MALANG, KOMPAS - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur bersama Javan Langur Center-The Aspinall Foundation Indonesia Program baru saja melepasliarkan tujuh ekor lutung jawa ke Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung atau Nusa Barong di selatan Kabupaten Jember, Jatim. Selain menambah populasi, pelepasliaran juga menambah “darah segar” variasi genetika lutung di tempat itu.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jatim Nur Patria Kurniawan mengatakan, sebanyak 7 ekor lutung jawa (Trachypithecus auratus) itu terdiri atas 2 ekor jantan dan 5 ekor betina. Mereka terbagi dalam 2 koloni, masing-masing 3 dan 4 ekor yang dilepasliarkan di dua lokasi berbeda di Nusa Barung.
“Di sana telah ada populasi lutung. Sebelumnya, kami juga sudah melakukan pelepasliaran di tempat itu. Alhamdulillah survive dan kini kami kembali melakukan pelepasliaran lagi di sana,” ujar Nur Patria saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (15/5/2026).
Melalui pelepasliaran yang dilakukan beberapa hari lalu itu, jumlah lutung jawa di Nusa Barung dipastikan bertambah. Namun, sejauh ini, belum diketahui angka pasti populasi primata tersebut di Nusa Barung. “Kalau yang dilepasliarkan sudah 20-an ekor,” ucapnya.
BBKSDA Jatim melakukan kegiatan konservasi lutung bekerjasama dengan Javan Langur Center (JLC)-The Aspinall Foundation Indonesia Program (TAFIP). Begitu mendapat penyerahan dari masyarakat atau hasil kegiatan penindakan, lutung-lutung itu akan menjalani rangkaian proses rehabilitasi guna mengembalikan sifat alami mereka di JLC-TAFIP yang ada di Coban Talun, Kota Batu, Jatim. Begitu siap, baru mereka dikembalikan ke alam.
Di Jatim, kata Nur Patria, ada beberapa lokasi yang sudah diverifikasi dan dinyatakan layak untuk pelepasliaran lutung, di antaranya Nusa Barung, Cagar Alam Pulau Sempu di Malang, Cagar Alam Gunung Sigogor-Picis di Ponorogo, serta dataran tinggi Hyang di perbatasan Kabupaten Probolinggo, Jember, Situbondo, dan Bondowoso.
Selain itu, pelepasliaran juga dilakukan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Lumajang, tetapi wilayah itu berada di luar kawasan BBKSDA. Sejauh ini, upaya pelepasliaran membawa kabar gembira, yakni lutung-lutung itu telah berkembang biak.
Nur Patria juga membenarkan bahwa pelepasliaran satwa berpotensi menghadirkan darah segar (fresh blood) untuk perbaikan genetika lutung di Nusa Barung. Hal ini karena adanya tambahan lutung baru dari luar yang memiliki genetika berbeda.
“Di satu sisi menambah populasi karena ada koloni baru, sedangkan di sisi lain, begitu bertemu individu baru akan terjadi perkawinan sehingga terbentuk darah baru yang lebih baik. Karena, sebelum dilepasliarkan, mereka telah dicek kesehatannya dan lain sebagainya,” ujarnya.
Selain lutung, pada akhir April lalu, BBKSDA Jatim bersama Jaringan Satwa Indonesia dan berbagai unsur lintas sektor, juga melepasliarkan 64 ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) ke Nusa Barung.
Mengutip laman Kementerian Kehutanan, sebanyak 64 ekor monyet ekor panjang (43 jantan dan 21 betina) yang dilepasliarkan itu dalam kondisi sehat dan telah melalui tahapan rehabilitasi sebelum dilepasliarkan.
Satwa-satwa ini kemudian didistribusikan ke beberapa blok habitat di Nusa Barung dengan pendekatan berbeda. Sebagian melalui metode soft release di kandang habituasi Blok Jeruk dan sebagian lainnya melalui hard release di Blok Cedingan, Talok, dan Penjalinan.
Hutan di Pulau Nusa Barung ditunjuk sebagai Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Hindia Belanda Nomor GB 46 Stbl 1920 Nomor 736 tanggal 9 Oktober 1920 dan diperbaharui melalui SK Menteri Pertanian Nomor 110/VIII/1957 dengan luas 6.100 hektar.
Di satu sisi menambah populasi karena ada koloni baru, sedangkan di sisi lain, begitu bertemu individu baru akan terjadi perkawinan sehingga terbentuk darah baru yang lebih baik
Status Pulau Nusa Barung kemudian berubah menjadi Suaka Margasatwa melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.314/MENHUT-II/2013 tanggal 1 Mei 2013.
Berada di lepas pantai, pulau yang menghadap langsung ke Samudera Hindia itu memiliki beberapa jenis ekositem, mulai dari hutan pantai, mangrove, hingga hutan tropis dataran rendah.
Dalam ekosistem hutan pantai, jenis vegetasi yang dapat ditemukan di Nusa Barung, antara lain, putat (Barringtonia sp), waru laut (Hibiscus tiliaceus), kepuh (Sterculia foetida), nyamplung (Callophylum inophylum), ketapang (Terminalia cattapa), setigi laut (Pemphis acidula).
Adapun pada ekostem mangrove, jenis tumbuhannya antara lain bakau-bakauan (Rhizophoraceae.), api-api (Avicenia sp.), dan Rhizophora mucronata. Sedangkan pada ekosistem hutan tropis dataran rendah terdapat laban (Vitex pubescen), pancal kidang (Drypetas ovalia), kalak (Mitrephora javanica), perak (Vatica uralichii), dan sengir (Pleinocasium alsternatifolium).
Nusa Barung juga menyimpan beragam fauna, mulai dari reptil, seperti penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), biawak (Varanus salvator), dan piton (Phyton Sp). Juga ada mamalia, seperti rusa (Cervus timorensis), kera abu-abu (Macaca fascicularis), babi hutan (Sus Sp), dan lutung.
Selain itu berbagai aves, seperti elang laut (Haliarctus reincogaster), raja udang (Halcyon Sp), kuntul (Egreta Sp), walet (Collocalia esculenta), ayam hutan (Gallus gallus) dan kangkareng (Bucerus Sp), juga menempati kawasan itu.
Di satu sisi menambah populasi karena ada koloni baru, sedangkan di sisi lain, begitu bertemu individu baru akan terjadi perkawinan sehingga terbentuk darah baru yang lebih baik
Masih satu deret dengan Nusa Barung ke arah barat, lutung juga berkembang di Cagar Alam Pulau Sempu yang ada di selatan Malang. Sebelumnya, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda BBKSDA Jatim, Fajar Dwi Nur Aji, mengatakan, estimasi populasi lutung di Pulau Sempu sekitar 251 ekor.
Pada 2025, BBKSDA Jatim melaksanakan survei monitoring lima taksa, dengan fokus utama lutung jawa di Pulau Sempu. Hasil monitoring lutung jawa kala itu menjumpai 47 kelompok lutung dengan jumlah bervariasi, antara 2-15 ekor.
Menurut Fajar, kepadatan rata-rata populasi lutung jawa di Pulau Sempu sebesar 0,92 ekor per hektar atau mendekati satu ekor per hektar. Perilaku harian lutung jawa yang teramati dalam survei 2025 juga konsisten dengan literatur klasik, salah satunya terkait aktivitas istirahat, makan, bergerak, hingga interaksi sosial.





