Setiap orang tua tentu ingin melihat buah hati tumbuh menjadi pribadi percaya diri dan berani menghadapi berbagai situasi. Sebab, sifat pemberani merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak di masa depan.
Dikutip dari laman Raising Children Network, anak yang percaya diri dan berani cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dengan perubahan, memiliki keterampilan sosial yang baik, serta mampu menghadapi rintangan. Mereka juga lebih termotivasi untuk mencoba dan mempelajari hal-hal baru.
Terlebih saat memasuki usia sekolah, anak akan bertemu lingkungan baru yang membutuhkan mental kuat untuk beradaptasi. Karena itu, nggak heran kalau banyak orang tua yang berupaya membangun karakter pemberani pada anak sejak dini, termasuk sejumlah teman kumparanMOM.
Ingin tahu seperti apa cara yang mereka lakukan untuk menumbuhkan sikap berani pada anak? Yuk, simak cerita lengkapnya di bawah ini!
Tips Melatih Keberanian AnakSalah satu member teman kumparanMOM Hebat Squads, Anita (35), berpendapat bahwa rasa berani menjadi karakter penting yang perlu dimiliki anak, terutama di tengah tantangan zaman sekarang.
Menurutnya, ada beberapa sikap yang perlu mulai ditanamkan sejak dini, antara lain:
Berani mempertahankan hak diri sendiri
Berani meminta maaf saat berbuat salah
Berani menerima kritik
Berani belajar memperbaiki diri
Mampu menurunkan ego
Bagi Mom Anita, berbagai sikap tersebut perlu diajarkan sejak dini karena nggak sedikit orang dewasa yang masih kesulitan melakukannya. Karena itu, ia ingin sang anak yang kini berusia 5 tahun bisa mulai belajar memahami arti keberanian.
Di sisi lain, teman kumparanMOM Hebat Squads Oktaviani Tarigan (34), punya pandangan yang lebih spesifik tentang keberanian yang perlu dimiliki anak.
Selain concern terhadap perkembangan sosialisasi sang anak, Mom Oktaviani juga selalu menekankan agar anaknya berani menyampaikan pendapat dan menolak hal-hal yang bertentangan dengan dirinya.
“Berani berkata tidak, berani mengungkapkan pendapat, berani bilang kalau ada sesuatu yang membuat nggak nyaman, berani pukul balik kalau ada anak yang pukul, asal jangan dia yang memulai,” katanya.
Menurut Mom Oktaviani, sikap-sikap tergas tersebut bisa menjadi bekal agar anak mampu menjaga diri, memahami batasan diri, dan siap menghadapi berbagai situasi di masa depan.
Dikutip dari laman Kids Health, anak yang diajarkan untuk menyampaikan rasa nggak nyaman cenderung lebih mampu menjaga diri, mengungkapkan perasaan, dan terhindar dari tekanan sosial yang nggak sehat.
Pandangan berbeda justru datang dari teman kumparanMOM Squad 3, Olga (31). Ia beranggapan bahwa menanamkan sikap berani pada anak bukanlah hal yang paling utama.
Sebab, ada banyak situasi yang sebenarnya belum seharusnya dihadapi sendiri oleh anak karena masih berada di luar kendali mereka. Bagi Mom Olga, keberanian tetap penting, tetapi anak juga harus tahu kapan perlu mencari bantuan dari orang dewasa di sekitarnya.
Di samping itu, ada kemampuan lain yang menurutnya jauh lebih penting untuk ditanamkan sejak kecil. “Kemampuan membedakan kapan waktunya harus berani dan kapan saatnya mundur karena risikonya lebih tinggi. Itu menurutku lebih penting,” tuturnya.
Dalam hal ini, menurutnya peran orang tua maupun orang dewasa di sekitar anak, seperti guru, sangat penting untuk menjadi safe space bagi mereka. Dengan begitu, anak akan merasa lebih aman untuk bercerita, meminta bantuan, dan menghadapi berbagai situasi tanpa merasa sendirian.
Temukan beragam inspirasi parenting dari ribuan ibu di seluruh Indonesia, gabung komunitas teman kumparanMOM di kum.pr/mom4





