Suatu pagi belum lama berselang. Di halaman rumah, ketika mengantar Si Sulung berangkat bekerja sekitar pukul 6.30 WIB. Saya melihat tetangga yang bekerja sebagai satuan petugas keamanan sebuah madrasah swasta, sehabis bertugas semalaman, pulang mengendarai sepeda motor klasik Yamaha V80 warna hijau. Dia melintas persis di samping motor anak saya. Ada anggukan kepala saat melihat saya.
Tidak biasanya, tetangga yang tinggal di rumah yang jaraknya hanya di antarai sebuah rumah yang tidak berpenghuni dan sebuah rumah lagi dari deretan rumah saya itu, mengendarai sepeda motor yang mendapat julukan Yamaha Robot tersebut. Ini baru pertama kali saya melihatnya. Tapi, bukan hal itu yang menjadi pengait utama perhatian saya. Melainkan fokus saya terarah pada motor jadul tersebut.
Semasa saya duduk di bangku kelas terakhir SMP Negeri 1 Salatiga. Itu terjadi pada Tahun Ajaran 1979/1980. Ayah dan ibu membelikan saya sebuah sepeda motor Yamaha V80 warna hijau. Kemudian kendaraan bermotor roda dua itu saya pakai terus hingga melintasi masa bersekolah di SMA Negeri 1 Salatiga dari Tahun Ajaran 1980/1981 hingga 1983/1984.
Sebelum kuliah ke Semarang, karena berbagai pertimbangan motor itu terpaksa dijual. Alhamdulillah, saya memiliki waktu hingga kisaran tiga tahunan membersamai Yamaha V80 itu. Banyak kenangan terajut, mulai harga motor yang hanya di angka nominal Rp400.000-an kala itu. Harga bensin hanya Rp250 per liter saat itu. Hingga kesempatan dolan bersama teman-teman sekolah saat Sabtu malam atau hari libur. Nonton di bioskop juga yang sering memutar film-film kungfu. Sebagian besar tempat kejadian di sekitar Salatiga, Jawa Tengah.
LegendarisBerbincang soal sepeda motor bebek 2-Tak legendaris yang pernah menjadi idola, sejarah otomotif global pun tidak akan ragu mengarahkan jari telunjuknya, salah satunya kepada Yamaha V80. Hasil produksi dari Yamaha Motor Co.,Ltd. Dipasarkan di Indonesia pada 1978 - 1986. Dengan sentuhan varian seperti V80 Excellent yang hadir di sesi mendekati pamungkas dalam tahun-tahun produksinya.
Motor Yamaha V80 menggunakan mesin 2-Tak 79 (ada yang menyebutnya 80) Cubic Centimeter (CC), Sistem Transmisi 3 Percepatan, dan menjadi populer kehadirannya pada saat itu lantaran perawatannya yang boleh terbilang relatif gampang. Dahulu, pada masanya, merupakan kompetitor yang relatif andal di kelas motor bebek. Penyebutan ini bisa jadi karena desain bodi dan bentuk sayap depannya menyerupai tubuh bebek. Terutama jika dilihat dari samping.
Dewasa ini, Yamaga V80 tetap populer dalam kapasitas statusnya sebagai motor klasik untuk koleksi para pencintanya. Motor jadul ini merupakan generasi penerus dari seri V yang lebih dahulu hadir, yaitu Yamaha V50 dan V75. Dan, realitas kala itu menjadi saksi betapa ia pantas menerima pengakuan sebagai pesaing utama motor bebek Honda.
Siapa pun pemerhati sejarah otomotif motor bebek di Tanah Air pastilah tidak akan mempertanyakan kebenaran, bahwa motor bebek (step-through) Honda telah hadir terlebih dahulu lewat model Honda Super Cub C100 pada awal dekade 1960-an dan menjadi pelopor desain tersebut. Kemudian pada 1973, Yamaha dengan V50 baru menyusul. Datang langsung dari Jepang secara completely built-up (CBU). Diimpor secara utuh, lengkap, dan siap pakai dari negara produsennya.
