Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengancam menyerang Iran apabila tak mengajukan proposal de-eskalasi konflik baru yang memenuhi tuntutan Washington.
Melansir laporan Axios, Trump mengatakan 'waktu terus berjalan' bagi Iran. AS disebut sedang memperhitungkan opsi operasi militer setelah Iran menolak sejumlah tuntutan utama serta tidak menunjukkan kesiapan untuk memberikan pembatasan dalam pengembangan program nuklirnya.
“Kami ingin membuat kesepakatan. Mereka belum berada di posisi yang kami inginkan. Mereka harus memenuhi itu atau mereka akan dihantam keras, dan mereka tidak menginginkan itu,” kata Trump.
Dalam situasi tersebut, Trump dijadwalkan untuk bertemu dengan tim keamanan nasional di Ruang Situasi Gedung Putih pada Selasa (19/5) untuk membahas berbagai skenario respons, termasuk langkah militer yang lebih tegas terhadap Iran.
Trump juga berkomunikasi dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu guna membahas perkembangan situasi di Iran dan implikasinya terhadap stabilitas kawasan.
Sebelumnya, Trump telah menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah pejabat tinggi keamanan nasional di Virginia. Forum itu dihadiri oleh Wakil Presiden JD Vance, utusan Gedung Putih Steve Witkoff, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta Direktur CIA John Ratcliffe.
“Waktu terus berjalan. Mereka (Iran) sebaiknya bergerak cepat atau mereka tidak akan memiliki apa pun yang tersisa,” ujarnya.
Upaya diplomasi tetap berlangsung melalui peran Pakistan sebagai mediator resmi antara AS dan Iran. Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, melakukan kunjungan ke Teheran pada akhir pekan kemarin untuk membahas kemungkinan kesepakatan penghentian konflik dengan para pemimpin Iran.
Pada saat yang sama, Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani turut menjalankan peran mediasi dengan menjalin komunikasi bersama pihak Pakistan dan Menteri Luar Negeri Iran.
Di sisi lain, eskalasi juga tercermin dari insiden keamanan di kawasan Teluk. Sebuah drone menyerang fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di Uni Emirat Arab (UEA).
Insiden itu menyebabkan kerusakan pada generator listrik di luar kawasan utama. Otoritas pertahanan UEA menyebut dua drone lainnya berhasil dicegat, sementara investigasi masih dilakukan untuk mengidentifikasi sumber serangan.
Menteri Luar Negeri UEA, Abdullah bin Zayed, mengatakan tidak ada dampak terhadap tingkat keselamatan radiologis setelah berkoordinasi dengan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional, Rafael Grossi.
Meski belum secara resmi menuduh Iran, penasihat diplomatik UEA, Anwar Gargash, mengindikasikan adanya keterlibatan pihak yang berafiliasi dengan Teheran dalam serangan tersebut. Ia menilai hal itu sebagai bentuk eskalasi berbahaya dan pelanggaran terhadap norma internasional.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan perkembangan terkini di kawasan membuktikan bahwa kehadiran AS membawa dampak ketidakstabilan bagi negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Dalam pertemuan dengan Menteri Dalam Negeri Pakistan pada Minggu (17/5), Qalibaf mengatakan kerja sama antara Iran dan Pakistan di bidang politik, ekonomi, budaya, dan keamanan harus ditingkatkan.
Qalibaf menekankan cara untuk mengatasi kondisi tersebut adalah dengan membangun kepercayaan dan kerja sama di antara negara-negara regional Timur Tengah. Hal ini disebut dapat membuka jalan bagi terciptanya hubungan ekonomi, serta kerja sama politik dan keamanan.




