Pengprov IPSI Jawa Timur menargetkan peningkatan prestasi pencak silat Jatim pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII/2028 mendatang.
Untuk mewujudkan target tersebut, Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Pencak Silat Jawa Timur 2026 Piala BHS menjadi salah satu instrumen utama dalam proses pembinaan dan seleksi atlet.
Kejurprov Pencak Silat Jawa Timur 2026 yang digelar di Gelora Pancasila, Surabaya pada 17–21 Mei 2026, diikuti 390 pesilat dari 37 kabupaten dan kota se-Jawa Timur.
Ajang ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga bagian dari sistem pembinaan berjenjang menuju Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda). Serta menjadi persiapan menghadapi Babak Kualifikasi (BK) PON hingga PON 2028.
Bambang Haryo Soekartono Ketua IPSI Jatim menegaskan bahwa Kejurprov ini memiliki peran strategis dalam memperkuat fondasi prestasi pencak silat Jawa Timur, yang dalam beberapa ajang PON sebelumnya masih belum mencapai hasil maksimal.
“Ajang ini tentunya menjadi sarana seleksi bagi para juara untuk mengikuti Puslatda Jawa Timur yang akan datang,” ujar Bambang Haryo, Minggu (17/5/2026).
Ia menambahkan, peningkatan kualitas pembinaan menjadi fokus utama agar Jawa Timur mampu bersaing lebih kuat di tingkat nasional. “Diharapkan pada Pra-PON (BK PON.red) maupun PON mendatang kita dapat meraih lebih banyak gelar juara,” katanya.
Sementara itu, M. Nabil Ketua KONI Jawa Timur menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Kejurprov Pencak Silat 2026. Menurutnya, ajang seperti ini sangat penting untuk mengukur sejauh mana efektivitas pembinaan atlet di daerah.
Ia menegaskan bahwa tantangan utama bukan hanya pada jumlah peserta, tetapi bagaimana mengubahnya menjadi prestasi yang konkret di tingkat nasional.
“Sekarang yang harus dijawab adalah apakah jumlah tersebut berbanding lurus dengan prestasi,” katanya.
Nabil juga menilai Kejurprov menjadi bagian penting dalam menghadapi agenda besar seperti BK PON yang semakin dekat. Karena itu, sistem kompetisi berjenjang harus diperkuat, mulai dari Kejurkab hingga Kejurkot, agar seleksi atlet benar-benar berbasis prestasi.
“Kalau menunggu Porprov 2027 tentu tidak memungkinkan, karena kita harus bersiap menghadapi BK PON yang sudah dekat,” ujarnya.
Nabil juga mengingatkan, meskipun pencak silat kerap menjadi penyumbang prestasi Indonesia di tingkat internasional, Jatim sebagai salah satu basis perguruan silat terbesar, harus mampu tampil lebih dominan di PON.
“Jawa Timur belum pernah lebih dari tiga emas dalam tiga edisi PON terakhir. Ini yang harus kita bangun bersama,” ujar Nabil. (saf/ham)




