Wall Street Anjlok, Pasar Kecewa Hasil Pertemuan Trump dan Xi Jinping

katadata.co.id
11 jam lalu
Cover Berita

Bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup anjlok pada perdagangan Jumat (15/5), dipicu aksi ambil untung di saham teknologi dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Pasar dinilai kecewa dengan hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Cina Xi Jinping.

S&P 500 turun 1,24% ke level 7.408,50 dan Nasdaq Composite melemah 1,54% menjadi 26.225,14. Begitu juga Dow Jones Industrial Average, yang anjlok 537,29 poin atau 1,07% ke posisi 49.526,17.

Saham-saham teknologi menjadi pemberat utama setelah reli panjang dalam beberapa pekan terakhir. Saham Intel merosot lebih dari 6%, Advanced Micro Devices 5,7%, dan Micron Technology 6,6%. Saham Nvidia juga babak belur 4,4%.

Meski begitu, saham Microsoft naik 3%. Harga sahamnya melonjak setelah investor miliarder Bill Ackman mengungkapkan Pershing Square telah membangun posisi investasi di perusahaan ini.

Tekanan di pasar saham juga datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun, menjadi lebih dari 5,1% di tengah kekhawatiran inflasi akibat tingginya harga minyak imbas konflik Timur Tengah. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan saham-saham bertumbuh, khususnya sektor teknologi.

"Sektor teknologi telah naik terlalu tinggi dalam beberapa pekan terakhir, sehingga rentan aksi ambil untung investor, terlepas dari sentimen positif yang beredar di pasar," ujar Adam Crisafulli dari Vital Knowledge, dikutip CNBC International, Senin (18/5).

Pelaku pasar juga kecewa terhadap hasil pertemuan Trump dan Xi Jinping, karena tidak ada kesepakatan besar yang diumumkan. Salah satu sorotan datang dari pernyataan Trump terkait pembelian pesawat Boeing oleh Cina.

Trump menyebut Tiongkok akan membeli 200 pesawat Boeing, hanya sedikit lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya. Akibatnya, saham Boeing kembali tertekan 3,8% setelah sehari sebelumnya dan jatuh hampir 5%.

Padahal sehari sebelumnya, Wall Street sempat mencetak rekor. Dow Jones kembali menembus level 50.000 dan S&P 500 ditutup di atas 7.500 untuk pertama kalinya, didorong optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Manajer portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, menilai sentimen investor secara umum masih sangat optimistis. Namun, apabila dilihat lebih dalam, penguatan pasar saat ini dinilai terlalu bergantung pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, sehingga membuat reli pasar menjadi rapuh.

Menurut dia, kondisi itu memunculkan kekhawatiran baru, karena kenaikan indeks tidak ditopang secara merata oleh mayoritas sektor saham. Ellerbroek juga menilai dominasi sektor teknologi tidak akan berlangsung selamanya, mengingat sebelumnya investor sempat beralih ke sektor defensif seperti barang konsumsi pokok dan bahan baku dalam perdagangan bertema “HALO” pada awal tahun.

“Pasar menjadi lebih berisiko ketika hanya bergantung pada sektor utama sebagai penggerak kenaikan,” ujar dia.

Di sisi lain, harga minyak dunia melesat pada perdagangan Jumat. Kontrak berjangka minyak mentah WTI AS naik 4,2% ke US$ 105,42 per barel, sedangkan minyak Brent menguat 3,35% menjadi US$ 109,26 per barel. Kenaikan itu usai Trump menyatakan kepada Fox News bahwa dirinya “tidak akan bersabar lagi” terhadap Iran dan mendesak tercapainya kesepakatan baru. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hasil Sidang Isbat 1 Zulhijah 1447 H Jatuh pada 18 Mei, Hari Raya Iduladha Dirayakan 27 Mei 2026
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Sinopsis Drakor Azure Spring, Drama Terbaru Yeri Red Velvel tentang Perjalanan Hidup yang Penuh Luka Masa Lalu
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Hari Buku Nasional, Rerie Ingatkan Pentingnya Peningkatan Literasi
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hutama Karya Percepat Pengerjaan Jalan Tol Sicincin-Bukittinggi
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Calon Haji Embarkasi Makassar Diingatkan Batas Waktu Konsumsi Makanan di Tanah Suci
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.