Nadiem Sangat Disayangkan

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

(Artikel opini ini ditulis Prof. Didik J Rachbini, Ph.D. Rektor Universitas Paramadina)

VIVA – Gagasan digitalisasi pendidikan adalah proyek besar nasional, yang hendak mentransformasikan dunia pendidikan menjadi modern dan selangkah lebih maju dibandingkan dengan negara-negara emerging market lainnya.  Karena itu biaya proyek ini ini sangat besar hampir Rp10 triliun atau 2 kali dari proyek e-KTP, yang juga berantakan dan hasilnya nihil karena dikorupsi petinggi partai. 

Baca Juga :
Deretan Artis Ini Bereaksi Keras Bela Nadiem Makarim usai Dituntut 18 Tahun Penjara
Tuntutan 18 Tahun ke Nadiem Dinilai Abaikan Fakta Persidangan, Pengacara Soroti Pembuktian Jaksa

Pertanyaan yang sama proyek digitalisasi ini hasilnya apa? Hampir tidak ada bekasnya yang memadai dan tidak menghasilkan transformasi apa pun. Dana pajak yang besar juga menguap tanpa hasil yang nyata.

Proyek ini secara administratif dan kebijakan sudah salah kaprah sejak awal karena menganggap bahwa transformasi sistem pendidikan modern bisa disulap dengan cara tekno-sulusi (tech-solutionism). Dengan memasukkan sepotong gadget dan internet ke sekolah, maka transformasi dapat dilakukan secara cepat dan evolusioner, seperti e-commerce, e-marketing, digital bisnis dan jenis teknologi informasi lainnya.  

Jokowi dengan merekrut orang hebat seperti Nadiem Makarim berkeyakinan seperti ini karena memang sejak awal silau dengan AI, teknologi informasi, survey, dll. Karena itu, Jokowi langsung yang "endorse" proyek tersebut dan menyampaikannya secara terbuka.

Dengan proyek yang salah kaprah sejak awal, pengelolaan yang amburadul serta hasil yang mengecewakan, maka hukum masuk ke dalamnya sampai terjadi kontroversi berbulan-bulan. Nadiem dibela orang-orang hebat, diangkat sebagai “pahlawan” melawan kebathilan hukum dan tidak salah dengan proyek ini karena tidak ditemukan bukti memperkaya diri.

Jadi, transformasi pendidikan melalui digitalisasi gadget ini salah sejak awal sehingga pelaksanaan proyek itu menghasilkan output tanpa transformasi apa pun. Sejatinya, transformasi pendidikan tersebut harus melibatkan proses yang melibatkan seluruh substansi dan variabel penting, seperti kualitas guru, literasi dasar, budaya belajar dan sekolah, infratruktur listrik maupun internet, dan lainnya.  

Di sini Nadiem tidak bisa melakukannya karena modal sosial politik dan pengalamannya di bidang pendidikan tidak memadai. Gadget dan laptop memang merupakan instrumen modern, tetapi tidak bisa sebagai penyorong transformasi menuju modern dan tidak otomatis meningkatkan kualitas belajar.

Baca Juga :
Nadiem Makarim Dituntut 18 Tahun Penjara, Jaksa Bongkar Skema Fraud Kerah Putih
Bantah Jaksa, Nadiem Makarim Tegaskan Kenaikan Harta Rp4,87 Triliun dari Nilai IPO GOTO 2022
Harta Nadiem Makarim Naik Rp4,87 Triliun, Jaksa Duga Dari Korupsi Chromebook
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
WIKA Beton (WTON) Bagi Dividen Rp0,46 per Saham
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
Jadwal MotoGP dan Moto3: Mario Aji Absen, Tinggal Veda Ega Wakil Indonesia di GP Catalunya 2026
• 22 menit lalukompas.tv
thumb
Perahu WNI Tenggelam di Malaysia dan Tewaskan 9 Orang, Anggota DPR Desak Mafia Pengirim PMI Ditindak
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Polda Metro Pastikan Ibadah Kenaikan Yesus Kristus Aman, 860 Gereja Dijaga
• 22 jam laludetik.com
thumb
Adu Statistik di Moto3 Catalunya: Veda Ega Pratama Lebih Gacor dari Hakim Danish, Kans Podium Makin Terbuka
• 20 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.