Liputan6.com, Jakarta - Lalu lalang manusia sudah memadati kawasan Blok M sore itu. Dari mulut Stasiun MRT Blok M, arus manusia mengalir tanpa putus.
Anak-anak muda dengan gaya kasual hingga nyentrik itu berjalan cepat menyusuri trotoar kawasan Jakarta Selatan tersebut. Kemudian, mereka berpencar menuju titik temu masing-masing. Ada yang mengarah ke Little Tokyo, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M Square, M Bloc Space, Blok M Plaza, dan Pasaraya. Sesekali, deru MRT menyela di antara obrolan mereka. Tak ada yang terganggu, semua larut dalam aktivitas masing-masing.
Advertisement
Sejak dulu, kawasan Blok M menjadi simbol kejayaan anak muda Jakarta era 80-an dan 90-an. Meski tahun berganti, pesona itu tak berubah. Blok M tetap hidup meski dengan denyut berbeda. Di masa kini, Blok M menjadi ‘kalcer’ anak muda Jakarta.
Mayoritas anak muda yang datang ke sana menghabiskan waktu dengan nongkrong di coffee shop. Memesan minuman dan camilan sambil bersenda gurau bersama rekan. Namun, ada juga yang memilih tempat lebih santai untuk berbincang di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu.
Mereka duduk di tepian taman sambil membaca buku, bercengkerama, dan menikmati pergantian waktu dengan tenang.



