Memasuki akhir bulan Mei 2026, sejumlah mata uang dunia tercatat memiliki nilai tukar sangat rendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Akibatnya dibutuhkan ribuan hingga puluhan ribu unit mata uang lokal hanya untuk mendapatkan 1 dollar AS.
Karena kita ketahui bersama dolar AS menjadi mata uang yang paling banyak diperdagangkan secara global dan berfungsi sebagai acuan utama dalam transaksi internasional.
Situasi ini membuat banyak mata uang negara lain rentan melemah, sehingga sejumlah negara masuk dalam daftar mata uang dengan nilai tukar terlemah di dunia pada Mei 2026.
Salah satunya adalah rupiah Indonesia yang tercatat berada di jajaran lima besar mata uang terlemah di dunia terhadap dollar AS.
Daftar Negara Dengan Mata Uang Terndah 2026Dilansir dari Forbes berdasarkan nilai tukar terhadap dollar AS per 17 Mei 2026, berikut daftar mata uang terlemah di dunia:
-
Rial Iran (IRR) – sekitar 1.319.000 per USD
-
Pound Lebanon (LBP) – sekitar 89.785 per USD
-
Dong Vietnam (VND) – sekitar 26.350 per USD
-
Kip Laos (LAK) – sekitar 21.950 per USD
-
Rupiah Indonesia (IDR) – sekitar 17.602 per USD
-
Som Uzbekistan (UZS) – sekitar 12.078 per USD
-
Franc Guinea (GNF) – sekitar 8.777 per USD
-
Franc Burundi (BIF) – sekitar 2.975 per USD
-
Ariary Madagaskar (MGA) – sekitar 4.175 per USD
-
Guarani Paraguay (PYG) – sekitar 6.218 per USD
Pelemahan rupiah memberikan dampak yang luas bagi ekonomi nasional Indonesia, antara lain:
-
Kenaikan Harga Barang dan Jasa: Harga bahan baku dan barang impor menjadi lebih mahal, yang berimbas langsung pada harga pokok konsumsi publik.
-
Biaya Produksi Meningkat: Sektor industri dan manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor harus menanggung biaya produksi lebih tinggi.
-
Utang Luar Negeri Naik: Pembayaran utang luar negeri dalam dolar AS menjadi lebih mahal dalam rupiah, meningkatkan beban fiskal pemerintah dan perusahaan.
-
Daya Beli Masyarakat Turun: Inflasi yang tinggi berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat, yang berpotensi menurunkan konsumsi domestik.
-
Ketidakpastian Investasi: Pelemahan mata uang dapat menimbulkan ketidakpastian bagi investor asing dan domestik, sehingga menurunkan minat investasi.
Meski demikian, nilai tukar yang rendah tidak serta-merta mencerminkan kondisi ekonomi yang buruk secara menyeluruh. Ada faktor struktural dan sejarah yang turut mempengaruhi pengukuran ini.
Baca Juga:Kronologi Longsor Tambang Emas Ilegal di Sumbar, Sembilan Penambang Tewas Tertimbun Longsor





