EtIndonesia. Pada Kamis (14 Mei), Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah Ukraina, yang disebut sebagai salah satu serangan terbesar sejak perang pecah. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa rudal Rusia yang digunakan diproduksi pada kuartal kedua tahun ini. Hal ini menunjukkan bahwa Moskow masih mampu menghindari sanksi Amerika Serikat, mengimpor komponen, dan terus memproduksi senjata.
Cahaya ledakan yang sangat terang dan kaca-kaca yang pecah terekam dalam kamera pengawas, memperlihatkan detik-detik mengerikan serangan tersebut. Pada Kamis dini hari, Rusia meluncurkan 670 drone serang dan 56 rudal ke berbagai kota di Ukraina. Ini merupakan salah satu serangan udara terbesar yang dilakukan Moskow sejak perang dimulai. Serangan itu menewaskan sedikitnya 10 warga sipil Ukraina, termasuk seorang anak perempuan berusia 12 tahun.
“Kami melihat sebuah bangunan sembilan lantai hancur, dan 18 apartemen rata dengan tanah. Pekerjaan penyelamatan masih berlangsung,” lata Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa sebuah rudal menghantam gedung permukiman di Kyiv. Berdasarkan data awal, rudal tersebut adalah rudal baru jenis Kh-101.
“Rudal itu diproduksi pada kuartal kedua tahun ini. Ini berarti Rusia masih terus mengimpor komponen, sumber daya, dan peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi rudal, dengan cara menghindari sanksi global,” katanya.
Pihak Kremlin pada Kamis juga mengumumkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin akan segera melakukan kunjungan ke Beijing.
Dilaporkan oleh reporter NTD, Yi Jing.




