateral secara adil, berhenti menyalahkan China atas persoalan fentanil, tidak memberlakukan tarif alternatif sebagai pengganti tarif terkait fentanil, serta segera mencabut China dari daftar "negara sumber utama narkotika."
Mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Xie mengatakan bahwa dunia tidak ingin melihat adanya "Tirai Besi" dalam AI maupun upaya pengucilan teknologi, apalagi rivalitas bergaya Star Wars dalam bidang AI.
Xie berharap pihak AS dapat bekerja bersama China ke arah yang sama untuk memperkuat dialog, mengelola persaingan, dan menjalankan kerja sama, sehingga AI dapat menjadi bidang baru bagi kerja sama China-AS sekaligus tangga baru bagi kemajuan umat manusia.
Berbicara mengenai meningkatnya kecenderungan di antara masyarakat di negara-negara Barat yang menganggap budaya China sebagai sesuatu yang trendi, Xie mengatakan bahwa tren "Becoming Chinese" (Menjadi Warga China) yang muncul akhir tahun lalu maupun "Chinamaxxing" tahun ini mencerminkan semakin besarnya keinginan kedua rakyat untuk saling mendekatkan diri.
Pihak China menyambut lebih banyak pelajar AS untuk belajar di China, serta lebih banyak warga AS untuk memanfaatkan kebijakan transit bebas visa selama 240 jam dan sistem pengajuan visa daring China guna berkunjung ke China dan menikmati perjalanan yang luar biasa, ujar Xie.
Xie juga berharap pihak AS menghapus hambatan dalam pengajuan visa dan proses masuk perbatasan bagi warga negara China, menghentikan langkah-langkah selektif dan diskriminatif terhadap pengunjung asal China, serta menambah jumlah penerbangan langsung guna lebih membuka potensi pertukaran antarmasyarakat.
Xie menyampaikan pernyataan itu dalam wawancara terbaru dengan Newsweek mengenai kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China dan hubungan China-AS.
Dia menekankan pula bahwa di tengah dunia yang semakin bergejolak, nilai strategis hubungan China-AS semakin menonjol.
Dalam wawancara itu, Xie mengatakan bahwa Presiden Xi Jinping dan Presiden Trump saling menghormati dan terus menjaga komunikasi yang erat.
Sejak tahun lalu, kedua pemimpin itu telah berbicara melalui telepon sebanyak lima kali dan saling bertukar sejumlah surat, serta mengadakan pertemuan yang sukses di Busan, Korea Selatan.
Pertemuan ini membantu menyesuaikan ulang arah hubungan China-AS dan mengarahkannya menuju stabilitas secara keseluruhan.
Xie menyatakan harapannya bahwa pertemuan antara kedua kepala negara akan menentukan arah yang tepat bagi perkembangan hubungan China-AS di masa depan, membuka jalan untuk memperpanjang daftar dialog dan kerja sama serta memajukan agenda positif, sekaligus memperpendek daftar masalah dan mengelola perbedaan dengan tepat.
Hal itu tidak hanya akan mendorong perkembangan hubungan bilateral yang stabil, sehat, dan berkelanjutan tahun ini, tetapi juga membuka jalan yang tepat bagi China dan AS untuk hidup berdampingan di era baru berdasarkan saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, serta kerja sama yang saling menguntungkan, tutur Xie.
Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa perang tarif dagang merugikan kepentingan kedua pihak, dan berdampak buruk bagi seluruh dunia, ujar Xie.
Dia menambahkan bahwa di bawah arahan kedua pemimpin, China dan AS mencapai serangkaian kesepahaman bersama melalui konsultasi ekonomi dan perdagangan, serta berhasil menstabilkan hubungan dalam bidang perekonomian dan perdagangan bilateral.
Hal ini tidak diraih dengan mudah dan harus dijaga dengan baik, tetapi masih jauh dari cukup, kata Xie, seraya menyatakan harapan bahwa pihak AS akan melangkah lebih jauh dan sepenuhnya menghapus tarif sepihak serta langkah-langkah pembatasan lainnya.
Mengenai persoalan Taiwan, Xie mengatakan bahwa dia percaya rakyat AS, yang pernah menghadapi ancaman perpecahan dan mengalami Perang Saudara dalam sejarahnya, dapat memahami tekad dan kemauan China untuk menjaga persatuan nasional.
Pihak China mendesak AS agar berkomitmen pada prinsip Satu China dan tiga komunike bersama China-AS melalui tindakan nyata, membuat pilihan yang tepat sesegera mungkin, serta secara mendasar menghilangkan hambatan terbesar dalam hubungan China-AS, yakni persoalan Taiwan, yang berisiko menyeret kedua negara ke dalam konfrontasi dan konflik, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan hubungan bilateral, kata Xie.
Ketika ditanya mengenai isu fentanil, Xie mengatakan bahwa krisis fentanil di AS tidak disebabkan oleh China. Namun demikian, China berupaya semaksimal mungkin memberikan bantuan dengan itikad terbaik berdasarkan semangat kemanusiaan dan demi persahabatan China-AS.
Dia mendesak pihak AS untuk menghargai dan menjunjung tinggi niat baik China, memandang hasil kerja sama bilateral secara adil, berhenti menyalahkan China atas persoalan fentanil, tidak memberlakukan tarif alternatif sebagai pengganti tarif terkait fentanil, serta segera mencabut China dari daftar "negara sumber utama narkotika."
Mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Xie mengatakan bahwa dunia tidak ingin melihat adanya "Tirai Besi" dalam AI maupun upaya pengucilan teknologi, apalagi rivalitas bergaya Star Wars dalam bidang AI.
Xie berharap pihak AS dapat bekerja bersama China ke arah yang sama untuk memperkuat dialog, mengelola persaingan, dan menjalankan kerja sama, sehingga AI dapat menjadi bidang baru bagi kerja sama China-AS sekaligus tangga baru bagi kemajuan umat manusia.
Berbicara mengenai meningkatnya kecenderungan di antara masyarakat di negara-negara Barat yang menganggap budaya China sebagai sesuatu yang trendi, Xie mengatakan bahwa tren "Becoming Chinese" (Menjadi Warga China) yang muncul akhir tahun lalu maupun "Chinamaxxing" tahun ini mencerminkan semakin besarnya keinginan kedua rakyat untuk saling mendekatkan diri.
Pihak China menyambut lebih banyak pelajar AS untuk belajar di China, serta lebih banyak warga AS untuk memanfaatkan kebijakan transit bebas visa selama 240 jam dan sistem pengajuan visa daring China guna berkunjung ke China dan menikmati perjalanan yang luar biasa, ujar Xie.
Xie juga berharap pihak AS menghapus hambatan dalam pengajuan visa dan proses masuk perbatasan bagi warga negara China, menghentikan langkah-langkah selektif dan diskriminatif terhadap pengunjung asal China, serta menambah jumlah penerbangan langsung guna lebih membuka potensi pertukaran antarmasyarakat.





