Analisis Pakar soal Pertemuan Bersejarah Trump dan Xi Jinping

detik.com
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, China. Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI), Asra Virgianita, menilai pertemuan tersebut lebih bersifat simbolik daripada menghasilkan kebijakan strategis.

"Pertemuan Xi-Trump di Beijing lebih banyak menghadirkan diplomasi simbolik ketimbang hasil substantif. Bagi pemerintahan Xi, pertemuan ini penting untuk menunjukkan kepada publik internasional dan domestik bahwa China tetap relevan dan dipandang dan diakui oleh Amerika Serikat sebagai mitra strategis," kata Asra kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).

"Sekaligus menegaskan status China sebagai kekuatan besar yang tidak bisa diabaikan," sambungnya.

Baca juga: Xi Jinping Ingatkan Trump: Salah Tangani Taiwan, China-AS Dalam Bahaya

Menurutnya, pernyataan Xi Jinping mengenai hubungan China dan AS baiknya menjadi mitra bukan rival, merupakan bagian dari upaya menggeser narasi rivalitas menuju kemitraan. Dia mengatakan hal itu penting untuk menampilkan citra China sebagai aktor yang konstruktif.

Sementara bagi Trump, kata dia, pertemuan tersebut menjadi kesempatan menegaskan pengaruh AS terhadap kebijakan China. Termasuk posisi Beijing terkait Iran dan Selat Hormuz.

"Karena China merupakan importir minyak terbesar dari kawasan tersebut, Trump menyakini China memiliki leverage untuk menekan Iran terkait blokade selat Hormuz," ujarnya.

Menurutnya, pujian Trump terhadap Xi Jinping merupakan upaya membangun kedekatan. Selain itu juga sebagai upaya menciptakan suasana positif dengan lawan.

Asra mengatakan kehadiran tokoh bisnis seperti Elon Musk, Jensen Huang, dan Tim Cook juga menegaskan dimensi ekonomi dan teknologi sebagai bagian penting dalam negosiasi bilateral. Asra mengatakan pertemuan tersebut sekaligus membangun citra Trump sebagai "deal maker" di mata publik domestik menjelang pemilu Oktober.

"Hal penting lainnya bagi Trump adalah menampilkan figur dirinya kepada publik domestik AS sebagai "deal maker" yang mampu bernegosiasi dengan rival strategis. Hal ini krusial bagi Trump menjelang pemilu Oktober, di mana citra kepemimpinan menjadi salah satu sorotan publik AS," tuturnya.

"Dengan demikian, pertemuan ini lebih berfungsi sebagai "panggung" simbolik dan upaya memastikan rivalitas kedua negara berdampak terbatas/terkontrol, alih-alih sebagai pertemuan yang menghasilkan keputusan yang strategis bagi permasalahan global hari ini," imbuh dia.


(amw/idh)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Avtur Naik, Maskapai Bisa Naikkan Tarif Tiket Pesawat hingga 50%
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Kebun Raya Banua Kalsel temukan 56 spesies tumbuhan langka
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Gubernur Khofifah Resmikan Revitalisasi 45 SMA, SMK, SLB Negeri dan Swasta di Tulungagung, Trenggalek, dan Pacitan
• 12 menit lalutvonenews.com
thumb
Polda Metro Pastikan Ibadah Kenaikan Yesus Kristus Aman, 860 Gereja Dijaga Ketat
• 23 jam laludisway.id
thumb
Viral WNA Dijambret di Bundaran HI, Jakarta Makin Tak Aman?
• 4 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.