Industri Manufaktur Terpukul Pelemahan Rupiah, Pemerintah Diminta Beri Insentif

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Tren pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini menjadi pukulan telak bagi sektor industri manufaktur di Tanah Air

Industri Manufaktur Terpukul Pelemahan Rupiah, Pemerintah Diminta Beri Insentif (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Tren pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini menjadi pukulan telak bagi sektor industri manufaktur di Tanah Air. 

Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku hingga barang modal impor membuat ongkos produksi pabrikan membengkak drastis di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Anjlok usai Kunjungan Trump ke China Tak Hasilkan Terobosan Besar

Kondisi tersebut tidak hanya disebabkan oleh selisih kurs semata. Rantai pasok dunia yang terganggu sejak meletusnya perang pada bulan Februari lalu telah mengerek biaya logistik, asuransi, hingga harga komoditas penolong seperti plastik dan energi, yang pada akhirnya membebani operasional industri.

Tekanan berat yang menimpa sektor ini tecermin jelas pada laju Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia. Indikator aktivitas pabrik tersebut terus merosot dan puncaknya berbalik mengalami kontraksi pada bulan April lalu.

Baca Juga:
Begini Ringkasan Singkat Pertemuan Trump dan Xi Jinping

Situasi pelik ini memaksa pabrikan memutar otak karena mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produk di pasaran. Daya beli masyarakat yang sedang merosot akibat inflasi membuat konsumen sangat sensitif terhadap perubahan harga.

"Jadi, pelemahan nilai tukar ini pada dasarnya memperumit kondisi industri pada saat sekarang. Yang artinya dari sisi langkah kebijakan, stabilitas nilai tukar itu memang sangat krusial untuk bisa meredam dampak eksternal terhadap ekonomi domestik," kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal kepada iNews Media Group, Jumat (15/5/2026).

Baca Juga:
Kemenhub Temukan Hampir 100 Ribu Pelanggaran Kendaraan Angkutan Barang hingga Mei 2026

Jika dibiarkan tanpa intervensi perlindungan, tren pelemahan ini berisiko memicu gelombang penutupan pabrik. Pasalnya, kondisi setiap subsektor di dalam industri manufaktur berbeda-beda dan tidak bisa disamaratakan.

Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah diminta turun tangan dengan tidak menambah beban baru berupa pungutan pajak bagi sektor yang sedang terpuruk, seperti industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Kebijakan pemberian insentif yang selektif dan tepat sasaran dinilai bisa menjadi penyelamat bagi industri strategis penyerap banyak tenaga kerja.

Baca Juga:
BSI (BRIS) Buka Akses Pendidikan Bagi 5.250 Mahasiswa dan Pelajar

"Kan industri manufaktur ini kita tidak bisa samakan semuanya, nasibnya ada yang masih bagus, ada yang sudah berdarah-darah. Jadi yang perlu dilakukan pemerintah memang perlu mengantisipasi mereka untuk tidak sampai bangkrut, kemudian memberhentikan karyawan," ujar Faisal.

(kunthi fahmar sandy)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral Momen Gubernur Dedi Mulyadi Bikin Bocah Nangis Histeris di Tasikmalaya: Hayang Balik!
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Lonjakan Kendaraan di Jalan Layang MBZ Saat Libur Kenaikan Yesus Kristus Capai 63 Ribu Kendaraan
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Persiapan Tahap Akhir, Kremlin Pastikan Putin Segera Kunjungi Tiongkok
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jumat ini harga emas Antam turun Rp20.000 jadi Rp2,819 juta/gr
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Kasus Pencurian Tas di Soetta, InJourney Airports Pastikan Pelaku Bukan Karyawannya
• 9 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.