Sinopsis Film Pesta Babi, Cerita Tumbuhnya Kolonialisme Modern di Tanah Papua

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini.

Diketahui film dokumenter ini dibuat oleh Cypri Paju Dale yang bekerja sama dengan Dandhy Laksono.

Secara garis besar film ini menceritakan tentang situasi masyarakat adat Papua saat ini. Kolonialisme yang ada di judul pun merepresentasikan hampir keseluruhan cerita dalam film.

Mengutip video Cypri pada Ekspedisi Indonesia Baru, disebutkan bahwa film pesta babi adalah sebuah dokumenter yang berbasis penelitian sejarah dan antropologi yang dibalut investigasi jurnalistik serta analisis kebijakan.

Adapun frasa 'kolonialisme' dipakai pihaknya menggambarkan analisis agar dapat dipahami situasi Papua saat ini secara mendalam dan menyeluruh.

"Kolonialisme sebagai sebuah rangka berpikir atau rangka analisis berhasil merangkum semua masalah itu, dan menjelaskan bahwa semuanya terkait satu sama lain dalam sesuatu yang bersifat sistemik yang sudah berlangsung lama dan tidak bisa ada solusinya kalau hanya diselesaikan dengan menyelesaikan salah satu dari persoalan yang tadi," jelas Cypri dikutip pada Minggu (17/5/2026).

Baca Juga

  • ITS Surabaya Gelar Bedah Film dan Diskusi Terbuka Film "Pesta Babi"
  • Menko Yusril: Pemerintah Tak Pernah Larang Nobar Film "Pesta Babi"
  • Puan Pastikan soal Larangan Film "Pesta Babi" Bakal Ditindaklanjuti di DPR
Sinopsis Pesta Babi

Yasinta Moiwend kaget ketika pada suatu pagi yang tenang di bulan Mei, sebuah kapal raksasa bersandar di dermaga kampungnya.

Kapal itu mengangkut ratusan ekskavator dan dikawal tentara Indonesia. Itulah rombongan pertama dari 2.000 alat berat yang datang ke Papua dalam Proyek Strategis Nasional untuk produksi pangan dan energi.

Perempuan suku Marind Anim di Merauke ini tak pernah tahu kalau kampungnya jadi titik nol dimulainya proyek konversi hutan terbesar dalam sejarah dunia modern untuk dijadikan perkebunan industrial atas nama “ketahanan pangan” dan “transisi energi”. Luasnya mencapai 2,5 juta hektar.

Vincen Kwipalo dari suku Yei juga terkejut ketika tanah marganya dipatok dengan tulisan: “Tanah Milik TNI AD”. Belakangan ia tahu, tanah itu diambil untuk pembangunan markas batalyon militer.

Karena wilayah adatnya juga termasuk dalam konsesi, Franky Woro dan komunitas Awyu di Boven Digoel memasang palang adat dan salib raksasa yang dicat warna merah untuk menghadang perusahaan dan militer.

Dikenal dengan Gerakan Salib Merah, aksi ini juga dilakukan suku-suku lain. Setidaknya 1.800 salib merah telah dipasang untuk melindungi tanah dan hutan mereka. Meski memakai simbol agama, gerakan ini tidak selalu disukai elit gereja.

"Pesta Babi merekam bagaimana orang-orang Marind, Yei, Awyu, dan Muyu di selatan Papua, melawan proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu untuk bahan bakar kendaraan. Bersamaan dengan kisah mereka, juga tergambar isu separatisme dan 60 tahun operasi militer Indonesia yang terkait dengan eksploitasi tanah Papua," tulis Cypri di akun Instagramnya, @cypripajudale.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Timwas Haji DPR Soroti Laporan Sejumlah Jemaah Haji Terpisah dari Rombongan
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Lirik dan Makna Lagu Terbaru Harry Styles -
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
Profil Ayu Ting Ting, Pedangdut yang Dikabarkan Pacaran dengan Politisi Kevin Gusnadi, Foto Ini Jadi Pemicunya
• 11 jam lalugrid.id
thumb
Terbukti Agen Asing, Pria China Dinyatakan Bersalah Jalankan Kantor Polisi Rahasia di New York
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Puja-Puji Prabowo ke Tim Pertanian: Pangan dan Beras Kita Kuat!
• 9 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.