Kehadiran motor Honda yang sudah terlebih dahulu itu, sampai-sampai dalam percakapan sehari-hari di kalangan penutur bahasa Jawa (terutama generasi orang tua saya) memunculkan semacam kreativitas lingual. Yaitu penggunaan jenama motor itu sebagai kode verbal yang referensnya (maksud yang menjadi rujukan) adalah sepeda motor itu sendiri tanpa memedulikan mereknya.
Pernah ada masanya, seorang ayah atau ibu memperingatkan anaknya, dengan ukara (kalimat) bahasa Jawa, “Nang, kae lo hondane sing ning latar gage dileboke ning njero ngomah. Tak sawang mendhunge wis ndedhet. Sedhela meneh udan” (“Nang (sebutan untuk anak lelaki) itu lo honda yang di halaman, segera dimasukkan ke dalam rumah. Kulihat mendung makin tebal. Sebentar lagi pasti akan turun hujan”).
Dari perintah orang tua sebagaimana contohnya terkutip pada paragraf di atas, terdapat penggunaan kata “honda” yang tidak merujuk pada jenama atau identitas merek tetapi menggantikan referens benda berupa “kendaraan bermotor beroda dua”. Yang mengundang senyum, jika sepeda motor itu bermerek lain, seperti Suzuki, Kawasaki, atau yang lain termasuk Yamaha, tetap dengan rasa percaya diri dan mantap mereka sebut sebagai “honda”.
Motor Yamaha V80 mengalami proses produksi secara global dan merambah pasar Asia, Eropa, dan Amerika Latin seperti halnya di Indonesia, berada dalam ranah sejarah otomotif pada rentang waktu dari tahun 1978 hingga 1986. Mesin 2 Tak berkapasitas 79 (ada yang menyebut 80) CC itu memiliki satu silinder dan pendingin udara.
Mesin Yamaha V80 dapat menghasilkan tenaga kuda (horsepower/Hp), dengan ukuran seberapa kuat mesin mendorong motor di kisaran angka (6,7 ext{ Hp}). Dengan kapasitas tersebut, sepeda motor ini relatif bertenaga lincah. Lebih dari cukup untuk menempuh jalan santai di wilayah perkotaan. Dalam kondisi prima, bisa melaju dengan kecepatan 90 kilometer per jam.
Transmisi Semi-Otomatis 3-Percepatan. Sistem perpindahan gigi tidak membutuhkan tuas kopling tangan. Pengendara cukup dengan menginjak tuas gigi tiga percepatan maju (gigi 1, 2, 3). Sangat mudah pengoperasiannya, mirip motor bebek generasi yang lebih muda (Jupiter/Supra). Tinggal menginjak tuas gigi ke depan untuk menaikkan gigi (Netral - 1 - 2 - 3). Dan, menginjak ke belakang saat menurunkan gigi.
Ketika macet atau berhenti, pengendara tidak perlu mengkhawatirkan jika terjadi mesin mati kendatipun tidak ada kelengkapan kopling. Yang terbilang unik, motor Yamaha V80 ini menggunakan sistem rotary. Dari gigi 3, jika pengendara menginjak lagi akan kembali ke posisi Netral. Hal ini akan memudahkan manakala berhenti di lampu pengatur lalu lintas.
Pendek kata, Yamaha V80 merupakan salah satu motor bebek jadul yang sangat simpel dalam langkah pengoperasiannya. Terlebih tanpa kopling. Fleksibel untuk memenuhi aktivitas harian dan terkenal irit bensin untuk ukuran zamannya. Klaim dari produsen, dengan satu liter bensin bisa untuk menempuh perjalanan 70 hingga 72 kilometer. Untuk generasi selanjutnya, produsen Yamaha V80 mulai mengadopsi sistem pengapian Capacitor Discharge Ignition (CDI). Pula tersedia versi spesial, yaitu Yamaha V80 Excellent, yang hadir belakangan di kisaran tahun 1987 - 1988.
