PERNYATAAN Menteri Komunikasi dan Digital sebagaimana dikutip dari KOMPAS.com bahwa “200.000 anak Indonesia terpapar judi online” dan situasi ini merupakan “kehancuran masa depan anak” menggambarkan tingkat kedaruratan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat digital hari ini.
Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana mungkin ruang digital dapat dengan mudah membentuk perilaku anak-anak, sementara institusi pendidikan, keluarga, dan lingkungan sosial tampak kehilangan daya pengaruhnya?
Fenomena ini bukan sekadar persoalan lemahnya pengawasan atau moral individu, melainkan tanda adanya perubahan besar dalam lanskap kebudayaan tempat anak-anak tumbuh dan belajar.
Hari ini, anak tidak hanya dididik oleh sekolah dan keluarga, tetapi juga oleh algoritma, budaya media, dan logika ekonomi digital yang bekerja tanpa henti membentuk hasrat, perhatian, dan imajinasi mereka tentang kehidupan.
Dalam perspektif antropologi pendidikan, sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan.
Sekolah merupakan ruang pembentukan makna, nilai, kebiasaan, dan cara manusia memahami dunia.
Pendidikan karenanya berkaitan dengan kebudayaan, sebab melalui pendidikan suatu masyarakat mewariskan cara hidupnya kepada generasi berikutnya.
Karena itu, persoalan judi online pada anak sebenarnya membuka pertanyaan yang lebih dalam: nilai-nilai seperti apa yang sedang diwariskan masyarakat melalui sekolah hari ini?
Baca juga: Diplomasi Bebek Lumpuh Trump ke Beijing
Proses belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas. Anak belajar dari bahasa yang mereka dengar setiap hari, dari pola konsumsi keluarga, dari media sosial, dari relasi ekonomi di lingkungan sekitar, hingga dari simbol-simbol yang dianggap normal dalam masyarakat.
Dengan kata lain, pendidikan berlangsung di seluruh ruang kebudayaan.
Sekolah kini bukan lagi satu-satunya pusat pembentukan kesadaran anak. Otoritas pendidikan telah terpecah.
Jika dahulu guru dan keluarga menjadi sumber utama nilai sosial, hari ini posisi tersebut bersaing dengan algoritma digital, influencer, platform hiburan, dan industri media global.
Anak-anak hidup dalam dunia digital yang terus-menerus memproduksi hasrat instan.
Dunia yang menawarkan sensasi cepat, kemenangan cepat, hiburan cepat, dan uang cepat.
Judi online tumbuh subur dalam kultur semacam itu karena ia tidak hadir sebagai aktivitas yang tampak kriminal, melainkan sebagai bagian dari budaya hiburan sehari-hari.
Dalam banyak masyarakat modern, keberhasilan semakin diukur melalui konsumsi dan pencapaian ekonomi.
Anak-anak sejak dini menyaksikan bahwa pengakuan sosial sering datang dari kepemilikan barang, popularitas digital, dan kemampuan menghasilkan uang.
Budaya semacam ini menciptakan imajinasi sosial bahwa keberuntungan dan kekayaan dapat diperoleh tanpa proses panjang.





