jpnn.com - SITUBONDO - Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo, Asembagus Situbondo, yang juga Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Ahmad Azaim Ibrahimy meminta PBNU merangkul semua kadernya.
Hal itu disampaikannya dalam obrolan bersama rombongan salah satu kandidat Ketum PBNU KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.
BACA JUGA: Muktamar ke-35 NU Dijadwalkan 1-5 Agustus 2026, Lokasi Segera Ditentukan
"Ra Azaim meminta agar NU ke depan merangkul semua potensi yang dimiliki kader-kader NU,” kata KH Mas Cholil Nawawi yang turut mendampingi Gus Salam.
Menurut Mas Cholil, permintaan itu menggambarkan agar PBNU ke depan berorientasi untuk merangkul dan menyatukan kader-kader potensial dalam khidmah demi kemashlahatan umat, dan juga menghindari ketegangan dan konflik kepentingan dalam penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.
BACA JUGA: Gus Yahya Tegaskan Muktamar PBNU Bukan Batu Loncatan Pemilu 2029
Sementara itu, Gus Salam menuturkan bahwa beberapa kunjungannya merupakan bagian safari silaturahmi.
"Sekalian sowan ke Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Lalu ke Situbondo, nanti ke Paiton dan Sidoarjo,” kata Gus Salam.
BACA JUGA: Menyongsong Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama: Membincang Peluang, Menghitung Suara
“Di Situbondo saya mengkaji tentang NU ke Kiai Afifuddin Muhajir. Luar biasa pandangan beliau tentang peran strategis NU ke depan,” imbuhnya.
Gus Salam menuturkan, KH Afifuddin Muhajir menekankan tiga peran strategis sekaligus arah pergerakan serta perjuangan NU ke depan.
Pertama, NU harus menjadi benteng Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah, penjaga moral bangsa, dan pelindung NKRI.
Kedua, NU harus bisa memberi fatwa berkala kepada umat terkait problem sosial keagamaan-kebangsaan.
Ketiga, NU harus mandiri dalam ekonomi dan independen dalam sikap berbangsa-bernegara sesuai koridor fiqhiyyah.
Gus Salam mengatakan, safari silaturahminya menjelang muktamar ini memilik banyak tujuan, yakni berikhtiar menjalakan permintaan dan perintah guru-kiainya untuk khidmah NU melalui muktamar, juga merangkai kembali semua kekuatan NU sekaligus menggali permasalahan dan harapan-harapan mereka. (*/jpnn)
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan




