DPR Apresiasi Kebijakan Murur untuk Jemaah Haji Lansia dan Sakit

pantau.com
1 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Anggota Tim Pengawas Haji DPR RI, Netty Prasetiyani Heryawan mengapresiasi kebijakan murur bagi jemaah lansia dan sakit dalam pelaksanaan haji 2026.

Kebijakan tersebut dinilai mampu mengurangi risiko kelelahan fisik yang selama ini menjadi ancaman serius bagi jemaah rentan, khususnya lansia dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Pernyataan itu disampaikan Netty saat menghadiri pengawasan persiapan ibadah haji di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (18/5/2026).

Kebijakan Murur Dinilai Lindungi Jemaah Rentan

Murur merupakan skema pergerakan jemaah dari Arafah menuju Mina tanpa harus turun dan bermalam di Muzdalifah.

Skema tersebut diberikan khusus kepada jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu, termasuk jemaah lanjut usia dan yang sedang sakit.

Menurut Netty, kebijakan itu menunjukkan adanya upaya pemerintah menghadirkan penyelenggaraan haji yang lebih adaptif terhadap kondisi jemaah Indonesia yang mayoritas berusia lanjut.

"Dan kita juga mengapresiasi kalau kemudian ada kebijakan murur bagi jemaah haji lansia dan juga yang sedang sakit untuk tidak turun dan mabit atau bermalam di Muzdalifah," ungkapnya.

Netty menilai kebijakan murur menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi fisik jemaah saat memasuki fase puncak ibadah haji.

"Ini tentu saja menjadi salah satu kebijakan yang patut kita apresiasi karena kita ingin bahwa bukan hanya wukuf di Arafahnya, tapi juga pada saat jemaah haji menyempurnakan ibadahnya di Mina nanti," katanya.

DPR Minta Pengawasan Kesehatan Jemaah Diperkuat

Ia menjelaskan fase puncak ibadah haji merupakan tahapan paling berat karena jemaah harus menjalani aktivitas fisik tinggi di tengah cuaca panas ekstrem.

Menurut Netty, jika kondisi tersebut tidak diantisipasi dengan baik, kelelahan dapat memicu gangguan kesehatan serius bagi jemaah.

"Dengan cuaca yang cukup panas, menurut kabar 40 sampai 45 derajat, tentu pemerintah harus memberikan perhatian secara khusus kepada jemaah haji kita yang berusia lansia dan memiliki penyakit penyerta," ujarnya.

Karena itu, Netty meminta petugas kesehatan dan pendamping kloter aktif memantau kondisi jemaah, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta.

Ia menekankan pentingnya pengawasan terhadap konsumsi obat-obatan rutin, pola makan, serta waktu istirahat jemaah selama pelaksanaan ibadah haji.

"Petugas kesehatan ini juga harus memperhatikan bagaimana asupan gizi dan juga obat-obatan rutin yang harus dikonsumsi oleh jemaah haji, khususnya yang memiliki penyakit penyerta," katanya.

Netty menegaskan keberhasilan penyelenggaraan haji tidak hanya diukur dari kelancaran teknis perjalanan, tetapi juga dari kemampuan negara dalam melindungi kesehatan dan keselamatan jemaah.

"Kita ingin jemaah bisa menjalankan seluruh rukun haji dengan aman dan tetap dalam kondisi sehat," tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sahroni Ungkap Alasan Listyo Sigit Masih Dipertahankan Jadi Kapolri oleh Prabowo
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Iran Sebut AS Bakal Kembali Lakukan Kebohongan Untuk Justifikasi Lanjutkan Perang
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Pengadilan Korsel Batasi Rencana Mogok Karyawan Samsung yang Ancam Produksi Chip
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Muhammadiyah Games 2026 Resmi Dibuka, Enam Cabang Olahraga Siap Dipertandingkan 
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Medco (MEDC) Beroperasi 20 Tahun di Oman, Produksi 110 Juta Barel Minyak
• 2 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.