Tren RestorasiDewasa ini, motor Yamaha V80 ada yang beruntung berada di tangan yang tepat. Alih-alih mengalami pembiaran dan penelantaran menjadi barang rongsokan, justru mendapatkan sentuhan restorasi sehingga berhak menempatkan diri dalam posisi keberadaan sebagai motor klasik yang laik koleksi.
Pada eranya dahulu, motor Yamaha V80 banyak yang mengakui kemudahannya dalam perawatan dan pengoperasiannya. Popularitas di aspek inilah yang memberikan penobatannya sebagai ikon motor bebek di Indonesia. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika terdapat tidak sedikit komunitas pencinta sepeda motor Yamaha V80, termasuk seri V75.
Basis para penggemarnya relatif solid dan aktif, teristimewa karena kepopuleran tren restorasi motor klasik 2-Tak. Tren ini tengah menemukan puncak peminatannya di Indonesia dewasa ini. Nostalgia dan sekaligus nilai investasi menjadi tenaga dorong perealisasiannya. Yang menjadi fokus utama dari tren ini, yaitu memulangkan wujud motor ke bentuk asli (original) dengan suku cadang New Old Stock (NOS).
Suku cadang baru stok lama, itulah bahasa sederhananya. Dikatakan barang baru (new), karena pada kenyataannya belum pernah dipasang atau belum pernah digunakan pada motor sejenis mana pun sebelumnya. Namun bisa juga dikatakan barang lama atau stok lama (old stock), karena telah diproduksi puluhan tahun lalu dan tidak lagi diproduksi oleh pabriknya.
Kondisi suku cadang itu pada umumnya masih di dalam kemasan aslinya atau tersegel. Hanya kemasannya telah tampak usang lantaran kelewat lama menghuni gudang. Pendek kata, NOS adalah suku cadang orisinal (asli) yang diproduksi bersamaan pada era motor klasik itu dan kini sudah tidak diproduksi lagi oleh pabriknya. Kemudian dibeli oleh pencinta motor klasik sebagai pengganti suku cadang yang tingkat kerusakannya sudah tidak dapat disiasati lagi.
Tren restorasi motor klasik 2-Tak itu juga termasuk Yamaha V80. Kendaraan bermotor roda dua bebek lawas ini menjadi salah satu pilihan favorit karena desainnya yang begitu unik, mudah menerima sentuhan modifikasi, dan memiliki nilai nostalgia yang tinggi.
Motor Yamaha V80 menjadi pilihan populer untuk menerima tindakan restoratif bersama motor-motor 2-Tak lainnya, seperti Suzuki RC100, Yamaha Force 1, dan F1ZR. Tidak sedikit pencinta yang merestorasi Yamaha V80 ke keadaan orisinal untuk menghidupkan kembali masa lalu yang berlepotan nostalgia nan indah.
Tantangan yang mengadang pekerjaan restorasi, yaitu prosesnya yang acapkali berat. Meliputi perbaikan kerangka mesin yang sudah berkarat atau mengalami pengeroposan. Bahkan, hingga mesin mati total. Meskipun demikian, hasil akhirnya sangat mendapatkan apresiasi yang memadai para kolektor. Di samping itu, komponen motor, contohnya membran, kerap kali kompatibel dengan model Yamaha yang lain, macam Alfa, Champ, dan Sigma. Dengan demikian, mempergampang pencarian suku cadang.
Proses restorasi terhadap motor Yamaha V80 biasanya terarahkan terhadap fokus yang memberikan penonjolan pada bentuk “robot” kaku dan mengkotak yang khas pada era 1978 hingga pengujung akhir dekade 1980-an. Adapun komunitas pencinta motor jadul ini biasanya berbasis media sosial, seperti di FaceBook atau WhatsApp. Mereka berkumpul dan berbagi informasi di sini. Bisa sekadar berbagi unggahan foto atau bisa pula berbagi info tentang bengkel dan tips teknis.
