Kisah Seorang Ibu Uighur Ungkap Sisi Gelap Kamp Penahanan Partai Komunis Tiongkok

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Seorang ibu etnis Uighur yang tinggal di Amerika Serikat baru-baru ini menerima wawancara dari Fox News di Washington dan menceritakan pengalaman tragisnya di kamp penahanan di Tiongkok. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak hanya ditahan, diinterogasi, dan disiksa, tetapi juga menyaksikan putranya yang baru lahir meninggal di pelukannya.

Mihrigul Tursun, 35 tahun, mengenang dalam wawancara tersebut bahwa sebelumnya ia belajar manajemen bisnis di Mesir, menikah, dan memiliki anak di sana. 

Pada Mei 2015, ia kembali ke Tiongkok untuk mengunjungi keluarga bersama bayi kembarnya yang baru berusia dua bulan. Namun begitu pesawat mendarat di bandara Beijing, polisi langsung membawanya pergi.

Ia mengatakan bahwa saat itu polisi memisahkannya secara paksa dari anak-anaknya dan terus menginterogasinya mengenai apakah ia pernah terlibat kegiatan politik selama berada di Mesir. Setelah itu, ia dipasangi penutup kepala hitam, diborgol, lalu dibawa ke tahanan di Xinjiang.

Tursun mengatakan bahwa selama masa penahanan, ia mengalami interogasi berkepanjangan dan perlakuan kasar. Beberapa minggu kemudian, pihak berwenang tiba-tiba memberitahunya bahwa salah satu anaknya dalam kondisi kritis. 

Saat ia dikawal polisi ke rumah sakit, ia melihat dua anaknya yang masih hidup dipasangi selang oksigen. Keesokan harinya, dokter menyerahkan sebuah “surat kematian” yang mencantumkan nama putranya.

Ia mengatakan tidak ada seorang pun yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya. Karena dirinya dianggap sebagai “tersangka politik”, dokter maupun polisi menolak memberikan jawaban.

Tursun mengenang bahwa ia membawa pulang jenazah anaknya dan tinggal bersamanya selama tiga hari. Sebagai Muslim, keluarga tersebut menginginkan pemakaman tradisional, tetapi pihak berwenang tidak mengizinkan orang luar untuk melihat jenazah tersebut.

Ia menahan air mata, berkata, “Saya terus berusaha menghangatkannya, tetapi ia tidak pernah membuka matanya lagi.”

Ia juga mengatakan bahwa antara tahun 2015 dan 2018, ia dipindahkan ke beberapa penjara dan fasilitas penahanan, di mana selama waktu itu ia menderita pelecehan psikologis, sengatan listrik, dan pengawasan yang berkepanjangan. Ia mengatakan bahwa suatu kali, ketika ia menyebutkan “Tuhan akan menghukummu,” para petugas mengejek imannya.

Ia juga menyebutkan bahwa lebih dari 60 wanita dijejalkan ke dalam sel-sel kecil di pusat penahanan, banyak diantaranya tidak pernah melihat sinar matahari, termasuk gadis-gadis di bawah umur. Ia mengenang seorang gadis berusia 17 tahun yang mengalami gangguan mental setelah dilecehkan secara seksual dan meninggal dua bulan kemudian.

Akhirnya, dengan campur tangan suaminya dan pemerintah Mesir, Tursun diizinkan meninggalkan Tiongkok. Kini, ia telah menetap di Amerika Serikat bersama anaknya yang masih hidup dan diberikan suaka pada tahun 2018.

Sejak tahun 2017, warga Uighur dan minoritas etnis Muslim lainnya di Xinjiang telah mengalami penganiayaan dari Partai Komunis Tiongkok dan ditempatkan di fasilitas mirip kamp konsentrasi di mana penyiksaan dan bentuk-bentuk pelecehan lainnya diyakini telah terjadi.

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Paljaya Hadirkan Berbagai Program CSR Bantu Warga Akses Sanitasi Layak
• 13 jam laludetik.com
thumb
Masuk Zulhijjah, Ini 6 Larangan bagi Orang yang Akan Berkurban
• 5 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Tim SAR Temukan Jasad Warga Kupang yang Tewas Diterkam Buaya di Sungai
• 42 menit lalukompas.tv
thumb
Polri tangkap dua pelaku dugaan penyekapan pria di Jakarta
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Bunda PAUD Jeneponto Buka Resmi Manasik Haji Cilik 2026, Diikuti Ribuan Anak Usia Dini
• 11 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.