Jember (beritajatim.com) – Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf layak menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menggantikan KH Yahya Cholil Staquf untuk periode 2026-2031.
Demikian dilontarkan Madini Farouq, pengasuh Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin, Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang merupakan cucu Rais Aam PBNU 1984-1991 KH Achmad Siddiq dan cicit salah satu pendiri NU KH Abdul Wahab Hasbullah, Sabtu (16/5/2026).
“Beliau adalah cucu dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Ibarat pohon, kepemimpinannya kokoh mengakar ke bumi dan menjulang ke langit. Artinya dia mengakar di rakyat dan memiliki hubungan baik dengan pemerintah,” kata Madini.
Selama ini Irfan tak terlibat dalam konflik internal NU. Ini modal penting yang membuatnya bisa menjadi sosok yang dapat menyelesaikan sejumlah persoalan yang muncul semasa kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf. “Gus Irfan juga punya kemampuan manajerial bagus,” kata Madini.
Irfan diyakini tidak akan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan presiden dalam posisi yang setara dan sejajar jika menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Apalagi dia bisa mengakomodasi semua potensi NU tanpa harus berpihak pada salah satu kekuatan partai politik.
“NU jangan masuk ke kantongnya partai politik, karena NU terlalu besar. Idealnya partai politik yang harus masuk di kantong NU, karena NU ini sosok yang besar, umatnya banyak. NU harus menjadi payung besar yang mengayomi semua kader NU di berbagai macam partai politik. NU tidak hanya menjadi bagian dari satu kekuatan partai politik,” kata Madini.
Selain itu, Irfan punya modal kemampuan diplomasi internasional untuk menjadi pemimpin organisasi kemasyarakatan Islam dengan pengikut terbesar pertama di dunia. “Gus Irfan punya akses, baik itu nasional maupun internasional, jalur diplomatik kepada Kementerian Kerajaan Arab Saudi,” kata Madini.
Bagi Madini, seorang ketua umum PBNU harus punya kemahiran berdiplomasi sebagaimana dulu ditunjukkan para pendiri organisasi tersebut melalui pembentukan Komite Hijaz yang dipimpin oleh KH Wahab Hasbullah.
“Sebenarnya keinginan untuk mengembalikan NU kepada zuriah keluarga pendiri NU sudah dimulai sejak muktamar di Jombang pada 2015. Waktu itu muncul sosok almarhum KH Salahuddin Wahid, adik Gus Dur, yang mencalonkan diri bersama KH Hasyim Muzadi,” kata Madini. Namun mereka dikalahkan KH Said Aqil Siradj.
Madini yakin dengan kembalinya pucuk pimpinan PBNU kepada keluarga KH Hasyim Asy’ari, semua elemen di NU akan bersatu. “Bersama-sama kita memperbaiki, mengembalikan NU sesuai dengan rel perjuangan atau garis khittahnya,” katanya. [wir/kun]




