Modus Operandi Judol internasional: Beroperasi di Satu Negara, Buru Korban di Negara Lain

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Penangkapan, penggempuran, dan penghancuran kompleks scam/judi online oleh otoritas Thailand di Myanmar dan Kamboja bukan akhir dari operasi kejahatan transnasional tersebut.

Judi online kini justru bermuara ke negara lain untuk melancarkan operasi, termasuk Indonesia.

Pada pekan lalu, kepolisian menggerebek gedung perkantoran di bilangan Jakarta Barat, Hayam Wuruk Plaza Tower, yang dijadikan markas judi online jaringan internasional.

Sebanyak 320 Warga Negara Asing (WNA) dan satu WNI berhasil ditangkap.

Ratusan WNA yang diamankan itu berasal dari berbagai negara, yakni Vietnam 228 orang, China 57 orang, Myanmar 13 orang, Laos 11 orang, Thailand lima orang, serta masing-masing tiga orang dari Malaysia dan Kamboja.

Lantas, apakah Indonesia kini jadi markas judi online?

Pakar keamanan siber, Alfons Tanujaya berpandangan, markas judi online bukan berpindah ke Indonesia.

Baca juga: Saat Judol Menyeret Korban ke Pinjol, Lingkaran Gelap yang Menghantam Keluarga

Keberadaan aktivitas bandar judi online di Hayam Wuruk, Jakarta Barat, justru semakin mengonfirmasi pola kejahatan transnasional selalu seperti itu—berpindah dari satu negara ke negara lain.

"Jangan sampai salah anggap bahwa Indonesia, semua pindah ke Indonesia. Dari Kamboja pindah ke Indonesia, Kamboja yang antah-berantah pindah ke Indonesia, bukan begitu. Ini memang terjadi di mana-mana, gitu, loh," kata Alfons saat dihubungi Kompas.com, Selasa (12/5/2026).

Sasar korban di negara lain

Alfons mengungkapkan, keberadaan markas di Indonesia juga memiliki arti penting lain, yakni adanya aktivitas menjerat warga negara lain dari Indonesia.

Ia menduga, mayoritas korban adalah warga Vietnam, mengingat 228 operator dari 320 orang yang diamankan dalam penggerebekan adalah orang Vietnam.

"Jadi yang tertangkap (di Hayam Wuruk) ini kemungkinan besar market-nya adalah Vietnam atau China atau Thailand sesuai dengan kewarganegaraan. Kenapa? Karena untuk nipu orang Vietnam, pakai bahasa Vietnam, bukan pakai orang Indonesia gitu," beber Alfons.

Baca juga: Menkomdigi Janji Terus Perangi Akses Judol Usai Ratusan Ribu Anak Terpapar

"Anda nipu orang Indonesia pakai orang Vietnam, ngomong apa? Bahasa dong? Kan konyol. Jadi itu yang perlu disadari," imbuh Alfons.

Sementara itu berdasarkan temuan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri, praktik judi online yang menargetkan masyarakat Indonesia diduga beroperasi di Kamboja.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Ade Safri Simanjuntak mengatakan, hal itu diketahui setelah penyidik melakukan patroli siber platform judi online yang dapat diakses masyarakat Indonesia, yakni CIVICTOTO dan JALUTOTO.

Kedua situs tersebut menyediakan berbagai jenis permainan, seperti judi kasino, togel, slot, e-lottery, arcade, hingga poker.

Transaksi deposit dan withdraw melalui rekening bank di Indonesia, sehingga diduga kuat menargetkan masyarakat Indonesia sebagai pengguna.

"Situs tersebut menggunakan sistem deposit dan withdraw melalui rekening bank di Indonesia, sehingga diduga kuat situs tersebut menargetkan masyarakat Indonesia sebagai pengguna atau market," tutur Ade.

Seturut hasil profiling, polisi menangkap pemilik sekaligus pengendali situs judi online berinisial LT alias T (40) di kediamannya di kawasan BSD City, Tangerang, Banten.

Baca juga: Ditjen Imigrasi Identifikasi 15 Sponsor WNA Terkait Judol di Hayam Wuruk

Tersangka telah menjalankan operasional sejak 2022 dengan melibatkan 17 karyawan yang seluruhnya berada di Kamboja.

"Mereka terdiri dari 1 manager, 2 admin, 13 operator dan 1 auditor untuk menjalankan operasional situs judi online yang seluruhnya berada di Kamboja," jelas Ade.

Sulit ditangkap

Alfons menjelaskan, metode ini digunakan agar aktivitasnya sulit ditangkap aparat berwenang.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Kejahatan lintas negara kerap menuntut kerja sama aparat penegak hukum di berbagai negara pula.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KDM Ajak Warga Tinggalkan Cara Pandang Klenik ke Situs Sunda Kuno
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Prediksi PSBS Biak Vs Arema FC di BRI Super League: Wajar Kalau Menang, Keterlaluan jika Kalah
• 1 jam lalubola.com
thumb
Etnografi Ganja dalam Politik Kesehatan Indonesia
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
”Love Scamming”, Cinta Palsu dari Balik Jeruji
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Polda Metro Pastikan Ibadah Kenaikan Yesus Kristus Aman, 860 Gereja Dijaga Ketat
• 18 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.