Jakarta (ANTARA) - Bintang Oklahoma City Thunder Shai Gilgeous-Alexander mengatakan, fokus menjadi kunci yang membuat dirinya kembali berhasil meraih gelar Pemain Terbaik atau Most Valuable Player (MVP) NBA, setelah mendapatkannya pada musim 2024/2025.
Dikutip dari laman NBA di Jakarta, Senin, pebasket asal Kanada tersebut tercatat sebagai pemain ke-18 dalam sejarah NBA yang berhasil mengoleksi minimal dua trofi MVP, sekaligus menjadi pemain ke-14 yang mampu memenanginya secara berturut-turut (back-to-back).
"Saya mencoba menyingkirkan emosi saya dan tetap fokus pada apa yang ada di depan dan apa yang paling penting," kata Gilgeous-Alexander, yang memang dikenal selalu tenang dan menjaga ketajaman berpikirnya saat mengambil keputusan krusial di lapangan.
Baca juga: Shai Gilgeous-Alexander raih gelar MVP NBA selama dua musim beruntun
Baca juga: Cavaliers ke final Timur usai hancurkan Pistons 125-94
Pelatih Oklahoma City Thunder Mark Daigneault turut memberikan pujian dengan menyatakan bahwa karakter dasar dari sang pemain tidak pernah berubah, melainkan terus mengasah detail kemampuan dan kepemimpinannya seiring berjalannya waktu.
Keberhasilan guard andalan juara bertahan NBA tersebut sekaligus memperpanjang dominasi pemain internasional, yang kini telah memenangi gelar MVP NBA selama delapan musim beruntun sejak tahun 2019.
Tiga posisi teratas dalam pemungutan suara MVP musim ini kembali dikuasai seluruhnya oleh pemain luar Amerika Serikat secara lima tahun berturut-turut, dengan Nikola Jokic dari Denver Nuggets yang berkebangsaan Serbia, dan pemain San Antonio Spurs Victor Wembanyama sebagai finalis lainnya yang berasal dari Prancis.
Penghargaan tertinggi ini merupakan gelar individu kedua bagi Gilgeous-Alexander pada musim 2025/2026, setelah sebelumnya dia juga terpilih secara mutlak sebagai Clutch Player of the Year NBA.
Pemain yang mencetak rata-rata 31,1 poin per gim tersebut dijadwalkan menerima trofi MVP secara formal dari Komisioner NBA Adam Silver sebelum laga gim pertama Final Wilayah Barat melawan San Antonio Spurs dimulai.
Baca juga: Isaiah Thomas jadi pemandu bakat Boston Celtics
Baca juga: Connecticut Sun dijual ke Tilman Fertitta dan pindah markas ke Houston
Dikutip dari laman NBA di Jakarta, Senin, pebasket asal Kanada tersebut tercatat sebagai pemain ke-18 dalam sejarah NBA yang berhasil mengoleksi minimal dua trofi MVP, sekaligus menjadi pemain ke-14 yang mampu memenanginya secara berturut-turut (back-to-back).
"Saya mencoba menyingkirkan emosi saya dan tetap fokus pada apa yang ada di depan dan apa yang paling penting," kata Gilgeous-Alexander, yang memang dikenal selalu tenang dan menjaga ketajaman berpikirnya saat mengambil keputusan krusial di lapangan.
Baca juga: Shai Gilgeous-Alexander raih gelar MVP NBA selama dua musim beruntun
Baca juga: Cavaliers ke final Timur usai hancurkan Pistons 125-94
Pelatih Oklahoma City Thunder Mark Daigneault turut memberikan pujian dengan menyatakan bahwa karakter dasar dari sang pemain tidak pernah berubah, melainkan terus mengasah detail kemampuan dan kepemimpinannya seiring berjalannya waktu.
Keberhasilan guard andalan juara bertahan NBA tersebut sekaligus memperpanjang dominasi pemain internasional, yang kini telah memenangi gelar MVP NBA selama delapan musim beruntun sejak tahun 2019.
Tiga posisi teratas dalam pemungutan suara MVP musim ini kembali dikuasai seluruhnya oleh pemain luar Amerika Serikat secara lima tahun berturut-turut, dengan Nikola Jokic dari Denver Nuggets yang berkebangsaan Serbia, dan pemain San Antonio Spurs Victor Wembanyama sebagai finalis lainnya yang berasal dari Prancis.
Penghargaan tertinggi ini merupakan gelar individu kedua bagi Gilgeous-Alexander pada musim 2025/2026, setelah sebelumnya dia juga terpilih secara mutlak sebagai Clutch Player of the Year NBA.
Pemain yang mencetak rata-rata 31,1 poin per gim tersebut dijadwalkan menerima trofi MVP secara formal dari Komisioner NBA Adam Silver sebelum laga gim pertama Final Wilayah Barat melawan San Antonio Spurs dimulai.
Baca juga: Isaiah Thomas jadi pemandu bakat Boston Celtics
Baca juga: Connecticut Sun dijual ke Tilman Fertitta dan pindah markas ke Houston





