EtIndonesia. Tim Gedung Putih yang dipimpin Presiden Donald Trump telah menyelesaikan kunjungan dua hari ke Tiongkok dengan lancar. Selama kunjungan tersebut, apa saja yang dibicarakan Trump dan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping? Beberapa bentrokan juga terjadi antara staf Gedung Putih dan pihak Tiongkok. Selain itu, ketika Xi secara aktif menanyakan isu Taiwan, Presiden Trump tidak memberikan jawaban dan menolak masuk ke dalam “jebakan retorika” PKT. Berikut laporannya.
Dalam perjalanan pulang bersama tim Gedung Putih, Presiden Donald Trump mengadakan konferensi pers. Ia mengatakan bahwa perang di Selat Taiwan seharusnya tidak akan terjadi.
“Mengenai masalah Taiwan, dia (Xi) tidak ingin melihat perang pecah karena kemerdekaan Taiwan, karena itu akan menjadi konfrontasi yang sangat sengit. Saya mendengarkan apa yang dia katakan dan tidak memberikan komentar apa pun,” ujarnya.
Trump juga mengungkapkan bahwa pihak PKT menyampaikan sikap terkait masalah senjata nuklir Iran.
Trump mengatakan:“Dia (Xi Jinping) sangat yakin bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Dia menyatakan dengan sangat tegas bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan dia berharap Iran membuka selat.”
Mengenai sanksi terhadap pembelian minyak Iran oleh PKT, Trump mengatakan bahwa keputusan apakah sanksi akan dicabut akan dibuat dalam beberapa hari mendatang.
Dalam bidang perdagangan, AS dan Tiongkok disebut akan melakukan banyak aktivitas perdagangan ke depan.
Trump mengatakan:“Para petani akan sangat senang. Mereka akan membeli kedelai senilai miliaran dolar.”
Trump juga menyebut bahwa tahun ini kemungkinan ia akan bertemu lagi dengan Xi sebanyak empat kali untuk membahas lebih mendalam isu denuklirisasi.
Empat pertemuan yang dimaksud meliputi KTT G20, KTT Miami, KTT di Tiongkok, serta kunjungan Xi ke Gedung Putih.
Selama kunjungan Trump ke Tiongkok, terjadi beberapa bentrokan antara staf AS dan pihak Tiongkok. Menurut catatan reporter Gedung Putih dari New York Post, hanya pada 14 Mei saja terjadi setidaknya tiga insiden kontak fisik.
Pertama, saat pertemuan bilateral berlangsung, sekelompok wartawan Tiongkok yang agresif menerobos masuk ke ruang acara, menabrak dan menginjak seorang anggota tim pendahulu Gedung Putih hingga mengalami ketakutan dan luka lecet.
Ketika mengunjungi Kuil Surga di Beijing, pihak Tiongkok melarang seorang agen Dinas Rahasia AS memasuki area keamanan. Setelah perdebatan selama 30 menit tanpa hasil, akhirnya agen lain mengawal rombongan wartawan masuk.
Setelah sesi foto bersama pemimpin AS dan Tiongkok berlanjut ke tur berikutnya, rombongan wartawan Gedung Putih justru dibawa petugas keamanan PKT ke ruang istirahat dan “dikunci” di sana. Demi mengejar iring-iringan kendaraan presiden, para wartawan akhirnya menerobos penjagaan keamanan PKT dan berlari keluar gerbang. Dalam proses itu, mereka kembali dihalangi pejabat PKT yang membentangkan tangan untuk menghambat mereka, tetapi para wartawan terus berlari hingga berhasil mengejar rombongan kendaraan.
Pihak AS di lokasi dengan tegas mengatakan bahwa jika situasinya dibalik, pemerintahan Trump tidak akan memperlakukan wartawan Tiongkok seperti itu.
Reporter tersebut juga menyebutkan bahwa demi keamanan, semua barang yang dibagikan pejabat PKT—termasuk kartu identitas, ponsel sekali pakai yang diberikan Gedung Putih, dan lencana delegasi—langsung dibuang ke tempat sampah dan tidak diizinkan dibawa ke pesawat.
Selain itu, foto pertemuan Trump dan Xi juga diamati dengan teliti oleh netizen yang menemukan adanya “pertarungan politik tersembunyi” pada sofa yang digunakan.
Dalam video terlihat jelas bahwa bantalan kursi Trump lebih empuk dan mudah tenggelam. Ketika Trump berdiri, bantalan kursinya tampak memantul kembali. Sementara bantalan kursi Xi lebih keras dan tidak bergerak saat ia berdiri. Akibatnya, Xi terlihat beberapa sentimeter lebih tinggi daripada Trump.
Disebutkan bahwa Trump tampak tidak senang setelah menyadari perbedaan tersebut.
Para analis menilai hal ini merupakan “trik kecil” PKT dengan sengaja memesan sofa khusus untuk menciptakan “perbedaan tinggi badan” di depan kamera guna membangun kesan superioritas dan merendahkan AS serta Trump.
Warganet juga memperhatikan bahwa selama bertahun-tahun tinggi badan Xi Jinping terlihat berubah-ubah. Kali ini, saat berdiri di samping Trump yang tingginya sekitar 1,9 meter, Xi tampak kembali “bertambah tinggi” hingga terlihat setinggi Trump, sehingga memicu ejekan di internet.
Sumber : NTDTV.com





