JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan atau kembali terjerembab pada perdagangan awal pekan, Senin (18/5/2026). Kinerja pasar saham diperberat oleh aksi penyesuaian bobot indeks global yang mendorong dana asing keluar. Otoritas bursa tetap akan berinovasi untuk menarik minat investor dalam dan luar negeri aktif di pasar saham RI.
Pada penutupan perdagangan Senin, IHSG terkoreksi tajam hampir 2 persen lebih ke level 6.599. Sepanjang hari, indeks bergerak fluktuatif dan sempat menyentuh level terendahnya di posisi 6.398, dengan hampir 700 saham berakhir di zona merah.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik, kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia, di Jakarta, menyatakan, pergerakan pasar hari ini sejatinya merupakan akumulasi dari sentimen global selama libur panjang akhir pekan lalu di dalam negeri.
Pada saat pasar domestik libur hari Kamis dan Jumat, pasar saham regional Asia dan negara di kawasan lain sudah lebih dulu mengalami koreksi. Hal ini dipengaruhi tekanan global yang berkaitan dengan masih tingginya harga minyak mentah dunia. "Koreksi hari ini masih sejalan dengan pergerakan pasar global," katanya.
Namun, ia tidak menampik bahwa pelemahan kinerja IHSG masih terkait keputusan penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell pada pekan lalu. Ia menilai, efek ini adalah sesuatu yang wajar dan sudah diantisipasi oleh pasar demi penyehatan pasar modal.
Terbaru, pengumuman lembaga penyedia indeks saham global, baik MSCI maupun FTSE, memutuskan mengeluarkan saham-saham Indonesia dalam indeksnya yang tercatat memiliki saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi pada kelompok tertentu.
Selain itu, penilaian free float atau saham publik yang kini jadi bagian reformasi pasar modal juga jadi pertimbangan evaluasi indeks rutin mereka untuk pertengahan tahun ini.
Di tengah dinamisnya pasar, BEI mengimbau investor ritel untuk tidak panik, tetap mencermati fundamental emiten, serta mengatur strategi investasi yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
Di sisi lain, Jeffrey menekankan bahwa otoritas bursa terus berupaya memperdalam pasar saham demi meredam volatilitas jangka panjang. Pendalaman tidak hanya menambah investor pasar saham yang kini tercatat mencapai 9,7 juta pemilik Single Investor Identification (SID) dari total 27 juta SID. Dari jumlah tersebut, keaktifan investor bulanan saat ini masih berada di atas 1 juta SID.
”Upaya serius yang kami lakukan sekarang adalah untuk perbaikan jangka panjang. Kami juga terus menyiapkan produk baru, seperti ETF emas serta perluasan produk derivatif yang saat ini regulasinya sedang dirumuskan setelah melalui diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan para pelaku pasar," kata Jeffrey menambahkan.
Kendati demikian, dalam jangka pendek, para analis menilai, tekanan di pasar saham belum sepenuhnya mereda. Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengungkapkan, posisi dasar dari pelemahan IHSG saat ini belum terkonfirmasi.
Pasar masih dibayangi oleh sejumlah faktor ketidakpastian (overhang), seperti fluktuasi nilai tukar rupiah, arah suku bunga acuan Bank Indonesia, dan tenggat efektif rebalancing MSCI pada 29 Mei mendatang.
Menurut Wafi, total keluarnya dana asing atau outflow dari rebalancing ini diestimasikan bisa mencapai sekitar Rp 10 triliun. KISI memproyeksikan IHSG pada pekan ini akan bergerak pada rentang 6.400 hingga 6.700.
"Efek MSCI ini signifikan dan belum selesai. Tekanan arus keluar terbesar diperkirakan akan berkonsentrasi pada tiga hingga lima hari sebelum tanggal efektif 29 Mei," katanya.
Dalam jangka pendek, Wafi menyarankan investor untuk menghindari strategi membeli di harga bawah secara bertahap (average down) pada saham-saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI hingga akhir bulan.
Hari ini, sejumlah saham yang tercatat mengalami tekanan outflow atau penjualan oleh investor asing terbesar, antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Efeknya, saham CUAN misalnya, sepanjang perdagangan hari ini mengalami penurunan harga sampai 11 persen dan 36 persen dalam sepekan terakhir.
"Untuk sementara, fokus pada saham-saham defensif atau emiten dengan pendapatan berbasis dolar AS sebagai lindung nilai alami (natural hedge) terhadap pelemahan rupiah," jelasnya.
Secara teknis, proyeksi pergerakan indeks diperkirakan masih akan mengalami tekanan konstan. Pengamat Pasar Modal, Martin Aditya menilai, indeks memiliki potensi untuk menguji level psikologis baru di rentang 6.000 hingga 6.100 pada akhir bulan ini, tepat saat eksekusi final pembobotan ulang MSCI bergulir.
"Penurunan saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh penyesuaian teknis pasca-pengumuman MSCI dan FTSE, ditambah kekhawatiran pelaku pasar terkait kepastian beberapa kebijakan fiskal serta defisit APBN. Namun, secara keseluruhan fundamental ekonomi domestik masih berada di jalur yang tepat," kata Martin.
Di sisi lain, gejolak tidak hanya terjadi di pasar ekuitas. Pasar obligasi dalam negeri juga mencatat volatilitas seiring dengan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun.
Lonjakan pada imbal hasil obligasi AS dipicu oleh kekhawatiran inflasi global akibat kenaikan harga komoditas imbas eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini mempersempit jarak antara obligasi AS dan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.
Meski demikian, Martin melihat tekanan di pasar obligasi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda seiring melandainya arus modal keluar di pasar pendapatan tetap.
"Rencana pemerintah untuk mengaktifkan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) merupakan langkah positif untuk menjaga stabilitas, serupa dengan efektivitas instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang dirilis BI sebelumnya untuk menahan modal asing tetap tinggal," ujarnya.





