Lumajang (beritajatim.com) – Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, ikut menyoroti kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Menurut pria yang akrab disapa Kak Seto ini, penting bagi orang tua untuk memberikan pendampingan terhadap anak saat berada di ruang digital.
Kak Seto berpendapat, untuk bisa mendampingi sang buah hati, setiap orang tua perlu memahami terlebih dahulu perkembangan teknologi digital saat ini.
“Tentu orang tua harus cakap digital, cerdas digital dahulu, kemudian menjadi sahabat anak. Jadi, bukan hanya mengawasi, tapi mendampingi langsung,” ucapnya saat berkunjung ke Lumajang, Jumat (15/5/2026).
Berdasarkan data Dinas Sosial Perlindungan Perempuan dan Anak (Dinsos-P3A) Lumajang, sepanjang tahun 2025 terdapat 72 laporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Dari jumlah tersebut, 19 kasus di antaranya menimpa perempuan dengan 53 kasus dialami langsung oleh anak. Sedangkan pada awal tahun 2026, tercatat satu kasus kekerasan terhadap perempuan dan tujuh kasus kekerasan terhadap anak.
Sebagai upaya menangani permasalahan tersebut, Kak Seto menyebut pihaknya kini sedang gencar mengampanyekan sebuah gerakan nasional yang disebut Saya Sahabat Anak (Sasana). “Ini gerakan nasional, Saya Sahabat Anak sudah kami mulai dari presiden sahabat anak, menteri sahabat anak,” tambahnya.
Kak Seto mengaku, dalam gerakan Sasana, pihaknya fokus mengajak anak untuk lebih aktif bermain dengan teman-temannya.
Tujuannya juga untuk mengontrol hingga membuat anak lupa dengan ruang digital yang ada pada gadget-nya. “Ini penting ya untuk mengajak bermain anak selama kira-kira 4,5 sampai 5 jam. Jika anak-anak asyik bermain bersama dengan teman-temannya tentu akan melupakan gadget-nya,” ungkap Kak Seto. (has/kun)




