TEHERAN, KOMPAS.TV - Iran dilaporkan berusaha kembali raup keuntungan dari Selat Hormuz, setelah sebelumnya melakukan pembatasan di jalur air tersebut.
Iran sebelumnya melakukan penutupan Selat Hormuz setelah Amerika Serikat (AS)-Israel melakukan serangan ke mereka pada 28 Februari.
Keputusan Iran menutup Selat Hormuz membuat pengiriman pasokan minyak dan gas alam dari Timur Tengah mengalami gangguan.
Baca Juga: Iran Sebut AS Bakal Kembali Lakukan Kebohongan Untuk Justifikasi Lanjutkan Perang
Mereka dikabarkan telah memberlakukan pungutan kepada kapal yang ingin melewati.
Iran kini dilaporkan berusaha kembali meraup keuntungan dari Selat Hormuz dan kali ini menargetkan bayaran dari kabel bawah laut yang menghubungkan negara-negara Arab ke Eropa dan Asia.
Seperti dilaporkan dari CNN, Minggu (17/5/2026), Iran ingin mengenakan biaya kepada perusahaan teknologi besar dunia karena menggunakan kabel internet bawah laut yang diletakkan di bawah Selat Hormuz.
Anggota Parlemen Iran dilaporkan tengah membahas rencana tersebut pada pekan lalu.
“Kami akan mengenakan biaya pada kabel internet,” kata Juru Bicara Militer Iran Ebrahim Zolfaghari di media sosial X pekan lalu.
Sementara itu, media yang terkait dengan Garda Revolusi Iran mengatakan rencana Teheran meraih pendapatan dari Selat Hormuz itu akan mengharuskan perusahaan seperti Google, Microsoft, Meta dan Amazon untuk mematuhi hukum Iran.
Penulis : Haryo Jati Editor : Gading-Persada
Sumber : CNN
- iran
- selat hormuz
- keuntungan
- kabel bawah laut





