Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons kondisi jebloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga ke level di bawah Rp 6.500 pada Senin (18/5). Purbaya menilai pelemahan tersebut bersifat sementara dan tak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia.
“Investor pasar saham, kalau saya bilang, jangan takut serok ke bawah sekarang,” kata Purbaya di Base Ops Pangkalan Angkatan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Senin (18/5).
Purbaya menegaskan,kondisi ekonomi Indonesia saat ini tumbuh kuat. Ruang untuk melakukan perbaikan ekonomi pun tetap terbuka.
Menurut dia, koreksi pasar justru adalah peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham di harga yang lebih rendah. Purbaya memperkirakan pasar saham berpotensi berbalik arah dalam waktu singkat.
“Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari sudah kembali balik. Jadi, Jangan lupa beli saham,” ujarnya.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) 2020-2025 ini juga menanggapi kondisi nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga mendekati level 17.700 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5) pagi ini.
Purbaya mengatakan, pemerintah akan turun tangan dalam menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini. Salah satunya yakni intervensi melalui pasar obligasi untuk menjaga stabilitas dan meredam tekanan terhadap mata uang. Ia berharap hal ini dapat menahan gejolak yang berpotensi memicu arus keluar modal asing.
“Mulai hari ini kita akan masuk dengan lebih signifikan lagi, agar pasar obligasinya terkendal. Sehingga asing yang pegang obligasi tidak keluar karena takut ada capital loss gara-gara harga obligasi turun. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit,” ujar Purbaya.
Purbaya menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh beragam sentimen. Ia juga menapik adanya narasi yang mengaitkan pelemahan rupiah saat ini akan menyeret Indonesia ke situasi seperti krisis 1998.
Menurutnya, krisis 1998 lalu dipicu oleh kebijakan yang keliru dan diperparah oleh instabilitas sosial serta politik yang muncul setelah Indonesia lebih dulu mengalami resesi sejak pertengahan 1997.
Sementara itu, kondisi saat ini dinilai berbeda karena perekonomian nasional belum memasuki fase resesi dan masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. “Kita kan sekarang belum resesi, ekonomi masih tumbuh kencang,” kata Purbaya.



