TNI Angkatan Udara (AU) tengah mempersiapkan pilot untuk mengawaki jet tempur Rafale. Komandan Skadron Udara 12 Letkol Pnb Binggi “Rayden” Nobel mengatakan, TNI AU menargetkan melatih 12 pilot Rafale hingga akhir 2026 seiring percepatan program latihan dan kedatangan bertahap armada tempur asal Prancis tersebut.
Saat ini, TNI AU sudah punya 8 penerbang Rafale. Dari jumlah itu, empat pilot tengah menjalani program konversi untuk mengoperasikan jet tempur generasi 4,5 tersebut.
“Memang benar sekali dalam penyiapan alpalhankam kami yang baru ini, salah satu tantangan yang paling krusial yaitu sumber daya manusia. Saat ini kita dari yang sudah ada adalah memiliki delapan penerbang, yang di mana delapan ini, empat di antaranya sedang melaksanakan program konversi,” kata Rayden saat ditemui di Baseops Halim Perdanakusuma usai penyerahan alutsista baru TNI AU, Selasa (18/5).
Ia menjelaskan, TNI AU juga akan mendatangkan kelompok pilot berikutnya untuk menjalani pendidikan dan pelatihan lanjutan dalam waktu dekat. Menurut dia, proses pencetakan penerbang dilakukan secara linear sejalan dengan bertambahnya jumlah pesawat Rafale.
“Nanti bulan depan ataupun pada akhir bulan ini kita sudah kedatangan grup pilot berikutnya untuk melaksanakan pelatihan pendidikan berikutnya. Jadi memang kita sambil menyambung, sekali lagi penyiapan sumber daya manusia itu krusial, karena pesawat akan semakin berdatangan dan kita akan dituntut untuk siap melaksanakan operasi, sehingga pengawakan ini harus segera siap,” ujarnya.
Rayden mengatakan, transisi dari pesawat tempur sebelumnya seperti Hawk, F-16, maupun Sukhoi ke Rafale tidak menjadi hambatan besar bagi para penerbang. Meski ada perbedaan teknologi cukup jauh, TNI AU telah melakukan seleksi personel sebelum dikirim menjalani konversi.
“Saya kira tidak ada. Pengalaman kami pribadi, kami mengoperasikan pesawat tipe Hawk 100 dan 200 dari BAE Inggris, dan itu pun central column. Ketika kami melaksanakan konversi di sini, tentunya kita dikirim dengan melalui seleksi-seleksi tertentu. Pengalaman kami tidak memiliki kesulitan yang berarti, namun memang perlu proses, tapi kami yakin TNI AU sudah menyeleksi dan menyiapkan personel-personel yang mumpuni untuk melaksanakannya,” tutur dia.
Menurut Rayden proses pembelajaran dan adaptasi terus dilakukan agar kemampuan pesawat bisa dioptimalkan saat menjalankan operasi.
“Tentunya ada gap, dan ini sedang kita laksanakan untuk proses pembelajaran dan pemahaman terhadap teknologi yang ada, sehingga diharapkan objektif dari pimpinan ketika kita diminta melaksanakan misi ataupun operasi tertentu, kita mengoptimalkan kemampuan pesawat ini seoptimal mungkin, sehingga tidak lagi ada keragu-raguan di dalamnya,” kata dia.
Kloter Rafale Berikutnya Ditargetkan Datang Awal 2027Terkait kedatangan kloter Rafale berikutnya, Rayden memperkirakan tambahan pesawat akan tiba pada awal 2027. Namun, ia membuka kemungkinan percepatan jika memungkinkan.
“Kalau saya tidak salah ya, seharusnya mungkin ini dari Satgas Rafale yang lebih paham, setahu kami di tahun 2026 kita akan memiliki enam pesawat, dan terdekat mungkin jadwalnya awal tahun 2027 atau seandainya kita beruntung mungkin akhir tahun 2026 akan kedatangan kloter berikutnya,” katanya.
Di sisi lain, Rayden mengatakan pembangunan infrastruktur pendukung Rafale di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, masih terus berjalan seiring kedatangan bertahap armada.
Menurut dia, kebutuhan awal pengoperasian pesawat telah disiapkan, mulai dari fasilitas pemeliharaan hingga dukungan operasional harian. Pembangunan lanjutan juga tetap berlangsung sesuai jadwal.
“Untuk pengoperasian awal sudah disiapkan melalui kontrak yang ada, dengan infrastruktur yang ada, baik untuk pemeliharaan kemudian pengoperasian sehari-harinya, sehingga sambil berjalan tentunya bangfas (bangunan dan fasilitas) yang ada sesuai dengan kalender pembangunan yang ada tetap masih berjalan sesuai dengan jadwal,” ujar Rayden.
Nobel memastikan, 42 Rafale yang dipesan tak akan dipusatkan di Skadron Udara 12 saja. Jet ini akan disebar di sejumlah pangkalan strategis penjuru tanah air.
“Tidak, nanti dari total 42 kita akan sebarkan di beberapa pangkalan,” kata Rayden.