Sebut saja Komunitas Pencinta Yamaha V75/V80 Surabaya - Sidoarjo. Kemudian Komunitas Yamaha V70/V80 Jakarta. Terdapat pula Komunitas Yamaha V75/V80 Jawa Timur. Pun ada Komunitas Yamaha V Series Indonesia. Aktivitas yang pada umumnya mereka lakukan, seperti kopi darat, pertemuan rutin antaranggota guna merawat relasi silaturahmi dan membahas seputar motor yang mereka sayangi bersama.
Kegiatan lain berupa saling membagikan tips, trik, informasi mengenai perbaikan mesin, baik tipe platina maupun CDI, agar tetap prima ketika para pencinta mengoperasikannya. Berikut tentang berbagi kisah upaya restorasi bodi agar kembali orisinal atau melakukan modifikasi sesuai dengan pilihan selera personal masing-masing.
Hubungan antaranggota komunitas juga terekspresikan melalui saling berbagi informasi tentang suku cadang yang relatif langka. Bisa juga terwujud dengan transaksi komponen copotan yang asli demi keperluan restorasi motor. Di samping itu, juga menyelenggarakan perjalanan bersama sambil menikmati berkendara dengan motor Yamaha jadul. Kadang, melengkapi aktivitas dengan bakti sosial untuk memperkokoh solidaritas antaranggota, antarpengendara di luar komunitas, ataupun membantu masyarakat.
Yamaha RobotMotor Yamaha V80 mempunyai bentuk ikonik berkat desainnya yang khas, unik, mengkotak dan presisi mulai dari lampu utama, bodi samping, hingga bagian belakang. Gaya desain ini menyerupai bentuk robot pada dekade 1980-an. Oleh karena itu, ia mendapat julukan Yamaha Robot.
Tidak sebagaimana lazimnya motor bebek yang mempunyai lekukan halus, motor Yamaha V80, terutama model Super Deluxe 1987 - 1988, desainnya lebih memanjakan dominasi garis lurus dan sudut tajam. Bentuk lampu sein, lampu depan (headlamp), spakbor, jok, hingga lampu rem belakang (stop lamp), menyuarakan keseragaman estetika mengkotak.
Yamaha Robot mempunyai nilai nostalgia yang sulit terhapus dari ingatan kolektif mereka yang tumbuh pada dekade 1980-an hingga 1990-an. Bagi pencinta otomotif di Indonesia, motor bebek 2-Tak ini bukan sekadar kendaraan bermotor yang menunaikan fungsi sebagai alat transportasi semata. Ia mempunyai nilai nostalgia yang tinggi. Ia merupakan ikon kenangan masa lalu yang kini kembali hidup menjadi klangenan.
Selain menjadi ikonik berkat desain robotnya, Yamaga V80 pada eranya merupakan motor yang sering tampak berseliweran sehari-hari di jalanan untuk memenuhi berbagai aktivitas, seperti bersekolah, bekerja, dan berbagai keperluan keluarga. Ia juga merepresentasikan hasil rancangan kendaraan yang memuat simbol kesederhanaan, fungsionalitas di pelbagai medan aktivitas, dan kemudahan perawatan.
Motor Yamaha V80 Excellent merupakan varian khas hasil produksi 1987 - 1988 yang paling banyak menjadi target incaran para kolektor. Terlebih lagi, tidak sedikit yang tersedia dalam.kondisi terawat dan orisinal. Kalaupun dewasa ini, motor jadul tersebut masih sesekali tampak ada orang yang mengendarainya di jalanan, ia bukan lagi merupakan kendaraan bermotor roda dua yang utama. Melainkan telah bersalin fungsi sebagai klangenan atau penglipur rasa kangen bagi pemiliknya yang sesekali hendak memanggili kembali romantisme di masa silam.
