Sebelum KTT Beijing berlangsung, penulis berargumen bahwa pertemuan Trump–Xi pada 14–15 Mei 2026 dibutuhkan bukan karena kedua negara saling percaya, melainkan karena biaya dan risiko konflik sudah terlalu tinggi. Setelah dua hari pertemuan, tesis itu terbukti. KTT Beijing bukan kegagalan, melainkan stabilisasi hubungan tanpa rekonsiliasi strategis.
Namun hasil Beijing juga menunjukkan sesuatu yang lebih penting: kedua pemimpin tampaknya sama-sama menginginkan transaksi yang lebih besar, tetapi belum memiliki ruang politik domestik yang cukup untuk mewujudkannya. Karena itu, KTT Beijing harus dibaca bukan sebagai akhir negosiasi, melainkan sebagai babak pertama. Deal besar itu tertunda — dan penentunya bukan hanya tarif, rare earth, atau pembelian komoditas, melainkan Taiwan dan Iran.
Stabilitas Tanpa KepercayaanHasil KTT Beijing dapat dibaca dari dua sisi: apa yang terjadi dan apa yang tidak terjadi.
Yang terjadi adalah stabilisasi suasana. RRT menyebutnyahubungan yang “stabil secara strategis”. Sedangkan Trump menyebut pertemuan itu “fantastic” dan membuka peluang pertemuan lanjutan pada musim gugur 2026.
Namun yang tidak terjadi justru lebih penting. Tidak ada perjanjian besar atau terobosan konkret yang diumumkan. Isu tarif, rare earth, dan pembelian komoditas pada dasarnya hanya mengkonfirmasi ulang kesepakatan Busan Oktober 2025, bukan konsesi baru dari RRT.
Inilah konfirmasi paling jelas dari tesis “stabilitas tanpa kepercayaan”: dua negara besar mampu menjaga hubungan tetap terkendali, tetapi belum mencapai rekonsiliasi strategis.
Taiwan sebagai PenentuKesalahan utama banyak analisis Barat adalah memisahkan isu ekonomi dan Taiwan. Bagi Beijing, keduanya satu paket.
RRT tampaknya masuk ke KTT dengan kalkulasi bahwa Trump yang transaksional, dan sedang lemah secara politik, mungkin bisa diajak melakukan pertukaran besar: konsesi posisi AS terhadap Taiwan sebagai imbalan paket ekonomi besar dari RRT.
Fakta bahwa Trump membahas paket senjata AS$14 miliar untuk Taiwan langsung dengan Xi menunjukkan bahwa pintu transaksi itu sempat terbuka. Trump juga menolak memberi komitmen eksplisit ketika ditanya apakah AS akan membela Taiwan jika diserang.
Namun karena konsesi Taiwan yang diharapkan Beijing tidak datang secara jelas, RRT menahan konsesi ekonominya. Bagi Xi Jinping, Taiwan bukan isu tawar-menawar biasa. Ia adalah isu eksistensial dan legacy kepemimpinan. Karena itu, tidak akan ada konsesi ekonomi besar dari Beijing tanpa sinyal politik yang lebih jelas dari Washington soal Taiwan.
Mengapa Trump Belum BeraniTrump tampak membuka ruang transaksi, tetapi tidak cukup berani melangkah lebih jauh. Ada dua alasan.
Pertama, popularitas Trump sedang rendah. Mengambil posisi yang tampak lunak terhadap Beijing soal Taiwan membutuhkan modal politik besar, yang saat ini belum ia miliki.
Kedua, dukungan bipartisan terhadap Taiwan di Kongres AS menjadi batas yang sulit ditembus. Isu Taiwan bukan sekadar isu partisan, melainkan komitmen strategis yang didukung luas oleh Partai Republik dan Demokrat.
Hasilnya, Trump membuka pintu, tetapi belum berani masuk. Beijing melihat peluang, tetapi belum mendapat kepastian. Keduanya pulang dengan stabilitas, tetapi belum dengan kemenangan besar.
Washington DC: Peluang KeduaKonstrain domestik Trump tidak permanen. Jika kunjungan balasan Xi Jinping ke AS pada September 2026 terlaksana, KTT di Washington DC dapat menjadi momentum terbaik untuk deal besar yang tertunda di Beijing.
Secara simbolik, kunjungan Xi ke Washington lebih menguntungkan Trump. Ia dapat menjual narasi bahwa “Xi datang ke kita”. Selain itu, menjelang midterm 2026, Trump membutuhkan kemenangan ekonomi besar yang dapat ditunjukkan kepada pemilih.
Namun satu variabel akan menentukan: apakah Perang Iran sudah selesai sebelum September 2026.
Iran sebagai Mata Rantai PertamaHubungan antara Iran dan KTT Washington bukan paralel, melainkan kausal. Jika deal Iran tercapai sebelum September, risiko penutupan Selat Hormuz menurun, harga energi stabil, inflasi mereda, dan ruang politik Trump membaik. Dengan modal politik lebih besar, Trump dapat lebih berani mengambil posisi terukur soal Taiwan, yang kemudian membuka jalan bagi paket ekonomi besar dari RRT.
Sebaliknya, jika perang Iran belum selesai, tekanan energi dan inflasi tetap tinggi. Popularitas Trump tetap tertekan. Ruang untuk konsesi Taiwan menyempit. Dalam kondisi itu, KTT Washington hanya akan mengulang Beijing: stabilitas tanpa kepercayaan, tetapi tanpa deal besar.
Ironisnya, keberanian Trump untuk realistis terhadap Iran menjadi prasyarat bagi keberaniannya untuk realistis terhadap RRT soal Taiwan. Trump tidak dapat mengajukan tuntutan maksimalis dan berharap Iran menyerah total dalam isu pengayaan uranium. Skenario ini adalah non-starter bagi pembahasan lanjutan di Islamabad.
Dua Skenario September 2026Pertama, jika Iran selesai sebelum September.
Selat Hormuz terbuka, harga energi stabil, inflasi mereda, dan ekonomi AS membaik. Trump memperoleh modal politik yang cukup. Xi datang ke Washington dengan ruang untuk memberikan paket ekonomi besar. Trump memberi sinyal Taiwan yang terukur. Deal besar yang tertunda di Beijing dapat terjadi di Washington.
Kedua, jika Iran belum selesai.
Selat Hormuz tetap terganggu, harga energi tinggi, inflasi bertahan, dan popularitas Trump tetap lemah. Trump tidak punya ruang politik untuk konsesi Taiwan. Beijing menahan konsesi ekonomi. KTT Washington hanya menjadi pengulangan Beijing — stabil, tetapi tanpa terobosan.
KTT Beijing bukan kegagalan. Ia mengkonfirmasi bahwa AS dan RRT masih mampu mengelola ketidakpercayaan agar tidak berubah menjadi krisis terbuka. Namun Beijing juga menunjukkan bahwa deal besar belum matang.
Trump membutuhkan paket ekonomi besar dari RRT untuk memperkuat posisi domestiknya menjelang midterm. Xi membutuhkan sinyal lebih jelas bahwa posisi AS terhadap Taiwan bergerak ke arah yang lebih menguntungkan Beijing. Karena sinyal itu belum datang, Beijing menahan konsesinya. Karena konsesi itu belum muncul, Trump pulang dengan stabilitas, tetapi belum dengan kemenangan besar.
Deal besar AS-RRT bukan tidak mungkin. Ia hanya tertunda. Peluang berikutnya ada di KTT Washington DC — dengan satu syarat utama: perang Iran harus lebih dulu terkendali.





