Trump Tiba di Beijing, Analisis: Trump Memegang Banyak Kartu Truf dalam Kunjungannya

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah tiba di Bandara Beijing pada Rabu malam waktu setempat (13 Mei) dan mendapat penyambutan dengan standar tinggi dari Partai Komunis Tiongkok (PKT). Sebelumnya sempat beredar rumor bahwa CEO Nvidia Jensen Huang tidak ikut dalam rombongan kunjungan tersebut, namun Trump secara pribadi mengunggah klarifikasi dan memastikan Huang ikut serta dalam rombongan. 

Di sisi lain, gaya berpakaian khusus Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menarik perhatian dan ditafsirkan publik sebagai sinyal politik tersembunyi. Sebelum berangkat, Trump mengatakan bahwa baik AS maupun Tiongkok sama-sama menantikan pertemuan ini karena “banyak hal baik akan segera terjadi.” Sejumlah analis menilai bahwa Trump datang ke Beijing dengan memegang banyak kartu truf.

EtIndonesia. Setelah tiba di Bandara Beijing, Presiden AS Donald Trump disambut dengan karpet merah berstandar tinggi. Wakil Presiden PKT serta Menteri Luar Negeri PKT datang langsung ke bandara untuk menyambutnya.

Kali ini, Trump memimpin delegasi besar ke Beijing. Selain sejumlah pejabat inti yang ikut mendampingi, di antara perwakilan bisnis yang ikut serta, CEO Nvidia Jensen Huang menjadi sosok yang paling menarik perhatian publik.

Sebelumnya media melaporkan bahwa Huang tidak masuk dalam daftar kunjungan ini, sehingga memicu spekulasi bahwa Trump terus memperketat pembatasan teknologi chip canggih terhadap Tiongkok. Namun pada Selasa malam (12 Mei), Trump mengunggah pernyataan yang membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai berita palsu.

“Banyak bisnis Huang berada di Tiongkok. Jika dia tidak ikut, itu akan memberi kesan bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok tidak punya banyak hal untuk dibicarakan. Terutama terkait chip H200 milik Jensen Huang yang sebenarnya belum dibeli oleh Tiongkok,” ujar peneliti dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi.

“Namun karena akhirnya dia ikut, kemungkinan Trump berharap Jensen Huang bisa menjadi salah satu juru bicara utama dalam negosiasi AS-Tiongkok, atau mewakili arah kebijakan Amerika Serikat. Bagaimanapun juga, dia keturunan Tionghoa dan memiliki interaksi yang sangat dekat dengan PKT,” ujarnya. 

Di sisi lain, penampilan Rubio—yang pernah dijatuhi sanksi oleh PKT—juga memicu banyak perbincangan. Ia terlihat mengenakan setelan olahraga abu-abu merek Nike dan berdiri serius di dalam pesawat Air Force One. Pakaian itu disebut-sebut identik dengan pakaian yang dikenakan militer AS saat menangkap mantan diktator Venezuela Nicolás Maduro. Publik menafsirkan pakaian tersebut sebagai simbol “politik busana”.

Beberapa komentar publik menyebut: “Ini jelas peringatan kepada Xi Jinping!” Ada pula warga yang bercanda: “Apakah mereka akan menangkap Xi?” dan “Kalau itu benar terjadi, itu akan menjadi peristiwa politik paling gila dalam seratus tahun terakhir, dan dunia mungkin benar-benar berubah drastis.”

“Sama seperti bahasa tubuh, pakaian yang dikenakannya tentu memiliki makna. Pesannya adalah: hari ini saya datang, tetapi Beijing adalah pemerintahan otoriter. Saya datang untuk bernegosiasi dengan PKT, dan penantang atau ancaman saya hanyalah PKT, bukan rakyat Tiongkok secara luas,” ujar Direktur Institut Strategi Pertahanan dan Industri dari Akademi Pertahanan Nasional Taiwan, Su Ziyun. 

Perlu dicatat, saat masih menjabat senator, Rubio dua kali dijatuhi sanksi oleh Beijing karena sikap kerasnya dalam membela hak asasi manusia, termasuk larangan masuk ke Tiongkok. Namun setelah ia menjadi Menteri Luar Negeri AS, PKT diam-diam mencabut pembatasan tersebut.

Sebelum berangkat, Trump dengan tegas mengatakan bahwa ia akan meminta PKT membuka pasar bagi Amerika Serikat guna membalik ketidakseimbangan perdagangan antara kedua negara.

Mengenai isu Iran, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak memerlukan bantuan PKT baik dalam perang maupun ekonomi. Meskipun PKT adalah pembeli terbesar minyak Iran, sejumlah besar minyak Iran telah diblokade di Selat Hormuz.

Analisis menyebutkan bahwa di tengah ekonomi Tiongkok yang terus melemah dan pertikaian internal yang semakin sengit, Beijing tidak ingin hubungan AS-Tiongkok memburuk lebih jauh.

Publik juga menilai bahwa dibandingkan dengan KTT AS-Tiongkok tahun 2017, hubungan kedua negara kini telah mengalami perubahan mendasar. Pertemuan “Trump-Xi” kali ini kemungkinan besar akan menghasilkan kemajuan di bidang ekonomi dan perdagangan, sementara isu Taiwan diperkirakan tidak akan mengalami perubahan besar.

“Trump datang dengan tangan penuh kartu, termasuk isu Iran, isu teknologi, dan isu pasar. Sementara PKT kembali mengulang isu Taiwan seperti biasa,” ujar Su Ziyun. 

Laporan wartawan NTD Television, Chen Yue dan Chang Chun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Amikom Tambah Guru Besar, Prof Arief Setyanto Soroti Peran AI untuk Pendidikan dan Pertanian
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Yusril Nilai Kritik di Film Pesta Babi Wajar, Tegaskan Pembubaran Nobar Bukan Instruksi Pemerintah
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat, Warga Diminta Pakai Masker
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Motor Hilang? Begini Cara Cek Motor yang Ditemukan Polisi
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Kemarin, dugaan kejahatan kasus Nadiem hingga 6.779 tindakan imigrasi
• 6 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.