Ikonisitas motor Yamaha V80, tak pelak lagi seperti telah tersebut pada uraian terdahulu terletak pada desain serbakotak (robotik). Keunikan lain adalah model jok pada versi awal, produksi akhir dekade 1970-an hingga awal 1980-an. Jok yang dipasang terpisah antara pengendara dan pemboncengnya. Lazim disebut jok cagak.
Hal-hal ikonik lain yang dapat didudah dari motor Yamaha V80, yaitu bodi yang ramping. Berlainan dari desain motor sekarang yang cenderung tajam dan besar. Juga faktor kelangkaan yang berbaur nostalgia. Karena sudah tidak diproduksi lagi, ia menjadi ikonik dengan keantikan performanya. Proses restorasi yang terkadang berjalan mengikuti rute penuh kelok liku kesulitan, menjadikan motor jadul ini bernilai seni dan nostalgia tinggi.
Hal ikonik selanjutnya adalah mengenai warna. Motor Yamaha V80, teristimewa tipe Excellent atau Super Deluxe, mempunyai sejumlah varian warna, yaitu biru metalik, hijau metalik, merah marun, dan putih. Paduan warna yang biasa menyertai, yakni aksen krom dan striping minimalis yang menebarkan pesona impresi klasik.
Warna biru metalik merupakan favorit dan ikonik. Sementara itu, hijau metalik kerap masuk kategori warna langka yang banyak menerima rengkuh pencarian para pencinta. Lalu varian merah marun menjadi warna cerah khas motor klasik Yamaha. Dan, ketika putih yang mendominasi performa mengangsurkan tampilan nan bersih. Warna-warna dominan ini dapat menemukan kombinasi artistik dengan cat duco atau piloks dalam proses restorasi.
Kendatipun ada beberapa pilihan warna dominan, Yamaha V80 lebih identik dengan warna biru. Berlainan dengan sejumlah seri lain yang lebih dominan menaruh performa pada warna merah. Yah, sekali lagi Yamaha V80 begitu identik dengan dominasi warna biru, terutama biru metalik. Sebab, warna ini merupakan varian andalan (signature). Paling populer dirilis pabrik produsen pada masanya.
Warna biru metalik kerap berada di dalam ranah anggapan, paling ikonik dari seri Yamaha V80 Excellent. Para kolektor motor jadul menargetkan buruan utamanya pada warna biru metalik tersebut. Pada eranya Yamaha V80 Excellent kerap mendapatkan perilisan dengan performa kombinasi biru metalik yang menarik, sehingga menyebabkannya tampak menonjol di jalanan dan erat melekat di ingatan pencinta motor bebek.
Ini bisa jadi terkait dengan kandungan filosofi warna yang menjadi pilihan brand. Biru bagi Yamaha merupakan lambang dari semangat bergerak cepat, memenuhi tuntutan perguliran laju inovasi teknologi otomotif, dan kepercayaan diri dalam menembus barikade tantangan. Walaupun tidak semua seri V80 biru, warna biru khas (factory racing blue) telah berada di ruang identitas Yamaha pada ajang balap dunia. Dengan demikian, ini mempertegas citra Yamaha sebagai motor biru.
Varian warna yang lain memang tersedia. Akan tetapi, biru metalik menjadi simbol nostalgia paling kuat. Yang dahulu saya miliki semasa SMA adalah motor Yamaha V80 warna hijau metalik. Dewasa ini yang warna hijau metalik juga menjadi incaran kolektor motor antik (vintage) karena langka. Ada sentuhan impresi klasik khas dan terasa lain daripada yang lain. Salah satu pilihan warna yang menghamburkan daya pikat bagi pencari estetika klasik orisinal. Dan, kerap pula muncul sebagai bahan ulasan di kalangan para pencinta motor klasik tersebut.





