FAJAR, MAKASSAR — Memang benar masyarakat desa tidak menggunakan dollar untuk bertransaksi. Tapi, mereka justru jadi yang paling rentan terkena dampak.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kenaikan kurs dollar Amerika Serikat terhadap rupiah tidak terlalu berdampak bagi masyarakat desa menuai sorotan. Di tengah kesulitan yang dihadapi masyarakat, pernyataan kontroversial bermunculan justru dari kepala negara.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Negeri Makassar, Sahade, menilai pernyataan tersebut perlu dilihat secara objektif melalui pendekatan ekonomi dan data empiris.
Menurutnya, dalam konteks tertentu masyarakat desa memang tidak berhubungan langsung dengan transaksi dollar seperti impor, perjalanan luar negeri, atau perdagangan internasional. Namun secara makroekonomi, pelemahan rupiah tetap akan dirasakan hingga ke pedesaan.
“Sebagai ekonom, saya melihat pernyataan itu lebih sebagai upaya menjaga optimisme publik dibanding penjelasan ekonomi yang utuh. Sebab dalam sistem ekonomi modern, pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada kelompok tertentu, tetapi memiliki efek berantai terhadap seluruh lapisan masyarakat,” ujar Sahade, Minggu, 17 Mei.
Ia menjelaskan, ketika nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.600 per dollar AS, biaya impor Indonesia ikut meningkat. Padahal, Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas seperti gandum, kedelai, LPG, bahan baku industri, hingga sebagian bahan pupuk dan pestisida.
“Kenaikan dollar membuat harga barang impor meningkat dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar domestik,” katanya.
Sahade menambahkan, dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan masyarakat perkotaan, tetapi juga masyarakat desa melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan biaya produksi pertanian.
“Masyarakat desa sangat rentan terhadap inflasi karena sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk kebutuhan pangan dan produksi pertanian. Ketika harga pupuk naik akibat kurs dollar, biaya produksi petani meningkat. Jika harga hasil panen tidak ikut naik, maka keuntungan petani justru menurun,” jelasnya.
Ia menilai pelemahan rupiah pada akhirnya berdampak hingga ke dapur rumah tangga masyarakat desa meskipun mereka tidak membeli dollar secara langsung.
Sebagai solusi, Sahade mendorong pemerintah memperkuat produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor, mempercepat hilirisasi industri, menjaga stabilitas harga pupuk, serta memperkuat koperasi desa.
“Menjaga stabilitas rupiah bukan hanya soal pasar keuangan, tetapi juga menjaga kesejahteraan masyarakat secara luas, termasuk masyarakat desa,” tuturnya. (uca)





