Hamas menyampaikan ingin mengadakan pertemuan langsung dengan Gerakan Pembebasan Nasional Palestina (Fatah) untuk membahas strategi nasional bersama setelah berakhirnya konferensi umum kedelapan Fatah.
Hossam Badran Kepala Kantor Hubungan Nasional Hamas sekaligus anggota biro politiknya, mengatakan bahwa konferensi itu merupakan sebuah kesempatan untuk mencapai perubahan dalam hubungan nasional internal Palestina, yang digadang dapat mewujudkan peningkatan kesiapan dan persiapan untuk menghadapi rencana Israel.
Sementara itu, Badran menduga Israel berupaya untuk menghalangi hingga melenyapkan perjuangan Palestina secara efektif dengan memanfaatkan situasi internasional dan regional saat ini.
Oleh karenanya, Badran menyerukan kepada kepemimpinan Fatah untuk mengadakan pertemuan langsung dengan pihaknya usai konferensi berakhir. Pertemuan ini ditujukan guna menyepakati sebuah strategi nasional Palestina mengenai semua isu yang menyangkut rakyat Palestina selama masa rentan ini.
“Sudah saatnya kita mengatasi perbedaan pendapat serta dampak dari masa lalu (dan fokus pada) masa kini maupun masa depan berdasarkan kemitraan nasional dan tanggung jawab bersama,” kata Badran yang dikutip dari Antara.
Langkah politik dan aksi nyata yang sepadan dengan pengorbanan rakyat Palestina menurutnya penting untuk dilakukan.
Untuk diketahui, Fatah merupakan faksi terbesar dalam Organisasi Pembebasan Palestina dan telah menjadi kekuatan dominan di Otoritas Palestina yang didirikan di bawah kepemimpinan mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat pada 1959.
Konferensi umum Fatah kedelapan dibuka pada Kamis di Kota Ramallah, Tepi Barat, dengan sesi-sesi yang diadakan secara bersamaan di Gaza, Kairo, dan Beirut.
Konferensi tersebut diharapkan dapat menghasilkan nama-nama jajaran anggota untuk Komite Sentral dan Dewan Revolusioner selaku dua badan kepemimpinan tertinggi dalam gerakan tersebut.
Melansir kantor berita WAFA, pada hari pertama penyelenggaraannya, Fatah mengadakan pemilihan Mahmoud Abbas Presiden Palestina sebagai pemimpinnya.
Adapun konferensi umum Fatah ketujuh diadakan di Ramallah pada 2016, di mana Abbas juga terpilih kembali sebagai pemimpin gerakan tersebut.
Fatah dan Hamas telah berselisih sejak 2007, ketika Hamas menguasai Gaza, sementara Fatah tetap dominan di Tepi Barat.
Kedua faksi Palestina itu terlibat dalam beberapa putaran perundingan di Beijing dan Kairo selama beberapa tahun terakhir guna mendorong rekonsiliasi internal Palestina dan membahas pengaturan pascaperang di Gaza.(ant/mar/ris/iss)




