Beijing (ANTARA) - Kementerian Luar China tidak merinci apa saja kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump di Beijing dan hanya menyebut Taiwan menjadi isu terpenting dalam hubungan kedua negara itu.
"Kedua kepala negara sepakat mengenai visi baru untuk membangun hubungan China-AS yang konstruktif dan memiliki stabilitas strategis dan sebagaimana disampaikan Presiden Xi Jinping dalam pembicaraan dengan Presiden Trump, isu Taiwan merupakan isu paling penting dalam hubungan China-AS," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Kamis.
Dalam pertemuan bersejarah di Balai Besar Rakyat pada Kamis (14/5), Presiden Xi dan Presiden Trump mengikuti upacara kenegaran sejak 10.00 waktu setempat, melakukan pertemuan bilateral selama 2 jam 15 menit, mengunjungi Kuil Langit di Beijing serta bersama-sama menghadiri jamuan makan malam kenegaraan.
Meski berulang kali menyampaikan bahwa hubungan China dan AS yang saling bersahabat dan stabil lebih menguntungkan dibanding saling berkompetisi, tapi kedua presiden itu tidak menyebutkan secara rinci hal apa saja yang dibicarakan, terlebih Presiden Trump membawa 17 orang pemimpin perusahaan besar di AS.
"Pertemuan hari ini akan memberikan panduan strategis bagi hubungan China-AS dalam tiga tahun ke depan dan seterusnya," ucap Guo Jiakun seraya menambahkab bahwa "stabilitas strategis yang konstruktif" untuk tujuan hubungan China-AS berarti stabilitas yang positif dengan kerja sama sebagai arus utama.
China, kata Guo Jiakun, bersedia bekerja sama dengan AS untuk menerjemahkan visi baru ini ke dalam tindakan yang bergerak ke arah yang sama, serta bersama-sama mengupayakan perkembangan hubungan China-AS yang stabil, sehat, dan berkelanjutan.
Jika isu Taiwan dikelola dengan baik, menurut Guo Jiakun, hubungan bilateral akan menikmati stabilitas secara keseluruhan.
"Sebaliknya, kedua negara akan mengalami gesekan bahkan konflik, yang menempatkan keseluruhan hubungan dalam bahaya besar. 'Kemerdekaan Taiwan' dan perdamaian di Selat Taiwan sama tidak dapat didamaikannya seperti api dan air," ujar Guo Jiakun.
Menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan merupakan titik temu terbesar antara China dan AS.
"AS harus sangat berhati-hati dalam menangani isu Taiwan," tegas Guo Jiakun.
Sedangkan mengenai isu spesifik lain seperti Iran, penjualan daging sapi dari AS dan lainnya, Guo Jiakun menjelaskan bahwa kedua kepala negara bertukar pandangan mengenai situasi Timur Tengah serta isu-isu internasional dan regional penting lainnya.
"Dalam pembicaraannya dengan Presiden Trump pagi ini, Presiden Xi Jinping menyampaikan bahwa kedua negara harus memperluas pertukaran dan kerja sama di berbagai bidang, seperti ekonomi dan perdagangan, serta pertanian," ungkap Guo Jiakun.
Baca juga: Trump mulai lawatan ke China, isu Iran dan Taiwan jadi sorotan
Baca juga: Presiden Xi tekankan AS harus hati-hati bertindak soal Taiwan
"Kedua kepala negara sepakat mengenai visi baru untuk membangun hubungan China-AS yang konstruktif dan memiliki stabilitas strategis dan sebagaimana disampaikan Presiden Xi Jinping dalam pembicaraan dengan Presiden Trump, isu Taiwan merupakan isu paling penting dalam hubungan China-AS," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Kamis.
Dalam pertemuan bersejarah di Balai Besar Rakyat pada Kamis (14/5), Presiden Xi dan Presiden Trump mengikuti upacara kenegaran sejak 10.00 waktu setempat, melakukan pertemuan bilateral selama 2 jam 15 menit, mengunjungi Kuil Langit di Beijing serta bersama-sama menghadiri jamuan makan malam kenegaraan.
Meski berulang kali menyampaikan bahwa hubungan China dan AS yang saling bersahabat dan stabil lebih menguntungkan dibanding saling berkompetisi, tapi kedua presiden itu tidak menyebutkan secara rinci hal apa saja yang dibicarakan, terlebih Presiden Trump membawa 17 orang pemimpin perusahaan besar di AS.
"Pertemuan hari ini akan memberikan panduan strategis bagi hubungan China-AS dalam tiga tahun ke depan dan seterusnya," ucap Guo Jiakun seraya menambahkab bahwa "stabilitas strategis yang konstruktif" untuk tujuan hubungan China-AS berarti stabilitas yang positif dengan kerja sama sebagai arus utama.
China, kata Guo Jiakun, bersedia bekerja sama dengan AS untuk menerjemahkan visi baru ini ke dalam tindakan yang bergerak ke arah yang sama, serta bersama-sama mengupayakan perkembangan hubungan China-AS yang stabil, sehat, dan berkelanjutan.
Jika isu Taiwan dikelola dengan baik, menurut Guo Jiakun, hubungan bilateral akan menikmati stabilitas secara keseluruhan.
"Sebaliknya, kedua negara akan mengalami gesekan bahkan konflik, yang menempatkan keseluruhan hubungan dalam bahaya besar. 'Kemerdekaan Taiwan' dan perdamaian di Selat Taiwan sama tidak dapat didamaikannya seperti api dan air," ujar Guo Jiakun.
Menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan merupakan titik temu terbesar antara China dan AS.
"AS harus sangat berhati-hati dalam menangani isu Taiwan," tegas Guo Jiakun.
Sedangkan mengenai isu spesifik lain seperti Iran, penjualan daging sapi dari AS dan lainnya, Guo Jiakun menjelaskan bahwa kedua kepala negara bertukar pandangan mengenai situasi Timur Tengah serta isu-isu internasional dan regional penting lainnya.
"Dalam pembicaraannya dengan Presiden Trump pagi ini, Presiden Xi Jinping menyampaikan bahwa kedua negara harus memperluas pertukaran dan kerja sama di berbagai bidang, seperti ekonomi dan perdagangan, serta pertanian," ungkap Guo Jiakun.
Baca juga: Trump mulai lawatan ke China, isu Iran dan Taiwan jadi sorotan
Baca juga: Presiden Xi tekankan AS harus hati-hati bertindak soal Taiwan





